NUSANTARANEWS.CO – Indonesia ingin mewujudkan swasembada beras. Namun mengalami keterbatasan lahan. Pasalnya, sudah banyak area persawahan menjadi pabrik-pabrik manufaktur.

Di sisi lain, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memprediksi jumlah penduduk akan terus mengalami lonjakan. Data PBB menunjukkan, bahwa penduduk dunia akan mencapai angka 8,5 miliar jiwa pada 2030, dan 9,7 miliar jiwa pada penghujung 2050, serta 11,2 miliar di akhir abad ini.

Jumlah penduduk yang sangat besar tersebut menuntut untuk diberi makan. Sementara, lahan kian menyempit, khususnya di perkotaan. Jalan satu-satunya adalah mengambil persedian pangan dari kawasan pedesaan dan pinggiran pantai. Lalu bagaimana menyiasati hal tersebut.

Seorang arsitek Javier Ponce dari Forward Thinking Architecture Barcelona menunjukkan kreasinya akan sebuah lahan yang dibangun di atas perairan dengan tiang-tiang setinggi 24 meter dan menjulang struktur panel surya di atasnya sebagai penyedia energy matahari. Di deretan tengah lahan buatan tersebut akan ditanami sayuran dengan luas area 51.000 meter persegi. Untuk media tanamnya sendiri bukan menggunakan tanah melainkan nutrisi yang berbentuk cair. Nutrisi dan bibit tanaman akan dijatuhkan ke bawah lapisan untuk memberi makan ikan yang akan dibudidayakan dalam ruang tertutup. Hal tersebut menciptakan dua fungsi yaitu sebagai lahan pertanian sayuran dan peternakan ikan.

Sementara itu, Pertanian apung menjadi bentuk adaptasi petani Bangladesh terhadap banjir yang datang setiap tahun. Bila mereka tetap saja memakai lahan konvensional maka banjir akan menghancurkan tanaman mereka. Kalau lahan apung maka bila ada banjir, tanaman akan tetap kering. Metode ini sekarang sedang dikembangkan lebih luas lagi oleh pemerintah Bangladesh sebagai metode solutif terhadap seringnya banjir.

Dari dalam negeri sendiri, rupanya tengah dikembangkan juga lahan pertanian terapung. Tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Aldri Fajar Muhammad, Azhar Triramanda, dan Dimas Ramdhani membuat gagasan tertulis dengan konsep Agrocoastal’s System. Penemuan ini diyakini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis lahan pertanian pangan di Indonesia.

Data menunjukkan dalam  sepuluh tahun terakhir,luas lahan pertanian Indonesia tidak banyak berubah,  masih sekitar 25 juta hektar. Kenyataan tersebut tidak berimbang dengan proyeksi pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2020 yang akan mencapai 293,88 juta jiwa.

Konsep Agrocoastal’s System dikembangkan dengan memanfaatkan wilayah perairan di daerah pesisir sebagai daerah produktif pertanian pangan. Gagasan tertulis ketiga mahasiswa IPB ini berhasil memenangkan medali emas di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXVII di Semarang tahun 2014.

“Agrocoastal’s System merupakan sistem budidaya tanaman pangan yang menggunakan daerah pesisir laut sebagai lahan garapan. Konsep ini merupakan solusi penyelesaiankrisis lahan pertaniandengan cara memanfaatkanwilayah perairan di daerah pesisir sebagai lahan alternatif. Daerah pesisir yang dimaksud mencakup pantai hingga laut wilayah pesisir (coastal zone)”, ujar Azhar Triramanda.

Dalam sistem Agrocoastal, ada dua cakupan wilayah yang diklasifikasikan berdasarkan fungsinya yakni Main Agrocoastal dan Supporting Agrocoastal (Outer Floating Area). Main Agrocoastal berfungsi sebagai tempat penerapan aquaponic atau kombinasi budidaya ikan dan tanaman pangan. Sedangkan Supporting Agrocoastal (Outer Floating Area) berfungsi sebagai pemecah ombak agar tidak terjadi kerusakan pada area main agrocoastal juga sebagai pembangkit tenaga gelombang laut (wave energy).

Untuk mendukung konsep ini dibutuhkan sarana lahan apung statis yang berfungsi sebagai lahan pengganti, layaknya lahan pertanian di daratan. Lahan apung statis akan dibuat mengapung di atas laut. Dengan begitu, para pelaku industri pertanian yang memakai sistem ini dapat memperluas lahannya sesuai dengan kebutuhan industri dengan cara menambah lahan apung statis yang tersedia.(Ahmad)

Komentar