Dwi Hartanto bersama BJ Habibie. Foto: dokumentasi pribadi
Dwi Hartanto bersama BJ Habibie. Foto: dokumentasi pribadi

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Baru-baru ini mencuat kabar membanggakan tentang sosok pemuda asal Yogyakarta yang mengharumkan tanah air. Dwi Hartanto namanya. Ia adalah pria berusia 28 tahun yang sebentar lagi bergelar profesor. Kisah membanggakan ini bermula dari sebuh peristiwa sederhana pada suatu siang di negeri Kincir Angin, Belanda.

Siang itu, tatkala Dwi Hartanto asyik melakukan penelitian di laboratorium kampusnya di Belanda, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Melihat nomor di layar, dia tahu bahwa nomor itu berasal dari luar. “Si penelepon bilang, bapak ingin bertemu. Saya sempat bingung, siapa bapak yang dia maksud,” cerita Dwi ketika ditemui batampos setelah pembukaan Visiting World Class Professor, forum pertemuan diaspora dari berbagai negara, di Jakarta, Senin (19/12/2016) tahun lalu.

Penuh penasaran Dwi mencari tahu siapa “bapak” yang ingin bertemu dirinya. Tak dinyana, ternyata orang yang menelepon dirinya adalah petugas protokoler mantan Presiden B.J. Habibie. Dan yang dimaksud “bapak” itu tak lain adalah B.J. Habibie sendiri. Dwi sempat berpikir ada apa gerangan, tokoh sekaliber Habibie ingin menemui dirinya. Akhirnya, awal Desember 2016 Dwi Hartanto dan Habibie pun bertemu di sebuah restoran di Den Haag, Belanda. Pertemuan itu pun tidak berlalu forma dan santai

Putra pasangan Chamdani dan Astri itu sangat bangga bisa bertemu berdua dengan salah seorang tokoh besar Indonesia. Kendati sebelumnya Dwi pernah bertemu dengan Habibie, bedanya pertemuan kali ini hanya berdua tidak bersama banyak orang.

Selain berbincang tentang keilmuan, Habibie meminta Dwi bersedia membantu negara meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Dwi pun menyanggupi permintaan pakar pesawat terbang tersebut. Karena itu, dia bersedia pulang untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan stakeholder pendidikan tinggi di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga curhat soal kegetolan pemerintah Belanda menawari dirinya paspor Negeri Kincir Angin. Sejauh ini, doktor bidang aerospace engineering itu mampu menolak dengan halus. “Pak Habibie bilang, kalau pemerintah Belanda masih menawari lagi, saya disuruh melapor ke beliau. Nanti beliau yang menghadapi pemerintah Belanda,” kenang Dwi.

Wejangan Habibie Berasa Nasehat Orang Tua

Ketika itu, Habibie mewanti-wanti agar Dwi tetap keukeuh mempertahankan prinsip kewarganegaraannya. Jangan sampai mau pindah kewarganegaraan di Belanda. Perkara bekerja untuk perusahaan internasional atau bahkan membantu pemerintah Belanda, itu sah-sah saja. “Kamu jangan sampai mencabut jati diri dan kewarganegaraan Indonesia-mu,” pesan Habibie.

Wanti-wanti suami almarhumah Ainun Habibie itu menguatkan pesan yang disampaikan orang tua Dwi. Setiap pulang ke Jogja, misalnya saat Lebaran, orang tuanya selalu berpesan supaya Dwi tidak lupa asal muasalnya. “Memang, di Belanda hujan emas. Tetapi, siapa yang membantu negaramu?” kata Dwi menirukan wejangan orang tuanya.

Dwi menyatakan, besarnya tawaran berpaspor Belanda itu muncul karena riset yang dilakukan sangat sensitif. Riset-riset Dwi bersama para guru besar dari Technische Universiteit (TU) Delft selama ini menggarap bidang national security Kementerian Pertahanan Belanda, European Space Agency (ESA), NASA, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), serta Airbus Defence.

Salah satu riset sensitif yang dia garap adalah teknologi roket untuk militer dan misi luar angkasa. Dwi juga menggarap satelit untuk riset luar angkasa serta pertahanan dan keamanan (hankam). Dia terlibat pula dalam penyempurnaan teknologi pesawat tempur Eurofighter Typhoon generasi anyar milik Airbus Defence. “Riset bidang itu kan sensitif sekali jika digarap orang dari negara lain,” ujar pria yang betah membujang itu.

Kasarannya, potensi untuk menjual hasil riset ke pesaing usaha atau membocorkan pertahanan Belanda ke negara lain sangat memungkinkan. Karena itulah, Dwi berkali-kali ditawari untuk pindah kewarganegaraan Belanda.

Dari riset-riset yang dilakukan, Dwi telah mengantongi tiga paten di bidang spacecraft technology. Sayang, dia terikat kontrak untuk merahasiakan paten tersebut. Dia tidak bisa membeberkan tiga paten itu karena terkait dengan program strategis.

Dilema Ilmuan Muda

Dia mengaku cukup dilematis saat menolak tawaran pindah kewarganegaraan tersebut. Sebab, biaya kuliah S-2 dan S-3 Dwi di TU Delft dibiayai pemerintah Belanda. Dia tidak ingin dicap sebagai ilmuan yang tidak bisa berterima kasih kepada pihak yang membiayai kuliahnya.

Sarjana Tokyo Institute of Technology itu menegaskan, dirinya tidak memiliki tips khusus saat belajar sehingga mampu meraih gelar doktor dalam usia muda. Menurut dia, kunci utamanya adalah harus memiliki interest atau ketertarikan pada bidang yang digeluti. “Butuh lebih dari passion,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, ketika menggarap roket pada 2015, dirinya hanya sempat tidur 2-3 jam. Waktunya habis untuk melakukan riset-riset di laboratorium. Apalagi, risetnya memerlukan perhatian khusus karena terkait dengan kemampuan high qualified. “Sama-sama berbasis teknologi. Tetapi, mendesain motor dengan mendesain pesawat kan beda,” katanya.

Bekal lain yang dimiliki Dwi adalah kemampuan di bidang matematika dan fisika. Saat duduk di bangku sekolah, bungsu dua bersaudara itu memang hobi astronomi. Kemampuan menguasai matematika dan fisika itulah yang mengantarkannya menjadi calon profesor di bidang aerospace engineering dalam usia yang terbilang masih muda.

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar