Soekarno dan Soeharto tampak sedang merokok bersama/Foto Istimewa/Nusantaranews
Soekarno dan Soeharto tampak sedang merokok bersama/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Ada hal yang menarik yang tidak bisa dilepaskan dari sosok pejuang proklamator Soekarno dalam pergaulan. Sebagai seorang pemimpin yang terkenal tegas, dan berkarisma, Soekarno dalam pergaulannya setiap hari tidak lepas dari yang namanya rokok. Rokok telah menjadi bagian terpenting dalam diri Soekarno selama ia beragaul dengan banyak orang.

Rokok dalam aktifitas pergaulan Soekarno tidak hanya sebatas saat ia bersama kawan-kawan di pergerakan nasional maupun saat ia bergumul dengan rakyat jelata. Lebih dari itu, rokok telah menjadi teman Soekarno manakala ia melakukan kunjungan ke luar negeri. Bahkan rokok telah menjadi citra dalam diri Soekarno di depan para pemimpin dunia. Dengan kata lain, perangkat yang melekat kuat dalam keseharian Soekarno selain baju seragam, kopiah hitam dan tongkat kecilnya, rokok adalah instrumen penting salah satunya.

Soekarno sering melakukan pendekatan diplomasinya dengan pemimpin-pemimpin dunia menggunakan rokok. Ada banyak cerita yang bisa ia sampaikan tentang kenikmatan rokok Indonesia, mulai kualitas tembakau yang dimiliki Indonesia, sampai cengkeh yang menjadi bumbu dari racikan rokok khas Indonesia. Dengan bangga Soekarno menceritakaan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.

Tak jarang para pemimpin-pemimpin dunia seperti Jawaharlal Nehru dari India, Fidel Castro dari Kuba, bahkan John F Kennedy dari Amerika Serikat memesan secara khusus kepada Soekarno untuk dibawakan rokok Indonesia. Rokok menjadi representasi jalinan keakraban Soekarno dengan rekan-rekan politiknya.

Bagi Soekarno merokok adalah ideologi. Karena Soekarno paham betul bahwa komoditi tembakau Indonesia merupakan komoditi yang menjanjikan yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Meskipun  ada tembakau virginia dari Amerika Serikat secara kualitas masih jauh dengan kualitas tembakau Indonesia.

Dan benar, tembakau menjadi salah satu kebutuhan dunia yang menjanjikan saat itu. Tanaman ini seringkali disebut sebagai emas hijau karena nilai jualnya tinggi di masa pendudukan Hindia-Belanda. Tak mengherankan jika Belanda melakukan penanaman komoditas tembakau secara besar-besaran pada tahun 1830.

Tembakau Sebagai Komiditi Unggulan

Penanaman tembakau besar-besar melalui gerakan tanam paksa Belanda ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa yang saat itu sedang meningkat tajam. Hampir seluruh masyarakat Eropa menggunakan tembakau Indonesia. Akhirnya, untuk menyiasati permintaan tembakau yang meningkat tajam, pemerintah Belanda mengenalkan tembakau jenis Virginia. Namun tembakau jenis ini gagal ditanam di Indonesia, karena kondisi lahan dan sistem pengairan kurang baik.

Baru pada era kepemimpinan Raffles kesuksesan budidaya tembakau di Indonesia mulai dapat dirasakan. Bahkan tembakau menjadi hasil dari pertanian terbesar kedua setelah padi.

Pada awal abad 20, perdagangan tembakau mulai diambil alih oleh orang-orang Cina. Jelang runtuhnya Hindia-Belanda, luas ladang tembakau semakin besar. Hal ini menunjukkan bagaimana tembakau menempati posisi strategis sebagai tanaman yang banyak dicari orang.

Telepas dari hal itu, Soekarno pada dasarnya ialah protet pemimpin Republik Indonesia yang sangat gandrung dengan rokok. Beberapa kali ia mencoba tembakau dari negara-negara lain, seperti Amerika maupun Kuba, namun tetap saja Soekarno menilai hanya tembakau Indonesia yang tak ada duanya.

Dalam beberapa kesempatan presiden pertama Indonesia ini terekam sedang sedang merokok dengan tokoh-tokoh penting dunia. Hal ini menunjukkan bahwa pergaulan Soekarno dan rokok menjadi hal yang tak bisa dilepaskan, bahkan saat di forum PBB, sekalipun.

Editor: Romandhon

Komentar