Dennya JA. Foto: Tempo/ Ilustrasi: Nusantaranews
Dennya JA. Foto: Tempo/ Ilustrasi: Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Penyair menjalani dunia kesunyian. Penyair melihat kehidupan dari mata batinnya yang tajam. Menulis kehidupan dengan segenap keindahan yang dibangun dengan kata-kata, ruh, dan jiwa. Dalam setiap ciptaannya terkandung kebijaksanaan dan pesan-pesan untuk para pembacanya.

Siapakah dia yang disebut penyair? Penyair lahir dan hadir setiap zaman. Penyair menjadi saksi dan pemberi kesaksian dengan segenap cintanya kepada harmoni kehidupan. Penyair menjadi juru bicara zaman, peradaban, dan kebahagiaan serta penderitaan suatu bangsa.

Mengutip Sastrawan Indonesia Denny JA yang populer dengan puisi esainya, setiap orang merupakan penyair. Benarkah demikian? Dasar apakah yang meyakinkan Dennya JA menyatakan hal demikian? Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutannya di Temu Sastrawan Asia Tenggara di Sabah Malaysia, 4-5 April 2017. Dimana forum itu membahas satu topik yakni 24 buku puisi tunggal bertopik isu sosial karya Dennya JA sendiri.

Berikut isi sambutan lengkapnya:

Musisi dan penulis lagu Bob Dyland selama ini tak pernah digolongkan sebagai sastrawan. Namun di tahun 2016, ia dianugrahkan penghargaan Nobel Sastra. Ini hadiah  sastra tertinggi tingkat dunia.

Berkaca pada Bob Dyland, pada dasarnya semua kita yang suka keindahan dan kasih sayang adalah sastrawan. Semua kita yang berhati penuh syukur adalah penyair. Hanya intensitas keterlibatan diri dan pengalaman estetika yang membedakannya.

Sebagian menjadikan sastra dan puisi sebagai profesi. Sebagian memilih profesi lain, namun tetap memiliki kepekaan hati untuk bisa menikmati bahkan menulis puisi. Semua sama sahnya untuk menerima berkah dunia sastra.

Sayapun tak tahu dan juga mungkin tak peduli apakah pantas disebut sastrawan atau bukan. Apakah saya  penyair atau bukan? Itu bukan hal penting bagi saya.

Mengikuti Jalaluddin Rumi, saya berkicau saja seperti burung. Dan tak terlalu hirau respon lingkungan dan apa yang mereka pikirkan tentang saya. Dari kicuan itu kadang lahir strategi politik untuk menang pemilu. Dari kicauan itu kadang lahir makalah riset opini publik. Dari kicaun itu kadang lahir sebuah perusahaan bisnis. Dari kicauan itu kadang lahir puisi, lukisan, lagu, teater, atau film.

Tak pula saya rencanakan, dari kicauan itu dalam waktu kurang dari lima tahun saya sudah menulis 24 buku puisi.

Tak pula saya hirau ketika puisi yang saya tulis bentuknya agak beda. Puisi itu sangat panjang dan bercerita seperti novel. Lalu dalam puisi itu penuh catatan kaki hasil riset sebagaimana layaknya makalah akademis. Jenis puisi ini kemudian disebut puisi esai, dan saya disebut sebagai pelopornya.

Tentu saya senang ketika Jurnal Sajak membuat lomba puisi esai tingkat nasional di Indonesia selama tiga tahun berturut-turut: tahun 2013, 2014 dan 2015. Karena lomba itu, ratusan  orang kini sudah menulis dan menerbitkan jenis puisi esai, mulai dari Aceh hingga Papua. Dari ribuan puisi esai yang diseleksi sudah pula diterbitkan lebih dari 30 buku kumpulan puisi esai.

Tentu saya senang saja ketika membaca begitu banyak jenis isu sosial yang diangkat dalam puisi esai itu. Ada yang menggambarkan kesedihan seorang anak akibat rumah ibadahnya yang dibakar.

Ada kisah tangisan ibu soal hukuman mati yang salah alamat kepada suaminya. Ada derita batin seorang ayah yang tak sanggup membeli tanah kuburan untuk anaknya. Hingga kisah cinta seorang pemuda yang ingin mencintai wanita tapi instinknya lebih mencintai pria sejenis.

Yang menulis puisi di atas justru lebih banyak mereka yang selama ini tak dikenal sebagai penyair. Mereka ada yang wartawan, pengusaha, aktivis politik, pejuang pembaharuan agama, dosen, ahli hukum, dan sebagainya. Mereka menulis puisi karena meyakini puisi bisa ditulis oleh siapa saja.

Saya sendiri seorang aktivis. Saya juga berprofesi sebagai konsultan politik. Saya juga peneliti yang memiliki lembaga survei. Juga saya seorang pengusaha. Saya juga pemain sosial media. Hanya sedikit waktu luang saya tersisa. Namun inspirasi puisi acapkali datang, menjadi kucing yang mengeong dalam batin saya, meronta meminta diekspresikan dalam kata.

Apakah saya tepat disebut penyair? Atau lebih tepat disebut konsultan politik yang suka puisi? Atau aktivis dengan hati penyair? Atau pengusaha yang berpuisi? Saya serahkan saja semua istilah itu pada publik luas.

Namun saya meyakini hal ini sepenuhnya. Jka saja lebih banyak pengambil kebijakan publik membaca puisi, jika saja lebih banyak orang berpengaruh membaca sastra,   masyarakat kita akan lebih baik.

Mari kita sirami ruang publik kita sebanyaknya dengan puisi.

Sekali lagi terima kasih.

Pewarta/Editor: Achmad Sulaiman

Komentar