Ekonomi

Serap Tenaga Kerja, Kemendag Akan Dorong Bisnis Waralaba

Mendag Enggartiasto Lukita dalam acara Indonesia Franchinse and SME Expo (IFSE) di JCC, Jumat, (25/11/2016)/Foto Andika / NUSANTARAnews
Mendag Enggartiasto Lukita dalam acara Indonesia Franchinse and SME Expo (IFSE) di JCC, Jumat, (25/11/2016)/Foto Andika / NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mendorong tumbuhnya waralaba domestik yang menyerap komoditas domestik. Pasalnya, pertumbuhan waralaba dapat menyerap tenaga kerja yang besar dan menyerap produk dalam negeri yang banyak.

“Ini akan didorong karena dalam kondisi ekonomi global yang tidak menentu seperti ini, maka pasar domestik yang sangat perlu dijaga. Dari kaca mata bisnis kuliner dan jasa, waralaba sesuatu yang sangat positif untuk itu,” kata Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita dalam acara Indonesia Franchinse and SME Expo (IFSE) di JCC, Jumat, 25 November 2016.

Ia mencontohkan seperti usaha waralaba Es Teler 77 yang memiliki 180 gerai, dalam sehari menyerap 4.000 butir kelapa. “Berapa ton juga alpukat dan nangka yang diserap dari dalam negeri. Banyak komoditas ini, belum lagi waralaba lainnya,” kata dia.

Waralaba adalah konsep usaha yang melibatkan banyak pengusaha terutama pemula dan berkembang cepat. Sehingga, akan sangat membantu bagi pelaku usaha yang secara relatif modalnya terbatas, tetapi memiliki keinginan berwirausaha.

“Dari sisi yang akan membuka gerai (mitra waralaba), ini (konsep bisnis waralaba) jadi kesempatan bagi mereka yang secara relatif modalnya terbatas Artinya dia tidak miliki brandnya, tapi dia mau usaha, maka dia ambil waralaba,” ujarnya.

Kemudian dari sisi pemiliknya, waralaba menjadi cara untuk pengusaha berekspansi mengembangkan usahanya ke daerah-daerah lainnya, sehingga dapat meningkatkan pendapatannya.

“Kalau dia lakukan itu sendiri, dia memiliki keterbatasan modal pengembangan, jaringan dan sebagainya. Nah, ini ada sesuatu yang kekhasan dari konsep bisnis ini. Dalam waktu yang singkat pertumbuhannya itu jauh lebih cepat dari pada dia (pemilik waralaba) membuka cabang sendiri,” kata Enggar.

Konsep bisnis ini juga memiliki manfaat untuk menyerap tenaga kerja karena setiap gerai membutuhkan tenaga manusia untuk mengelolanya. “Yang harus dijaga kemudian adalah resepnya kalau untuk makanan. Dan mereka punya kode etik dan ketentuan-ketentuan di world franchisenya yang harus dijaga. Ini yang akan didorong dan dikembangkan,” tutur dia.

Data International Franchise Association pada 2014, Indonesia tercatat memiliki sekitar 698 waralaba dengan jumlah gerai sebanyak 24 ribu yang terdiri dari 63 persen waralaba dan Business Opportunity (BO) lokal, lalu, 37 persen waralaba asing. Omzetnya dapat mencapai sekitar Rp172 triliun. (Andika)

Komentar

To Top