Sutu Adegan Menegangkan fi Film The Notebook | Pinterest
Sutu Adegan Menegangkan fi Film The Notebook | Pinterest

NUSANTARANEWS.CO – Bagaimana rasanya ketika hubungan yang awalnya terlihat dan tampak sempurna tiba-tiba berubah rasa serasa racun? Tak sedikit orang lalu mengumpat, memarahi, kecewa, stres dan frustasi ketika sadar bahwa kenyataan sudah tak lagi seindah seperti saat-saat indah bersama duhulu. Itu sakit, bahkan sangat menyakitkan.

Kendati sadar itu sakit, tak sedikit pula orang masih saja tetap berharap hubungan bisa dirajut kembali meski sebetulnya sudah kadaluwarsa. Dalam situasi ini, seperti ditulis Independent, memang tampak seperti sebuah misteri. Apakah ini bentuk takut sendirian?

Orang kini telah banyak bicara dan menjelaskan mengapa mereka memutuskan untuk tetap mencintai dan mengharapkan kekasih lamanya meski mereka tahu itu sudah tidak mungkin terjadi.

“Cinta hanya memudar, bukan secara tiba-tiba hilang begitu saja atau saya harus ucapkan saya sudah tak mencitaimu lagi,” tulis seseorang di forum Reddit.

“Suatu hari nanti saya menyadari bahwa saya senang karena dia tidak lagi bisa kembali oleh sebab lain. Saya menduga dia telah mulai jatuh hati dengan rekan kerja karena mereka sudah saling mengenal. Hal yang lucu adalah saya tidak merasa marah atau terluka atau merasa dikhianati,” tulisnya.

Namun, harus diakui juga bahwa orang luar sudah barang tentu tidak tahu apa yang sudah terjadi pada hubungan percintaan orang lain. Sebab, ada juga pasangan yang berhubungan dalam jangka waktu sudah lama tetapi mereka tidak saling mencintai dan akhirnya putus. Ketika putus, orang lain pun lantas heran dan bertanya-tanya keheranan. Akhirnya, tak sedikit orang menyayangakan kandasnya hubungan yang telah terbina sekian tahun itu.

Tetapi, ada pula sebagian lain tahu bahwa pasangannya tidak memiliki rasa cinta sejati kepada dirinya. “Dia tidak mencintaiku, tidak pernah merasa memiliku, dan aku tahu itu. Tapi, itu sama sekali tak menghentikanku untuk tidak mencintainya,” tulis seseorang lain dalam forum tersebut.

“Kami jalan terus karena saya tidak punya harga diri atau pengendalian diri. Dan dia terlalu malas, dan aku terlalu nyaman baginya untuk mencari di tempat lain. Kami adalah teman terbaik. Sulit untuk menarik garis ketika kita sudah terbiasa memiliki waktu yang baik bersama-sama,” kata dia.

Penulis: E. Dieda

Komentar