Aksi Komunitas Kretek Tolak Hari Anti Tembakau Sedunia/ Foto: Dok. Aktual.com
Aksi Komunitas Kretek Tolak Hari Anti Tembakau Sedunia/ Foto: Dok. Aktual.com

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kelompok anti tembakau selalu menuduh rokok berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Penghitungan dampak dan kerugian akibat penyakit mematikan seperti jantung dan kanker selalu menjadikan rokok sebagai faktor tunggal.

“Padahal, kedua penyakit tadi disebabkan oleh banyak hal dan tak melulu disebabkan oleh rokok,” ungkap Ketua Komunitas Kretek, Aditia Purnomo, Jakarta, Kamis (09/03/2017).

Aditia mencontohkan, lima negara dengan rasio penderita kanker terbesar adalah Denmark, Irlandia, Australia, Selandia Baru, dan Belgia. Kelima negara tersebut sama sekali tidak masuk dalam 10 besar negara dengan perokok terbanyak.

“Kalau mengikuti logika rokok selalu menyebabkan penyakit kanker, harusnya Cina adalah negara yang memiliki rasio penderita kanker terbesar. Bukannya Denmark,” ujarnya.

Menurutnya, di sinilah cacat penghitungan dampak akibat rokok terlihat. Mereka yang mengatakan kalau pemasukan negara dari rokok sama sekali tak sebanding dengan besaran biaya yang harus dikeluarkan karena dampaknya, selalu menghitung semua penyakit berbahaya pasti disebabkan rokok, padahal kenyataanya tidak begitu.

Untuk lebih meyakinkan, Aditia pun mengajak publik melihat kasus mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedianingsih. Endang adalah seorang yang hidup di lingkungan kerja tanpa asap rokok. Suaminya adalah orang yang aktif di dunia kesehatan pula. Jadi agak sulit membayangkan Almarhum Ibu Endang terpapar asap rokok karena aktivitasnya.

“Orang yang jauh dari asap rokok seperti Bu Endang saja masih terkena kanker paru-paru. Kanker paru-paru  yang katanya selalu disebabkan oleh rokok itu. Jadi, masih mengatakan kalau rokok selalu menjadi penyebab kanker?,” kata Aditia seraya bertanya.

Karena penghitungan selalu diawali dengan cacat logika seperti ini, Aditia menegaskan, tidak layak angka-angka yang ditampilkan teman-teman anti tembakau dan juga yang menjadi headline di harian Kompas edisi Senin (06/03/2017) kemarin sebagai dampak akibat rokok.

“Bahwa rokok menjadi faktor resiko memang betul, tapi tak melulu menjadi faktor utama penyebab penyakit kematian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Aditia menambahkan bahwa di Indonesia, tidak sedikit para sesepuh yang sudah berusia lanjut namun masih tetap sehat dan merokok setiap harinya. Bahkan orang yang disebut sebagai tertua di dunia, Mbah Grotho, juga masih merokok hingga usia lanjut. Ini adalah salah satu bukti paling nyata bahwa persoalan kesehatan tak melulu disebabkan oleh rokok.

“Dan menjadi bukti bahwa mereka tetap sehat di usia lanjut, walau merokok bukanlah hal yang kasuistik karena jumlah orangnya tak bisa dibilang sedikit,” katanya.

Penulis/Reporter: Rudi Niwarta

Komentar