Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto Andika/Nusantaranews
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto Andika/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menegaskan isu penarikan uang besar-besaran dari bank (rush money) yang disebarkan melalui media sosial merupakan aksi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut dia, jika itu dilakukan justru akan mengganggu kestabilan ekonomi Indonesia, yang secara langsung akan berdampak langsung ke masyarakat itu sendiri. Dia pun meminta kepada masyarakat untuk tidak terhasut.

“Masyarakat kan tahu bahwa apa perbankan dan uang yang ada di bank itu aman. Buat mereka untuk menjaga seluruh uangnya mereka sendiri maka tindakan yang bisa merusak perbankan itu sebenarnya akan merusak kepentingan masyarakat sendiri,” ujar Sri Mulyani di gedung BNN Pusat, Cawang, Jakarta, Jumat (18/11/2016).

Dijelaskan Sri Mulyani, eksistensi perbankan dalam menjaga kestabilan sektor keuangan menjadi sangat penting. Dengan sektor keuangan yang stabil, hal ini bisa menjadi modal untuk menciptakan lapangan kerja dalam suatu negara.

Adapun dengan adanya lapangan kerja yang terus bertambah, hal ini akan mengurangi angka kemiskinan. Untuk itu, aksi rush money yang disebarluaskan tersebut justru akan merusak ekonomi negara itu sendiri.

“Kalau merusak, pasti yang akan terkena dan menderita dulu adalah masyarakat paling kecil dan masyarakat miskin. Oleh karena itu, hati-hati dalam melakukan tindakan yang bisa saja melukai dan mempengaruhi kepentingan masyarakat sendiri,” jelas dia.

Sebagai bagian dari pemerintah, Sri Mulyani justru membuka pintu lebar-lebar kepada masyarakat yang ingin memberikan saran dan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Hal yang disayangkan, bukannya justru menyebarkan isu-isu yang tidak berdasar tersebut.

Secara garis besar, pandangan mantan Direktur World Bank ini tentunya punya alasan yang kuat. Bahwa gerakan rush money memang bertujuan untuk membuat goyah perekonomian Indonesia yang kini dipimpin Joko Widodo. Ujung-ujungnya, ‘Perkara Politik.’ (Andika)

Komentar