Connect
To Top

Sisi Paradoksal Presiden Jokowi

NUSANTARNEWS.CO – Aksi demo di Jakarta, Jum’at 4 November 2016 lalu masih menyisakan cerita-cerita paradoksal dari sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi). Entah itu tentang sikap (respon) presiden yang nampak tak tegas terkait kasus Ahok, maupun soal ‘mangkirnya’ sang presiden yang enggan menemui pengunjuk rasa di depan Istana Merdeka.

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan citra yang diusung Presiden Jokowi sendiri yang mengklaim dirinya sebagai presidennya “little man” alias wong cilik. Pada sebuah video berdurasi 45 menit, yang diunggah oleh Ulil Abshar Abdalla, Minggu (6/11/2016), ada sisi menarik dari sikap Presiden Jokowi yang luput untuk diperhatikan pada 4 November lalu.

Dalam video pidato berdurasi singkat itu, Presiden Jokowi mengaku jika tingkat demontrasi menurun 30%. Lebih lanjut, dirinya mengklaim bersih dari dari berbagai demo. Bahkan dengan gaya khasnya, presiden secara terang-terangan mengaku kangen dan minta untuk didemo.

“Lama-lama pada tahun kedua itu yang demo sudah turun tinggal 30%. Tahun ketiga sudah gak ada yang demo lagi sampai sekarang gak ada yang demo. Saya kangen sebenarnya di demo,” ungkap Presiden Jokowi dalam rekaman video pidato yang diikuti oleh tepuk tangan riuh para audiens yang hadir.

“Karena apa? Apapun! Apapun! Apapun! pemerintah itu perlu dikontrol, pemerintah itu  perlu ada yang meringatin (mengingatkan) kalau keleru (salah). Jadi kalau gak ada yang demo itu berarti gak ada yang keleru (salah). Jadi saya sering ngomong keman-mana tolong saya didemo,” imbuh Presiden Jokowi.

Namun, ironisnya pernyataan presiden ini sangat bertolak belakang dengan sikapnya pada aksi demo 4 November kemarin. Dengan alasan macet, beliau lebih memilih untuk tidak menemui warganya. Menurut Roy Surya (2016) alasan macet yang digunakan presiden Jokowi itu dinilai klise dan tak masuk akal.

“Mendengar keterangan (baca alasan) Seskab Pramono Anung yang mengatakan bahwa Presiden Jokowi tidak bisa balik ke Istana karena kondisi jalanan yang macet dan tidak memungkinkan(?), Come on…, masak rakyat Indonesia masih diberi alasan tak masuk akal seperti itu!” ujar Roy Suryo, Sabtu (5/11/2016).  (Romandhon)

Komentar