Berita Utama

Sandang Gelar Pahlawan, KHR As’ad Syamsul Arifin Pejuang Pancasilais Dari NU

Kenangan Alm KHR As'ad Syamsul Arifin (kiri) bersama Presiden Soeharto (kanan) saat Muktamar NU XXVVII di Situbondo, tahun 1984. Foto IST
Kenangan Alm KHR As'ad Syamsul Arifin (kiri) bersama Presiden Soeharto (kanan) saat Muktamar NU XXVVII di Situbondo, tahun 1984. Foto IST

NUSANTARANEWS.CO – Jelang Hari Pahlawan 10 November besok, gelar nama pahlawan nasional bertambah satu lagi, setelah Presiden Joko Widodo mengesahkan KHR As’ad Syamsul Arifin pahlawan nasional. KHR As’ad Syamsul Arifin lahir pada tahun 1897.

Melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 90/TK/2016, Rabu (9/11/2016) penganugerahan gelar pahlawan kepada KHR As’ad Syamsul Arifin resmi diberikan. Namun, berdasarkan Surat Keputusan Presiden, pengesahan As’ad Syamsul Arifin sebagai pahlawan sudah ditetapkan pertanggal 3 November 2016 lalu.

Salinan Keputusan Presiden RI. Foto IST

Salinan Keputusan Presiden RI. Foto IST

Penganugeragan gelar terhadap Kiai As’ad ini tak lepas dari sumbangsih beliau terhadap perjuangan melawan penjajah. Kiai As’ad jor-joran dalam melakukan konsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah bersama para TNI menumpas penjajah.

Pahlawan era perjuangan kemerdekan ini juga menjadi Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia saat memukul mundur penjajah. Perjuangan Kiai As’ad dalam mengusir penjajah sangat nyata.

Bahkan pondok pesantren yang ia pimpin kerap diteror pasukan penjajah. Berkat kegigihannya, Kiai As’ad sukses memenangkan pertempuran melawan Belanda di Bantal Asembagus ketika markas TNI dikepung.

Selain itu, Kiai As’ad juga terkenal sebagai sosok yang sangat pancasilais. Ketegasannya dalam menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi NU menunjukkan dirinya adalah sosok yang patriotik dan pancasilais sejati.

Di lansir dari NU Online, saat Pemerintah mewajibkan penggunaan Pancasila tahun 1982/1983, NU merespon cepat dengan menggelar Munas Alim Ulama di Ponpes milik Kiai As’ad.

Tanggal 21 Desember 1983, Munas memutuskan menerima Pancasila dan revitalisasi Khittah 1926. Pada bulan Desember 1984 dalam Muktamar NU XXVII diputuskan asas Pancasila dan Khittah NU. Saat itu, NU menjadi satu-satunya ormas pertama yang menerima Pancasila.

Gagasan besar KH Achmad Shiddiq dalam menerima Pancasila ini diiyakan oleh KH As’ad bersama KH Mahrus Ali, KH Masykur dan KH Ali Ma’shum. Akibat dari menerima Pancasila itu, KH As’ad sering mendapatkan teror, surat kaleng dan ancaman mau dibunuh. (Romandhon)

Komentar

To Top