Petani tembakau/Foto: komunitaskretek.or.id
Petani tembakau/Foto: komunitaskretek.or.id

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Sebagai salah satu komoditas strategis nasional, perkembangan pertanian tembakau saat ini dinilai masih kurang optimal mengingat jumlah produksi tembakau belum dapat mencukupi keseluruhan permintaan industri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Wening Swasono menyampaikan tembakau berbeda dengan komoditas-komoditas strategis pertanian lain. Tembakau belum mendapatkan dukungan dan bantuan yang diperlukan untuk bisa meningkatkan produktivitas, seperti pendampingan dan penyuluhan teknis pertanian, pemberian bibit unggul dan pupuk, pembangunan infrastruktur, serta akses terhadap peralatan pertanian yang lebih modern.

“Tata niaga pertanian yang kompleks juga menjadi salah satu hambatan utama perkembangan komoditas tembakau. Petani seringkali tidak mendapatkan akses langsung untuk menjual hasil panennya kepada pabrikan/pemasok sehingga harus mengandalkan para pengepul dan belandang,” ungkap Wening Swasono.

Wening menambahkan keberadaan pihak ketiga (pengepul) sudah sangat meresahkan petani, karena dianggap sangat merugikan. Pengepul mengambil keuntungan, yang semestinya keuntungan tersbut bisa diperoleh petani.

“Nilai keuntungan yang seharusnya diterima oleh petani sebagian besar akan hilang akibat peran pihak ketiga. Kami berharap Pemerintah dapat membantu menyederhanakan tata niaga pertanian tembakau sehingga kesejahteraan petani juga akan meningkat,” imbuh Wening.

Sementara Antropolog UGM, PM. Laksono menyatakan bahwa tembakau itu kembang tani yang menentukan daya tahan motivasi usaha para petani, tembakau masih menjadi pilihan petani dalam bercocok tanam pada saat musim kemarau, dimana tanaman lain tidak bisa tumbuh dengan baik dan bahkan cenderung akan menambah beban biaya produksi taninya.

“Tembakau sejak zaman kolonial menjadi komoditas primadona andalan bernilai ekonomi tinggi yang telah memberikan keuntungan tidak sedikit bagi Pemerintah Hindia Belanda, sehingga dijuluki sebagai emas hijau”. Katanya

Laksono menambahkan Agribisnis tembakau telah menciptakan aliran ekonomi yang besar dan efek ganda (multiflier effect) dari hulu sampai hilir, antara lain tumbuhnya sektor sekunder dan tersier yang terkait dengan distribusi, pemasaran, perbankan, dan kegiatan pendukung lainnya.

Dari sisi serapan tenaga kerja, saat ini terdapat 6,1 juta orang baik langsung maupun tidak langsung di tingkat on-farm dan off-farm yang hidupnya terkait dengan komoditas ini dan  potensi dampak sosial serta konfliknya cukup besar.

“Saat ini, hasil panen komoditas tembakau nasional memang masih kurang, saat ini mestinya pemerintah mendorong swasembada tembakau, yang mana tentunya membutuhkan proses dan waktu.  Melihat kondisi geografis dan pola iklimnya, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu produsen komoditas tembakau terbesar di dunia, bahkan untuk pasar ekspor, tambah Laksono,” pungkasnya

Pewarta: Ucok Al Ayubbi
Editor: Romandhon

Komentar