Aktivis PMII saat gelar demonstrasi/Foto: Dok. galaberita
Aktivis PMII saat gelar demonstrasi/Foto: Dok. galaberita

NUSANTARANEWS.CO – Ada yang menarik dari statemen pendiri sekaligus direktur eksekutif The World Economic Forum (WEF), Martin Klaus Schwab di pertemuan WEF di Davos, Swiss pada 17 Januari 2017 lalu. Dalam sebuah wawancara, Schwab mengutarakan dua harapannya tentang dunia di masa mendatang. Hal ini tak terlepas dari penilaian pria berusia 78 tahun itu ihwal kondisi dan situasi dunia yang sudah gamang dan situasi batas.

Schwab menegaskan bahwa untuk mencari solusi atas permasalahan ekonomi, sosial, teknologi dan politik dunia diperlukan solusi berkelanjutan yang sistemik, pendekatan holistik, dan kolaborasi semua pemangku kepentingan global bersatu dalam satu misi memperbaiki keadaan dunia. Kata Schwab, penting untuk melakukan reformasi ekonomi global terutama membuat kapitalisme pasar menjadi lebih inklusif karena selama ini ekonomi pasar hanya menghasilkan pemenang dan pecundang tetapi tidak ada sistem ekonomi berkelanjutan.

Usai mengutarakan kondisi dunia yang tampaknya akan segera mengakhiri rezim globalisasi gelombang kedua, Schwab lantas mengungkapkan harapannya untuk kehidupan yang berkelanjutan di masa depan. “Sekarang negara-negara lain mengambil posisi yang akan membentuk kembali situasi global. Ini seperti seorang ayah yang memiliki banyak anak dan sekarang anak-anak tumbuh dewasa dan menjadi mandiri. Bagaimana orangtua bereaksi?” ucapnya.

Pendiri WEF ini menuturkan bahwa harapannya adalah teknologi dan generasi muda. Kemajuan teknologi menurutnya telah menciptakan berbagai macam kesempatan dan peluang agar orang bisa mengembangkan dirinya. Sedangkan generasi muda, adalah mereka yang memiliki sikap berbeda.

Generasi muda yang memiliki sikap yang benar-benar global dan memiliki wawasan serta identitas global. Uang bukan tujuan utama mereka karena tujuan pertama mereka adalah memberikan kontribusi.

Dalam konteks harapan Schwab terhadap generasi muda, ia membayangkan sekelompok pemuda yang memiliki visi dan misi jelas, yang mampu tampil sebagai sosok pembeda dari generasi-generasi sebelumnya. Bukan uang yang dicari, melainkan kontribusi generasi muda dalam membangun peradaban dunia. Generasi muda yang inovatif, inklusif, bertanggungjawab serta memiliki gagasan besar yang diimpikan Schwab dapat merubah keadaan dunia yang kini tengah mentok.

Pada tahap ini, sebagai kelompok generasi muda Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tentu sangat diharapkan dapat menjadi pelopor. Atau setidaknya, PMII bisa menjadi juru bicara zaman baru yang segera bergulir.

Wujud zaman baru memang belum terbayangkan. Tapi, tanda-tandanya sudah ada. Gejala-gejalanya sudah bisa dipahami. Di antara yang sedikit ialah dikampanyekannya energi bersih, energi ramah lingkungan, pengurangan konsumsi BBM, pengurangan emisi karbon, perjanjian dunia tentang perubahan iklim, komitmen memberantas teorisme, korupsi, narkoba hingga femomena Britain Exit (Brexit).

Brexit boleh jadi merupakan cerminan rakyat Inggris yang tidak memerlukan partai politik, ketika ingin memutuskan kepentingan mereka. Bahkan ke depan, kelas menengah mungkin sudah tidak ada lagi. Coba perhatikan di Amerika, sekarang ini 49% Mal sudah tutup. Tapi Jeff Bezos, pengusaha online Amazone tampil menjadi orang terkaya ketiga di Amerika.

Belum lagi komitmen dunia dalam bidang ekonomi dan kepemimpinan. Pengelolaan keuangan secara transparan, inklusif dan kepemimpinan yang bertanggungjawab kini tengah digodok di level global oleh sejumlah negara guna mengeluarkan dunia dari krisis berkepanjangan, terutama krisis keuangan.

Sejauh ini, China adalah negara yang tampil ke penats global dengan gagasannya. Lewat program Jalur Maritim Sutra Abad 21 dan program satu sabuk satu jalan China berambisi membangun koridor perekonomian dan perdagangan global. Jerman adalah negara yang paling siap menghadapi zaman baru.

Tanda-tanda itu misalnya dengan kebijakan pemerintah yang akan menerapkan peraturan ketat dalam penggunaan kendaraan bermotor pada 2030. Dimana semua mobil yang dijual di Jerman harus bebas emisi. Artinya, rezim BBM sudah tidak mendapat tempat lagi di zaman baru.

Sementara Indonesia, sejauh ini masih saja hendak menjadi pengekor bukannya penggagas. Pola kepemimpinan merupakan salah satu pemicunya. Padahal, dengan segala potensi yang dimiliki, harusnya Indonesia tampil sebagai aktor utama perubahan global.

Pada kondisi ini, sebagai generasi yang telah sadar dan melek terhadap perubahan dunia, PMII sudah saatnya tampil sebagai penggagas atau setidaknya juru bicara menghadapi globalisasi gelombang ketiga yang disinyalir pertanda akan datangnya tatanan dunia baru.

Sebab, bangsa Indonesia tidak boleh gagap dalam memasuki zaman baru. Justru sebagai bangsa, kita wajib menyiapkan diri menyongsongnya meski sosok politik, ekonomi, dan tatanan internasional zaman baru tersebut belum hadir.

Sebagai catatan penting, PMII harus memahami betul bahwa kesenjangan sosial dan sulitnya orang miskin untuk bertahan hidup saat ini, menjadi indikasi Indonesia tengah gagal dalam mengelola globalisasi. Itu sudah terjadi pada globalisasi gelombang kedua.

Sinyal kegagalan pranata-pranata lama untuk mengatasi masalah-masalah penting dunia tercermin pada resesi ekonomi dunia yang berkepanjangan. Mulai dari berlangsungnya aksi-aksi terorisme, kegagalan lembaga-lembaga keuangan internasional mengentaskan kemiskinan yang akut hingga perdagangan narkoba yang tak bertepi.

Sebagai agen perubahan sosial, tentu PMII amat berkepentingan memperbaiki pranata-pranata sosial yang ambruk serta tak lagi dapat diharapkan untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah penting dunia. Pola distribusi kekayaan dan pola produksi maupun pola konsumsi masyarakat tengah mengalami perubahan yang cepat seiring dengan proses sentralisasi kapital. Perubahan bangunan sosial ini pun pada gilirannya juga akan mengubah bangunan lain, seperti bangunan politik, hukum, mental dan budaya, serta penghayatan ideologi masyarakat.

Sekali lagi, PMII harus menjadi sebuah komunitas masa depan. Komunitas masa depan bersama bagi seluruh umat manusia. Kerangkanya adalah kesetaraan, kedaulatan, rekonsiliasi damai, supremasi hukum dan keadilan, keterbukaan dan toleransi serta kemanusiaan.

Sebagai generasi dan komunitas masa depan, maka PMII harus ikut andil mengelola globalisasi. Kepandaian mengelola globalisasi ialah untuk kepentingan nasional negerinya, sehingga globalisasi mampu memberikan kemakmuran kepada bangsa dan rakyatnya. Adapun yang akan menggagalkannya ialah godaan untuk memperkaya diri dan memupuk kepemimpinan oligarki dari rezim yang berkuasa.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar