Ilustrasi Tolak impor pangan/Foto: Istimewa
Ilustrasi Tolak impor pangan/Foto: Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyuono menyatakan bahwa, Indonesia masih ketergantungan mengimpor 29 jenis sembako dari berbagai negara sepanjang Januari-Oktober 2016. Total nilai impor sembako Indonesia mencapai US$ 8,53 miliar dalam kurun waktu 10 bulan.

“Ini dia hasil kinerja JoKo Widodo yang berhasil mencetak rekor Pangan hingga 8,53 Milyar US Dollar atau 115,16 Trilyun Rupiah ini sama artinya pemerintah Joko Widodo gagal dalam menjalankan Trisakti dan nawacita dalam bidang ketahanan pangan dan kedaulatan pangan,” kata Arief dalam keterangan tertulis yang diterima nusantaranews, Minggu (8/1/2017)

Menurut Arief, dengan nilai impor pangan 115,16 Trilyun rupiah artinya Presiden Joko Widodo sudah membuka lapangan kerja untuk 921200 bagi masyakat luar negeri pengekspor pangan ke Indonesia. Jika mengunakan hitungan disektor pertanian dan perkebunan setiap nilai investasi sebesar 50 Trilyun rupiah akan berdampak pada pembukaan lapangan kerja baru sebanyak 400 ribu tenaga kerja

“Tentu saja dua tahun pemerintahan Joko Widodo gagal dalam menciptakan nilai tambah Ekonomi disektor pertanian dan Perkebunan terhadap para petani,” ujarnya.

Dan tingginya impor pangan, lanjut Arief, tidak lepas dari kinerja buruk para menteri Joko Widodo yang bertanggung jawab terhadap sektor tersebut seperti menteri PUPR yang seharusnya bisa memperbaiki kinerja produk pertanian dengan melakukan revitasisasi infrastruktur sarana dan prasarana untuk pertanian dan perkebunan agar produknya bisa lebih meningkat, ternyata semua tidak dilakukan dengan baik, seperti perbaikan sarana irigasi, aliran sungai dan waduk waduk yang mulai dangkal

“Patut diduga Ada banyak mafia di PUPR yang bermain dalam melakukan revitasisasi sarana perairan untuk mendukung sektor pertanian dan perkebunan,” kata Arief.

Contoh paling gampang, kata dia, adalah banyak daerah aliran Sungai yang saat musim hujan meluap dan merusak tanaman pangan serta saat masa kemarau waduk waduk airnya menyusut sehingga banyak tanaman pangan mati

“Akibat dari hancurnya Ekonomi sektor pertanian dan perkebunan maka banyak petani dan keluarga petani menganggur dan hidup dibawah garis kemiskinan dan kemudian mengadu nasib di kota sebagai Buruh kasar, sayang di kota pun banyak posisi buruh kasar yang sudah ditempati boleh TKA dari China,” ungkapnya.

Arief juga menyampaikan, akibat Ekspor pangan yang Tinggi yang kontrol Karantina nya sangat lemah maka dalam dua tahun banyak masyarakat terserang penyakit degenerative.

“Nah, selain itu akibat serbuan impor pangan juga telah menurunkan PDB nasional sektor pertanian¬† sehingga berpengaruh pada menurunnya pendapatan perkapita masyarakat Indonesia dalam dua tahun hingga 400 US dollar,” imbuhnya.

Karena itu, lanjutnya, di tahun 2017, jika target Joko Widodo ingin cepat tercapai dalam ketahanan pangan dan swasembada pangan dan menurunkan import pangan tidak ada cara lain yaitu dengan mencopot menteri PUPR, berantas mafia gas agar gas murah dan harga pupuk jadi murah, subsidi Pajak PBB untuk lahan lahan pertanian dan perkebunan.

“Jika tidak maka wasalam saja Joko Widodo dalam bidang ketahanan pangan,” tandas Arief tegas.

Adapun 29 komoditas yang rajin diimpor Indonesia periode Januari-Oktober 2016 dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) ialah sebagai berikut:

1. Beras sebesar US$ 480,33 juta
2. Jagung sebesar US$ 179,52 juta
3. Kedelai sebesar US$ 816,78 juta
4. Biji gandum atau mesin sebesar US$ 2,07 miliar
5. Tepung terigu sebesar US$ 39,31 juta
6. Gula pasir sebesar US$ 69,88 juta
7. Gula tebu sebesar US$ 1,55 miliar
8. Daging jenis lembu sebesar US$ 363,56 juta
9. Jenis lembu sebesar US$ 444,66 juta
10. Garam sebesar US$ 65,71 juta
11. Mentega sebesar US$ 72,69 juta
12. Minyak goreng sebesar US$ 24,76 juta
13. Susu sebesar US$ 368,05 juta
14. Bawang merah sebesar US$ 1,16 juta
15. Bawang putih sebesar US$ 355,52 juta
16. Kelapa sebesar US$ 894,23 ribu
17. Kelapa sawit sebesar US$ 1,08 juta
18. Lada sebesar US$ 23,27 juta
19. Kentang sebesar US$ 14,28 juta
20. Teh sebesar US$ 26,24 juta
21. Kopi sebesar US$ 46,21 juta
22. Cengkeh sebesar US$ 60,68 juta
23. Kakao sebesar US$ 144,74 juta
24. Cabai segar nihil
25. Cabai kering tumbuh sebesar US$ 30,79 juta
26. Cabai awet sementara sebesar US$ 1,23 juta
27. Tembakau sebesar US$ 368,41 juta
28. Singkong sebesar US$ 2,26 juta
29. Telur unggas sebesar US$ 12,13 juta.

(sule/red-02)

Komentar