Berita Utama

Sikap Reaksioner Rakyat Ketika Tentara Dilecehkan

Foto Ilustrasi via pojok satu
Foto Ilustrasi via pojok satu

NUSANTARANEWS.CO – Kasus Fredy Tuhenay (Iwan Bopeng) salah satu anggota pendukung cagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang mengeluarkan umpatan kasar terhadap tentara Indonesia telah memicu reaksi keras dari publik tanah air. Banyak kecaman tersebar di media sosial menyasar tindakannya tersebut.

Siapa yang tak tergerak hatinya, ketika tentara yang menjadi tulang punggung bangsa dan pelindung kedaulatan negara direndahkan. Wajar jika bertubi-tubi makian dari netizen menyeruak dan berbalik menyerang Iwan.

Apa yang dilontarkan Iwan yang hendak memotong-motong tentara telah menyinggung dan melukai hati jutaan rakyat Indonesia. Mungkin ini di luar dugaan Iwan, jika ternyata umpatannya justru mendulang reaksi keras masyarakat luas. Dukungan moril dan animo masyarakat saat melakukan pembelaan terhadap tentara menjadi cerminan bahwa rasa memiliki itu masih ada.

Di sini kita tahu bahwa ada pertautan hubungan emosional antara rakyat dengan tentara yang tanpa disadari sesungguhnya terjalin kuat. Ini poin penting, yang terkadang luput dari perhatian. Reaksi tak terima dari rakyat ketika tentara dilecehkan adalah bukti nyata, tentara masih bersemayam di hati terdalam masyarakat Indonesia.

Disadari atau tidak, sikap reaksioner masyarakat yang tak terima saat merespon video singkat Iwan adalah kenyataan yang sulit dipungkiri bahwa kecintaan dan kedekatan militer-masyarakat yang terjalin puluhan tahun silam masih kokoh. Ini mempertegas rasa memiliki satu sama lain sangat kuat.

Siapapun akan benar-benar dibuat geram dan marah besar. Layaknya umat Islam yang marah ketika Gus Mus dimaki Pandu ataupun ketika Kyai Ma’ruf Amin dihardik Ahok. Namun, marah tak harus dilawan dengan kemarahan. Sekalipun, memukul balik ketika dipukul dianggap sebagai kewajaran dalam hidup manusia.

Bagi sebagian orang, perilaku ini lazim dianggap manusiawi. Seolah-olah sikap marah, emosian dan pendendam menggambarkan begitulah manusia. Padahal fitrah sebenarnya manusia yang manusiawi adalah manusia yang menunjukkan sikap yang penuh kemuliaan. Dengan kata lain, ketika dimarahi bukan berarti harus memarahi balik. Namun lagi-lagi, itu hak rakyat karena dirinya merasa dilukai dengan stetmen Iwan.

Nah, sikap legowo dan tetap mengayomi dari tentara inilah yang mestinya diteladani. Bahwa dimarahi bukan lantas memarahi balik, melainkan menyadarkan si pelaku agar tak melakukan hal serupa terulang. Sama halnya ketika Gus Mus atau Kyai Ma’ruf Amin yang memaafkan Pandu dan Ahok. Pun demikian sikap pihak militer yang memaafkan sikap Iwan ini pada akhirnya memunculkan kesadaran bagi si pelaku yang bersikap kasar.

Ini dibuktikan dengan sikap permintaan maaf Iwan kepada masyarakat Indonesia dan para tentara. Sekalipun cercaan dan hujatan menghujaninya usai video umpatannya menjadi viral di media sosial. Itu konsekuensi logis dari apa yang ia ‘tanam’.

Kasus Pandu dan Ahok, mestinya bisa dijadikan pelajaran berharga bagi Iwan. Bahwa perilaku kasar, arogan dan sarkastis hanya akan membawa banyak madhorot (kerugian) bagi dirinya sendiri. Apalagi praktik-praktik mengumpat, kasar dan arogan sesungguhnya bertolak belakang dengan budaya bangsa timur.

Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, khususnya Iwan setelah dirinya kenyang diberondong banyak bullyan dan cercaan dari masyarakat luas. Mestinya kita bisa memetik pelajaran berharga dari peristiwa Pandu, Ahok dan Iwan.  Bersikaplah santun dan bijak dalam betutur dan berperilaku yang menjadi cerminan bangsa yang berkeadaban.

Penulis: Romandhon

Komentar

To Top