Beberapa Cover Novel
Beberapa Cover Novel "1984" karya Goerge Orwell dari masa ke masa/Ilustrasi: NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Novel “1984” karya Goerge Orwell merupakan sebuah gambaran distopia yang terbit pertama kali tahun 1949. Bersetting tempat di Airstrip One (Atau dulu dikenal dengan Britania Raya), novel ini menjadi semacam ramalan atas apa yang akan terjadi di masa depan. Pada masa itu, kehidupan warga Inggris, tempat novel ini ditulis, sedang sesak dengan Partai Buruh yang berkuasa.

Ditambah lagi, bayang-bayang Nazi Jerman dan Cina yang sangat mencekam sebagai imbas dari Perang Dunia. Maka, terbitnya novel ini menimbulkan semacam kengerian dan peringatan. Semakin mendekati tahun 1984, semakin besar pula ketegangan dan kekhawatiran masyarakat.

Dan pendek kata, novel “1984” yang berkisah tentang masa depan distopia di bawah rezim otoriter tersebut kembali bersinar sebagai buku terlaris dan sedang dicetak ulang beberapa dasawarsa setelah ditulis.

Menariknya, kemunculan kembali buku itu bertepatan dengan saat para pembaca mencoba memahami penjelasan pemerintahan Presiden AS Donald Trump tentang “fakta alternatif.”

Dalam pemberitaan disebutkan, penjualan novel itu melonjak setelah seorang pejabat senior Gedung Putih, Kellyanne Conway, menggunakan istilah “fakta alternatif” di acara NBC “Meet the Press”, hari Minggu lalu, dalam sebuah diskusi tentang jumlah kerumunan massa di pelantikan Trump.

Cekup mengejutkan memang, sebab beberapa komentator mengecam komentarnya sebagai “Orwellian.” Akan tetapi, esok harinya, Senin, novel karya penulis Inggris itu masuk dalam daftar 10 buku terlaris Amazon yang diperbarui setiap jam. Bahkan dua hari setelah itu, Rabu, buku “1948” menduduki puncak daftar penjualan teratas.

Signet Classics melaporkan bahwa, untuk menanggapi minat baru itu, penerbitnya pun memerintahkan pencetakan ulang 75 ribu buku pekan ini.

Di tengah kritik luas atas istilah iru, bahkan Merriam-Webster menimpali untuk menantang mantan manajer kampanye Trump itu.

“Fakta adalah bagian dari informasi yang disajikan karena memiliki realitas objektif,” kicau penerbit kamus itu diakunnya.

Komentar