Kreatifitas

Semangat Puitik – Esai Sofyan RH. Zaid

“Esensi puisi tidak terletak pada makna yang dikandung,

tetapi pada ungkapnnya yang mampu mengalirkan tenaga listrik dari dalam dirinya.”

Kotaro Takamura

 

Syibumi

Hartojo Andangdjaja melalui Dari Sunyi ke Bunyi (1992) menjelaskan kalau di Jepang, wujud keindahan tertinggi yang menyimpan amanat alam, yakni kesejatian sifat alam itu sendiri disebut syibumi. Amanat tersebut membisikkan keselarasan dengan kesemestaan segala. Orang Jepang banyak menjelmakan syibumi dalam seni, seperti lukis, kehidupan keseharian, juga dalam bentuk haiku. Dengan bentuknya yang alit, haiku seperti halnya kesejatian alam, tidak ada tempat bagi permainan retorika dan muatan filsafat yang justru -kadang- membebaninya, sehingga kehilangan kemurniannya sebagai puisi. Haiku bukan sesuatu yang asing di kalangan kita, khususnya dalam dunia kepenyairan. Semacam puisi pendek khas Jepang yang memiliki aturan ketat mengikat, yaitu aturan teikei yang mengharuskan setiap haiku terdiri atas 17 silabel atau suku kata dengan formula tiga larik (5,7,5) disertai dengan penggunaan kigo untuk menunjukkan musim kapan haiku tersebut ditulis.

Lebih lanjut Hartojo, kata-kata dalam haiku, di samping memberikan dimensi emosional, seringkali juga memiliki makna simbolik yang berhubungan, misalnya dengan sejarah atau alam. Dalam haiku kadang juga ditemukan majas seperti chokuyu (simile), inyu (metafora) dan lainya. Haiku, salah satu bentuk sastra Jepang yang lahir dan berkembang pada abad-abad ke-16 sampai 17 sebagai perkembangan lanjutan dari puisi-puisi sebelumnya, seperti tanka. Para penulis terkenal haiku antara lain; Matsuo Basho (1644-1694), Taniguchi Buson ()1715-1783, dan Issa (1763-1827). Berikut salah satu karya Basho yang terkenal sebagai sebagai “master” haiku yang hidup di masa Edo:

Furuike ya

Kawazu tobikomo

Mizu no oto

 

(Kolam tua

Katak terjun – suara

Plung! Bergema!)

 

Zen-Tama

Tjahjono Widijanto dalam “Jepang dari Syibumi, Tsunami, dan Teks Sastra (2013)”, mengistilahkan Jepang sebagai  dunia -yang penuh- paradoksal. Negara yang identik dengan teknologi canggih bersilang sengkarut dengan kesemestaan alam, mesin bersanding mesra dengan laut dan danau. Masyarakat Jepang dikenal “sangat terbuka” terhadap pengaruh budaya dari luar, tetapi juga “sangat teguh” berpegang pada budayanya sendiri. Itulah kenapa haiku masih digemari sampai hari ini, di antara puisi-puisi Barat yang juga lalu lalang di Jepang. Ketertarikan masyarakat Jepang terhadap puisi-puisi luar tidak menghancurkan keyakinannya bahwa Haiku adalah bentuk paling tepat untuk mengekspresikan emosi dan gerak batinnya sendiri. Haiku menurut Widijanto, merupakan eskpresi dari ajaran Zen yang mengajarkan kesederhananaan. Ajaran Zen ini berawal dari India melalui Cina dan masuk ke Jepang sejak abad XII dalam periode Kamakura dan mengambil tempat penting dalam kepercayaan masyarakat Jepang hingga kini. Zen adalah cara memandang sebuah keberadaan atau hakekat diri seseorang yang membebaskan diri dari keterkungkungan.

Meski demikian, bagi Dr. Masoa Oka (seorang ahli etnografi) menyebutkan bahwa jauh sebelum Zen masuk ke Jepang, masyarakat sudah punya tradisi sendiri dalam menghormati alam yang diwujudkan dalam perayaan ritual yang disebut tama. Tama merupakan substansi spiritual yang ditemukan pada manusia, di dalam roh orang mati dan di dalam orang suci yang ketika musim gugur akan berganti dengan musim semi bergerak dan berusaha meninggalkan jasad. Peralihan musim dari musim gugur ke musim semi ini merupakan simbol reaktualisasi chaos menuju cosmos, kerusakan menuju keteraturan. sehingga dalam teks-teks sastra Jepang terekam bagaimana keuletan, ketabahan, ketegaran dan ketenangan ini bersanding dengan kesendirian dan kesunyian.

 

Shiseishin

Abdul Hadi WM dalam terjemahannya Kehancuran dan Kebangunan (Kumpulan Puisi Jepang, 1987) memaparkan Hagiwara Sukataro sebagai salah satu penyair Jepang paling berpengaruh dan menarik banyak perhatian dunia. Di antara banyak karya esai dan avorismenya, Prinsip-prinsip Puisi yang ditulisnya selama 10 tahun merupakan esainya yang terpenting. Baginya, puisi merupakan ekspresi nostalgia. Bentuk puisi tidak begitu penting dibanding semangat tertentu yang terkandung di dalamnya. Pada hakikatnya, yang membedakan “puisi” dengan “karya sastra lain” -misalnya prosa- bukan bentuknya, melainkan semangatnya yang dia sebut shiseishin. Puisi menjadi puisi karena adanya shiseishin (semangat puitik). Shiseishin bisa saja ada dalam karya sastra selain puisi, seperti prosa atau drama, namun manifestasinya yang paling murni hanya bisa dijumpai dalam puisi, khususnya puisi lirik.

Karya Sukataro yang juga penting adalah avorisme Ciri-ciri Shiseishin, dia membaginya menjadi delapan (8) bagian:

  1. Puisi membubung mengatasi kenyataan sebagai shiseishin romantik;
  2. Puisi senantiasa mencari yang ideal sebagai shiseishin subjektif;
  3. Puisi memperbaiki bahasa sebagai shiseishin retoris;
  4. Puisi mengangkat keindahan lebih tinggi dari kebenaran sebagai shiseishin estetis;
  5. Puisi mengkritik kenyataan sebagai shiseishin pedagogis;
  6. Puisi mengangankan dunia transendental sebagai shiseishin metafisik;
  7. Puisi menuntut bentuk sebagai shiseishin normatif;
  8. Puisi menuntut kebangsawanan dan kejalangan sebagai shiseishin

Secara tersirat, Sukataro mengaitkan shiseishin dengan kenyataan. Kenyataan lahir atau biasa yang berkenaan dengan keberadaan rutin penyair dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi nestapa penyair terutama ada di dalam “tempramen puitiknya”, bukan pada “kehidupan sosialnya”. Oleh karena tempramen puitiknya seorang penyair selalu menjumpai keburukan di dunia keseharian yang dia -berusaha- tolak atau sangkal melalui atau di dalam puisi-puisinya demi cita-cita yang tinggi. Tempramen puitik ini bertalian dengan takdir, karena seorang penyair bukan dibuat, tetapi dilahirkan! Punya kemampuan melihat jauh ke depan dan memandang inti di balik segala sesuatu hingga karya-karyanya melampaui zaman dan peradaban melahirkannya.

 

Seruni

Haiku seakan menggema ke seluruh penjuru dunia, di beberapa negara muncul ‘gerakan’ haiku, seperti di Amerika dengan American Haiku, dan di Indonesia -antara lain- dengan adanya komunitas HaikuKu Indonesia yang dirikan oleh penyair Diro Aritonang, dan grup NewHaiku yang dibuat oleh penyair Kurniawan Junaedhie. Gerakan tersebut juga terlihat jelas dengan terbitnya beberapa buku haiku -berbahasa- Indonesia, seperti The Sound of Silence  (Suara Keheningan, 2016) karya Diro Aritonang dan 1000 Haiku Indonesia (2015) yang dikuratori Kurniawan Junaedhie, Soni Farid Maulana, dan Esti Ismawati. Buku yang menghimpun 1.000 haiku -yang diberi judul atau disebut newhaiku– karya 100 penyair, antara lain, Adri Darmadji Woko, Rini Intama, Ang Jasman, Nila Hapsari, Dharmadi, Emi Suy Hariyanto, Samara Aji, Joshua Igho, Weni Suryandari, dan lainnya.

Kemudian Zikir Mawar karya penyair Solo, Seruni Unie ini merupakan buku selanjutnya yang lebih mirip model haiku “newhaiku” dengan adanya judul dan nomor bait. 33 -judul- haiku dalam buku ini sebagian -saya perhatikan- sudah pernah dimuat sejumlah media nasional, seperti Indopos, Media Indonesia, Republika, dan lainnya. Sebagai perempuan, Seruni dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan pemalu, namun sebagai penyair, dia cukup berani dan produktif, di mana karya-karyanya kerap membedaki media. Sementara sebagai perempuan penyair, dia aktif berkesenian di Sastra Pawon (Solo), dan juga sering terlihat di sejumlah acara pertemuan sastra, seperti Tifa Nusantara, Dari Negeri Poci, dan lainnya. Saya kira -tidak berlebihan jika menyebut- Seruni adalah generasi mutakhir Kriapur -sebagai sesama Solo- bersama penyair lainnya dari Solo.

Di antara 33 -judul- haiku-nya dalam buku ini, ada beberapa puisi yang ingin saya kutip, misalnya “Hotel Alexander”:

1#

Seperti kopi

kuseduh pekat

dengan rindu sekarat

 

2#

Aku bergeming

menolak wangi dadamu

dalam cangkir

 

3#

Aku mati di lobby

ditikam cemburu

yang tak resmi

 

Puisi ini menunjukkan haiku ala Indonesia dengan Seruni lebih memilih diksi “kopi” dibanding “teh” sebagai ikon minuman Jepang. Dalam puisi-puisinya, dia seringkali memadukan antara diksi “tradisional” dengan “kemodernan” secara harmoni, misalnya dengan diksi “wangi” dan “lobby”. Hal ini juga terlihat pada puisi “Kasmaran”:

1#

Kau tahu

membalas tatapmu

begitu fardhu bagiku

 

2#

Sebab di situ

ada danau

yang membuat hati sakaw

 

3#

Maka biar

kupinang sepi

sebagai rindu abadi

 

Seruni kembali memadukan antara yang tradisional dan kemodernan dengan adanya diksi “sepi”, “sakaw” dan “abadi”.

Sebenarnya, 33 -judul- haiku Seruni dalam buku ini, tidak selalu setia pada cita rasa haiku yang memiliki nuansa emosional, simbol dan suasana, kadang puisinya terbaca lebih bebas dan cair. Akan tetapi, ada fakta unik pada tema-tema puisinya, yakni romantisme yang bercorak eksistensialisme -seperti luka, duka, kesepian, kerinduan serta  keterasingan-, dan aspek religiutas yang tercermin dari sejumlah diksi yang dipakai -semisal “fardhu”, “zikir” dan sejenisnya-.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Zikir Mawar ini merupakan muara di mana syibumi, zen-tama, dan shiseishin bertemu, berpeluk-cium, bergumul-gulat, bercampur-lebur dan tidak bisa lagi dikenali secara parsial. Selain itu, keberanian Seruni mengambil bentuk haiku sebagai progres proses kreatif kepenyairannya yang baru, layak mendapat sambutan tepuk tangan atau senyum yang girang: “Hai, Haiku!”.

Bekasi, 04 September 2016

 

Sofyan RH. Zaid

Sofyan RH. Zaid

Sofyan RH. Zaid, Lahir di Sumenep 08 Januari 1986. Karyanya terbit di sejumlah media, seperti  Media Indonesia, Bali Post, Indopos, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Riau Pos, Horison, Seputar Indonesia, Solopos, Merapi, Suara NTB, Banjarmasin Post, Metro Jambi, Minggu Pagi, Radar Bekasi, Radar Madura, Horison, Annida, Sahabat Pena, Kuntum, dan sebagainya. Juga dalam sejumlah buku bersama, semisal Biarkan Aku Memningmu dengan Puisi (EKBT, 2007), Empat Amanat Hujan (DKJ, 2010), Surat-surat Cinta Untuk KPK (Diva, 2012), Narasi Tembuni (KSI, 2012), Suara 5 Negara (Tuas Media, 2012), Tifa Nusantara I,II &III (TKSN, 2013, 2015, 2016), Negeri Langit (DPN V, 2014), Negeri Laut (DPN VI, 2015), Bersepeda ke Bulan (Indopos, 2014), Nun (Indopos, 2015) Lentera Sastra II (Antologi Puisi 5 Negara, 2014), Pengantin Langit (KSI, 2014), Titik Temu (KJ, 2014), Solo dalam Puisi (Pawon, 2014), Saksi Bekasi (TareSI, 2015), 1.000 (New)haiku (KKK, 2015), Gelombang Puisi Maritim (DKB, 2016), Pasie Karam (DKAB, 2016), dan lainnya. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa ini, kini menjadi kurator di Majelis Sastra Pesantren Indonesia dan Editor di Tazkia Group. Buku puisi tunggal pertamanya Pagar Kenabian (TareSI, 2015) masuk 15 nominasi Anugerah Haripuisi Indopos (2015). Sedang menyiapkan antologi puisi tunggal kedua: Pagar Cahaya.

Komentar

To Top