Connect
To Top

Situasi Borderless dan Tanda-Tanda Globalisasi Gelombang III

NUSANTARANEWS.CO – Sebagaimana diketahui globalisasi yang diakibatkan oleh pasar bebas telah menciptakan situasi baru bernama situasi borderless. Sebuah situasi yang telah menciptakan ancaman serius dalam tatananan dunia baru antar bangsa. Dimana tak ada lagi sekat pembatas antar negara-bangsa (dunia dilipat).

Gonjang-ganjing krisis global dan melemahnya fungsi negara dewasa ini tak lain adalah akibat dari globalisasi pasar bebas dan kemajuan teknologi informasi yang menciptakan situasi tanpa batas. Ditandai dengan robohnya pondasi, tiang, dinding dan tembok yang menjadi sekat antar negara. Saat itulah globalisasi gelombang kedua mengalami keruntuhan.

Proses ini akan terus mewabah dan massif menjangkiti semua sektor kehidupan hingga memasuki tata dunia baru bernama globalisasi gelombang ketiga. Dalam hal ini, mantan Menteri Koperasi era Presiden BJ Habibie, Adi Sasono (2008) menjelaskan bahwa globalisasi gelombang ketiga ditandai dengan berkembangnya masyarakat informasi yang memaksa manusia mempertanyakan kembali hampir semua aspek kehidupan.

Menurut Adi Sasono ada beberapa faktor mengapa globalisasi gelombang ketiga ini muncul. Beberapa hal yang menjadi pemicu globalisasi gelombang ketiga ini lahir antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, terjadinya keterbatasan bahan bakar fosil, sehingga manusia harus kembali kepada sumber energi baru terbarukan (energy renewable) dan gerakan mengurangi penggunaan karbon. Kelangkaan sumber energi masa depan memungkin bangsa-negara membuat grand energy security demi menjaga ketahanan energi di masa depan. Tanda-tanda ini semakin kuat ketika beberapa negara sepeti Amerika, Perancis, Inggris, Jerman dan China kini sedang menggenjot sektor energi baru terbarukan (EBT).

Kedua, munculkan teknologi komunikasi dan informasi yang memungkinkan banyak manusia untuk melihat keterkaitan berbagai fenomena yang saling memengaruhi dalam cakupan yang lebih dalam dan luar secara sinergis dan serasi. Kondisi ini membuat negara-bangsa tak lagi bisa menyimpan rahasianya. Sebuah informasi dari belahan dunia dalam hitungan detik mampu menyebar ke seluruh negara. Hal ini kemudian mendorong terjadinya proses produksi yang cenderung menjauhi gaya produksi lama. Pada akhirnya mengantarkan pada proteksionisme atau kebijakan ekonomi yang anti-globalisasi. Kebijakan ini terus berkibar di Eropa, diantaranya di Inggris, Perancis, Belanda dan Jerman.

Ketiga, lahirnya wabah de-urbanisasi yang menempatkan desa-desa sebagai kantung-kantung peradaban di masa depan. Dimana kota mulai tidak lagi minati sebagai lokus ekonomi. Sebaliknya kota perlahan ditinggalkan dan hanya dijadikan simbol pusat administrasi. Sementara desa akan menjadi epicentrum dari pusat kebudayaan termasuk ekonomi.

Inilah tanda-tanda masuknya era baru bernama globalisasi gelombang ketiga dan berakhirnya globalisasi gelombang kedua. Alvin Toffler pernah menyebutkan bahwa globalisasi gelombang kedua yang ditandai dengan lahirnya masyarakat industri telah melahirkan karakter manusia yang ‘ekonomis’ dan rakus. Dengan kata lain, globalisasi gelombang kedua ini identik dengan kebudayaan produk massa, pendidikan massa, komunikasi massa, budaya teknologi yang tumbuh pesat, urbanisasi dan penggunaan energi yang tidak dapat diperbaharui serta kerusakan alam secara besar-besaran akibat ekploitasi manusia.

Penulis: Romandhon

Komentar