Sensitif Kelompok Teroris, Motif Polisi Tembak Sebuah Mobil Rombongan Kondangan di Sumsel

0
Ketua Presidium Ind Police Watch, Neta S Pane/Foto: IST
Ketua Presidium Ind Police Watch, Neta S Pane/Foto: IST

NUSANTARANEWS.CO – Masyarakat dihebohkan dengan insiden nahas di Sumatera Selatan. Seorang anggota polisi menghujani sebuah mobil Honda City yang datang arah Curup hendak menuju ke Muara Beliti untuk kondangan keluarga. Nahas bagi rombongan tersebut, empat orang luka dan seorang meninggal dunia terkena timah panas polisi.

Menurut Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW) Neta S Pane, tindakan tegas memang harus dilakukan polisi terhadap anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran atau membahayakan orang lain. Sebab, pengendara mobil tersebut berusaha menerobos razia dan mengindar dari kejaran polisi. Tindakan itu membuat polisi curiga bahwa pengendara adalah pelaku kejahatan.

“Tentunya polisi tidak mau ambil risiko. Jika pengendara tidak bersalah, kenapa dia menerobos razia dan menghindar dari kejaran polisi. Jadi tembakan yang dilepaskan polisi itu sebagai sebuah tindakan tegas agar pengendara itu tidak membahayakan orang lain. Hanya memang, dalam proses penembakan itu perlu ditelusuri apakah penembakan itu sudah sesuai SOP atau belum. Artinya, sebelum melepaskan tembakan ke sasaran, apakah polisi tersebut sudah memberikan tembakan peringatan ke udara. Jika sudah, dan pengendara tetap melarikan diri, penembakan yang dilakukan polisi itu sebuah langkah yang tepat meskipun ada korban tewas,” ujar Neta kepada redaksi, Kamis (20/4/2017).

Akibat tembakan polisi, satu orang tewas dan empat lainnya luka. Dilaporkan, anggota polisi yang melakukan penembakan di Lubuk Linggau Sumsel tersebut berinisial Brigadir K. Menurut laporan, Brigadir K sudah diperiksa Propam.

“Ind Police Watch (IPW) berharap elit Polri dan publik bisa bijak melihat peristiwa penembakan itu. Sehingga Brigadir K cukup diingatkan dan tidak perlu dikenakan sanksi karena apa yang dilakukannya adalah bentuk ketegasan seorang aparat kepolisian di lapangan dalam menghadapi situasi yang ada,” jelas Neta.

Sebelumnya, Kapolres Lubuk Linggau, AKBP Hajat Mabrur menyebutkan bahwa satu korban tewas dalam insiden penembakan itu akibat pantulan peluru. Ia menuturkan korban luka dan meninggal akibat pantulan peluru dari ban mobil yang ditembaki anggota kendati sejumlah foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kaca samping mobil pecah dan kaca belakang bolong seperti tertembus peluru tajam.

“Tapi kalau Kapolres mengatakan peluru yang mengenai korban akibat pantulan dari tembakan terhadap ban, itu tentu salah kaprah. Harusnya pimpinan kepolisian mengakui saja tembakan itu merupakan tindakan tegas yang harus dilakukan aparat di lapangan karena pengemudi berusaha melarikan diri saat dirazia,” terang Neta.

Untuk itu masyarakat dihimbau agar tidak melarikan diri saat razia karena rentan dicurigai pelaku kejahatan. Apalagi polisi tengah sensitif akibat kasus nyaris serupa terjadi di Tuban, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

“Kalau tidak salah kenapa harus takut. Tindakan itu harus dilakukan polisi. Sebab, tidak ada yang tahu siapa di dalam mobil itu. Sementara pengendara tidak mau berhenti dan berusaha melarikan diri. Situasi ini bisa dipahami apalagi sebelumnya ada dua peristiwa penyerangan terhadap polisi di Jatim dan Jateng oleh kelompok teroris,” paparnya.

Pewarta: Eriec Dieda
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar