Berita Utama

Soal Erwinia chrysanthem, Dosen UNHAN: Serangan Bioterorisme Cina ke Indonesia

Direktur Eksekutif CISS, M. Dahrin Laode/Foto: via suaraas.com
osen Damai dan Resolusi Konflik (DRK) Universitas Pertahanan (Unhan) M. Dahrin La Ode,/Foto: Dok. Suara

NUSANTARANEWS.CO – Terorisme Biologi atau yang dikenal dengan Bioterorisme nampaknya mulai masuk ke Indonesia. Seperti yang terjadi di kawasan Desa Sukadamai, Kabupaten Bogor baru-baru ini. Dimana terdapat 4 WN Cina yang melakukan tanam ilegal bibit cabai, bawang dan sawi yang mengandung bakteri berbahaya, yakni Erwinia chrysanthem.

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Antarjo Dikin mengatakan, ribuan batang cabai ilegal tersebut disita dari kawasan Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Bogor, Jawa Barat. “Bakteri tersebut dimasukkan secara sengaja oleh empat WNA ke tanaman cabai, dengan tujuan untuk merusak atau menggagalkan produksi pertanian di Indonesia hingga mencapai 70 persen,” katanya di Instalasi Karantina Bandara Soekarnp Hatta, pada Kamis (8/12/2016).

Baca : BBKP Musnahkan Bibit Sayuran Berbahaya Yang Ditanam Warga Cina di Bogor

“Kalau saya bilang ini imigrasi kebobolan. Seharusnya kalau sudah lewat masanya (habis masa liburannya) kok belum balik ya dicari-cari dong,” sambung Antarjo usai memusnakan bibit beracun itu. (Baca : Kegiatan Berbahaya WNA Cina, PKTKHN Sebut Kantor Imigrasi Kecolongan)

Menganggapi hal tersebut, Dosen Dosen Damai dan Resolusi Konflik (DRK) Universitas Pertahanan (Unhan) M. Dahrin La Ode, menilai bahwa kasus itu bukan hanya masalah imigrasi saja. “Sebab, jika hanya masalah imigrasi, itu hanya masalah penyalahgunaan visa. Visa wisata menjadi petani. Penindakannya disitu saja,” terang Dahrin kepada Nusantaranews.co saat dihubungi baru-baru ini.

Padahal, lanjut Dahrin, sesunggungnya masalahnya lebih luas. Pertama, katanya, itu serangan senjata biologis dari Cina kepada Indonesia melalui pertanian.

Lihat: 4 WNA China Ditangkap, DPR: Pemerintah Harus Perketat Pengawasan
Dosen UNHAN Sebut Kedaulatan Berlaku Diskriminatif Terhadap Negara Lain

“Itu hancur semua pertanian cabe kita di seluruh Indonesia. Lalu, pada akhirnya Indonesia akan impor cabe dari Cina. Begitulah kira-kira sederhananya. Disamping itu, jenis-jenis tanaman lain yang tidak cocok dengan bakteri itu akan terganggu pertumbuhannya,” kata Dahrin.

Masalah yang kedua, itu adalah bentuk subversif yakni subversif ekonomi. “Itu pasti di belakannya negara Cina. Karena tidak mungkin, 4 orang yang ditangkap seberani itu ya. Di belakang Cina (WN Cina) itu pasti intelejen yakni MSS (Ministry of State Security/MSS Cina). Pasti itu. Mereka biasa melakukan operasi di seluruh dunia. Contohnya di Angola, Zimbabwe, dan Tibet. Itu hasil kerja MSS Cina dan The Military Intelligence Departement (MID/Departemen Intelijen Militer),” paparnya.

Ketiga, sambung Dahrin, teror biologi atau terorisme biologi yang dikenal dengan Bioterisme. (Lihat : Diduga Bio Terorism, Kementan Temukan Benih Cabai Berbakteri)

“Itu nanti semuanya ketakutan. Ketakutan tanaman mereka kena serang hama atau bakteri yang disebarkan oleh 4 orang Cina itu. Kemudian takut memakan sayur mayur, misalnya. Kerena sudah terkooptasi atau terkontaminasi dengan bakteri dan sebagainya,” ujarnya.

Masalah keempat, kata Direktur Eksekutif CISS (Center Institute of Strategic Studies) itu ialah pidana umum. Karena itu, ia meminta supaya Polisi tidak menganggapnya biasa-biasa saja alias Polisi harus bertindak.

Kelima, tambahnya, ada Undang-undang pertanian yang harus diperhatikan. “Mereka orang asing kok datang bertani di Indonesia tanpa izin. Itu petani ilegal namanya. Mending kalau hasil pertanian mereka itu untuk mensejahterakan, ini kan untuk mematikan,” ujarnya lagi. (Baca : HKTI: Benih Cabai Berbakteri dari China Ancam Kepentingan Nasional)

“Kelima poin itu yang harus disampaikan ke publik di republik Indonesia. Supaya mengetahui benar bahwa, Cina ini antara baik dan buruk berbaur menjadi satu dikira kebaikan bagi orang Indonesia, khususnya pemerintah. Ini kritik berat saya terhadap pemerintah,” kata Dahrin tegas.

Lihat: HKTI: Pemerintah Harus Serius Tangani Kasus Benih Berbakteri

Sekedar informasi, ancaman Bioterorisme merupakan terorisme yang melibatkan pelepasan atau penyebaran “agen biologis” secara sengaja. Agen yang dimaksud disini adalah bakteri, virus atau racun alami, dan juga dalam bentuk yang telah dimodifikasi oleh manusia (human-modified form). Metode ini biasanya digunakan dalam peperangan (biological warfare). Namun meskipun kasus bioterorisme masih jarang terjadi, Indonesia harus meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan untuk menghadapinya! (Sulaiman)

Komentar

To Top