Puisi

Riwayat Yaman Wulung dan Kecubung Wulung – Puisi Abdul Wachid B.S.

RIWAYAT

ketika saudi arabia serang yaman
aku ingat silsilah nenekmoyang yang
melayarkan mazhab dan nasab
menikah dengan gadis cina madura

beranakpinak di kota bandar tuban
di sekitar masjid sentana tiban
berkhikmat kepada kanjeng sunan bonang
bunga kenanga dan bunyi bonang

menjadi irama wewangian
menjelmakan jembatan suramangunjaya
hingga warna darah arabiah kembali kepada
tanah, tersebab yang

biru hanyalah langit
dan keluasan laut
di hadapan gubuklaut
saksi sampai kini, betapa

arabia tidaklah sebatas saudi
dari hadramaut, cinta dan agama terpaut
kapalkapal melayar ke bandar
menggelar namanama menjelma jawa

ketika saudi arabia serang yaman
aku ingat silsilah nenekmoyang yang
dari hadramaut cinta agama
melayarkan agama cinta di nusantara

yogyakarta, 5 april 2016

YAMAN WULUNG

al-jaza’ al-yamani
akik yamani hitam pekat
dan semoga hati kau aku akui
tidaklah terikat oleh syahwat

suatu hari kekasih para kekasih
keluar rumah dengan cincin
di tangan kanan yang
batunya berhiaskan jaza’ yamani

kekasih para kekasih
sembahyang berjamaah
usai memberikan cincin
bibir indahnya berbuah sabda

“pakailah ini di tangan kanan
sembahyanglah dengannya
maka akan sama tujuh puluh kali
sujudmu dicahayai

jaza’ yamani yang
tak henti bertasbih yang
tak henti beristighfar yang
segala pahala dia hadiahkan
kepada pemakainya”

batubatu bersujud
ingat kau aku yang
akan merasakan waktu terhenti
di uratnadi

waktuwaktu bersujud
ingat kau aku yang
akan merasakan usia tidak terhenti
cuma di urat duniawi

yogyakarta, 9 april 2016

KECUBUNG WULUNG

tanpa kecubung wulung
tanpa tampak hitam, yang
di dalam ungu merindu
hati kau aku tidak terikat oleh batu

seluruh tubuhmu menjelma
aura kecubung, merasuk
tersebab ruhmulah yang nyala
memberi arah setiap wajah sejuk

tetapi, kecubung wulung
terlanjur menghias jemari
adakah hati kau aku bergantung
hingga nurani padam mati?

dengan kecubung wulung
yang tampak hitam, manis dipandang
yang di dalam ungu merindu
tetapi, hati kau aku terikat oleh haru

yogyakarta, 15 april 2016

Abdul Wachid B.S.
Abdul Wachid B.S.

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

Buku-buku karya Achid : (1) Buku puisi, Rumah Cahaya (1995). (2) Buku esai, Sastra Melawan Slogan (2000). (3) Buku kajian sastra, Religiositas Alam : dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (2002). (4) Buku puisi, Ijinkan Aku Mencintaimu (2002). (5) Buku puisi, Tunjammu Kekasih (2003). (6) Buku puisi, Beribu Rindu Kekasihku (2004). (7) Buku kajian sastra, Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (2005). (8) Buku esai, Sastra Pencerahan (2005). (9) Buku kajian sastra dan tasawuf, Gandrung Cinta (2008). (10) Buku kajian sastra, Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (2009). (11) Buku puisi, Yang (2011). (12) Buku puisi, Kepayang (2012). (13) Buku puisi, Hyang (2014).

Website: www.wachid.8m.com; E-mail: [email protected] dan [email protected]; Twitter @abdulwachidbs; Facebook: www.facebook.com/abdulwachidbs

Related Posts

1 of 124