Songsong Bulan Suci, Persit Kodim 0804 Magetan Gelar Megengan. Foto: tsr 0804
Songsong Bulan Suci, Persit Kodim 0804 Magetan Gelar Megengan. Foto: tsr 0804

NUSANTARANEWS.CO, Magetan – Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan Ramadhan. Megengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya menahan. Ini merupakan suatu peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa tersebut.

Adapun kegiatannya sangat bermacam-macam sesuai dengan adat daerah setempat. Akan tetapi, umumnya masyarakat Jawa biasanya berbondong-bondong untuk berziarah kubur, membersihkannya serta menaburi bunga di atasnya. Setelah berdoa baik dengan baca Yasin maupun tahlil, kemudian Masak besar untuk dibagikan kepada sanak famili.

Malam harinya mengadakan selamatan atau kenduri dengan mengundang para tetangga untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal. Ada juga yang selamatan atau kendurinya diadakan bersama-sama oleh seluruh warga setempat di langgar/mushola.

Seiring berjalannya waktu tradisi megengan sendiri sudah mulai sedikit ditinggalkan. Mungkin tidak bagi masyarakat desa. Karena tradisi ini masih sangat kental, melekat dan masih dianggap sakral. Namun, jika menengok masyarakat kota mungkin sudah banyak yang meninggalkan tradisi para leluhurnya ini karena berbagai alasan salah satunya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Yang harus difahami terlebih dahulu, megengan berada dalam ranah sosial-kultural (kemasyarakatan dan ke budayaan) yang mengacu pada aspek kemaslahatan dan tidak bisa dilabeli dengan istilah bid’ah. Orang sedekah dengan membawa ambeng (beragam jenis makanan) itu jelas baik dan bermanfaat bagi yang masih hidup, dan do’a-do’a sangat bermanfaat bagi yang sudah meninggal dunia. Jadi megengan tidak hanya bermanfaat bagi yang masih hidup tapi juga bermanfaat bagi yang sudah meninggal dunia.

Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1438 H, bulan yang penuh berkah selain berziarah ke makam keluarga tradisi rutin yang digelar oleh persit Kodim 0804 Dan anggota TNI Kodim 0804 adalah melaksanakan selamatan megengan di Masjid At-taqwa Kodim 0804 Jl Panglima Sudirman n0 42 Magetan. Sama dengan tradisi nyekar tujuannya adalah mendoakan keluarga yang sudah meninggal agar di beri ketenangan.
Intinya megengan juga bentuk mendoakan keluarga dan nenek moyang yang sudah meninggal dunia. Sebelum dibagikan nasi kotak/kue dalam bahasa Masyarakat magetan menyebutnya Berkat sebagai pelengkap doa bersama untuk keluarga yang sudah meninggal atau nenek moyang yang dipimpin oleh Serda M Tasir.

“Dalam selamatan megengan itu, selain melantunkan ayat ayat suci Alquran juga menukarkan berkat yang dibawa masing masing personel. Tujuannya megengan adalah bersyukur atas berkah menyambut bulan suci Ramadhan dan mohon lindungan Alloh SWT agar lancar dalam menjalankan ibadah puasa, semua urusan keluarga, mendokan para arwah leluhur kita, selamat dalam menjalankan tugas bangsa dan negara,” ujar Serda M tasir selaku Bintal Kodim 0804.

Menurut Serda M tasir, Tradisi ini adalah warisan leluhur yang sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan. didalamnya mengandung nilai-nilai yang sungguh sangat luar biasa seperti cara berhubungan baik antara manusia dengan manusia, manusia dangan alam ghaib serta manusia dangan tuhannya.

“Islam Jawa memang memiliki banyak tradisi yang khas dalam implementasi Islam, tradisi megengan ini sungguh merupakan salah satu tradisi khas yang tidak dimiliki oleh Islam di tempat lain,” katanya.

Megengan, lanjut dia, sebagai sebuah perayaan dan rasa antusias dalam menyambut bulan yang penuh barokah, bulan yang ditunggu-tunggu dan bulan yang didalamnya terdapat malam “lailatul qodar” yaitu satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an yang berbunyi “Lailatul Qodri khoirun min alfi sahr” yang artinya satu malam lailatul qodar lebih baik dari pada seribu bulan, Semoga tradisi megengan masih dilakukan saat menjelang bulan suci Ramadhan yang akan datang di kodim 0804. (tsr 0804)

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar