A banner is seen during a protest against what demonstrators say is the crackdown on ethnic Rohingya Muslims in Myanmar, as police stand guard in front of the Myanmar embassy in Jakarta, Indonesia November 25, 2016. REUTERS/Beawiharta

Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch*

ROHINGYA ADALAH KITA

Rohingya adalah kita, dan dunia membisu saat ribuan jagal manusia yang tak berdosa itu dengan durjana mengibarkan bendera hitam genocida.

Myanmar mencakar nalarku, membakar hati sanubari dunia.

Myanmar menjadi sungai darah, dan cinta menjelma air mata.

Di langit biru ada jutaan burung dara berwarna putih yang terbang jauh, sebab di bumi telah penuh sesak amuk dan nista manakala ribuan algojo berbaju merah itu telah memenggal nafas etnis Rohingya.

Dalam sujud tahajudku, aku hanyut di tengah laut berkabut. Setelah Bosnia dihina dan dilecehkan entah oleh siapa, kini giliran Rohingya yang dikubur hidup-hidup tanpa ada nama pada batu nisannya.

Masihkah dunia membisu untuk menyuarakan terompet keadilan kepada semesta?

Bagaimana bisa dunia menjadi tuli atas musibah marwah kemanusiaan dan hancurnya martabat keadilan atas ribuan jiwa yang tanpa dosa?

Wahai putra-putri yang dilahirkan di Tanah Surga ini, jemputlah bidadari jelita dengan uluran tanganmu sendiri, buatlah jembatan gantung dari Myanmar hingga ke dalam jantungmu sendiri.

MENUNGGU HUJAN REDA

Pada tautan cinta, kukirimkan pesan bertagar bunga. Itulah caraku menunggu hujan reda.

Tapi di cakrawala, mendung semakin tebal menggelantung. Sesekali guruh menyuarakan pesan bahwa rindu tak boleh rapuh dan langit tak pantas runtuh.

Gerimis kembali jatuh di negeri ini, pohon-pohon pun basah dan daun-daun kuning gugur bersama luka yang tak kunjung sembuh.

Aku bertanya pada cermin pecah yang teronggok di bawah kaki Garuda. Siapakah yang diam-diam menistakan cinta dengan memotong rindu yang bersahaja?

Tak mudah merawat kata saat badai menggelora dan mengibaskan cakarnya. Bhineka Tunggal Ika seakan menjadi hasrat yang kian sekarat saat anak-anak negeri telah melucuti jati dirinya dan berjubah angkara.

Menunggu hujan reda, pesan salam kukirimkan bertagar bunga. Sebab esok atau lusa, kita akan bertemu kembali untuk memetik harum tanah air di bumi yang sama.

Baca :

Jakarta Lautan Doa

Jakarta Lautan Cinta

HM. Nasruddin Anshoriy Ch, Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri, Bantul, DIY

Komentar