Connect
To Top

Revolusi Sajadah dan Balada Wiro Sableng – Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

Revolusi Sajadah

Busur tanpa panah seakan hijrah yang hilang arah.

Panah tanpa busur hanyalah rindu yang letih dan pantang dikubur.

Pagi ini ada malaikat bertanya padaku, perihal panah, busur dan juga sajadah.

Seperti cinta yang telah kehilangan aura, sajadah digelar sebagai senjata, dan aneka bunga tak sempat diajak bercanda.

Dalam bening air wudlu, kudengar suara gaib dalam aliran darahku.

Kusimak dengan seksama bisikan dari langit dalam detak jantungku.

Revolusi membutuhkan puisi, sebab sajadah yang kehilangan arah hanya akan menjadi auman serigala.

Revolusi sajadah tak boleh salah, sebab kiblat yang sesungguhnya bukanlah kebencian dan ego diri.
Balada Wiro Sableng

Wiro Sableng tak pernah menunggang kuda. Ia juga tak pernah paham makna kata apa dan kenapa.

Sebagai pendekar mabuk, ia tak perlu arak untuk ditenggak, tak perlu gelas untuk meminum kopi, sebab waras atau tidak waras adalah jurusnya.

Wiro Sableng menetak langit dengan kapaknya, tapi terbelah adalah mendung dan senja.

Pendekar bergelar dua-satu-dua itu seakan sudah tak sabar untuk berlaga.

Mencakar mega, menebas bianglala, adalah dendam dan amarahnya yang purba.

Wiro Sableng menolak purnama, menghardik cahaya, dengan ayat-ayat kiamat yang entah apa maksudnya.

Ia juga bergelar Sinto Gendeng, sebab bukan Dewa yang ia taati, tapi lebih pada nafsunya sendiri.

Dua-satu-dua adalah pertanda, saat kapak bermuka dua itu hendak menebas tahta dan singgasana, maka jurus mabuk menjadi andalannya.

Berguru pada singa sang raja rimba, yang mengaum hanya di hutan belantara, Wiro Sableng tak pernah paham makna kata apa dan kenapa.

Sinto Gendeng sedang bersiap turun ke jalan raya, sebab menunggu lebaran kuda tak kunjung tiba.
Revolusi Melati

Revolusi akan datang menjelang pagi. Entah dalam mimpi atau saat kening dan sajadah bertemu sebelum subuh di sudut hati.

Revolusi tak lahir dari deru dan desing peluru, tapi dari debu dan desah rindu.

Bukalah jendela kamar dan pintu rumahmu, berkacalah pada indahnya mawar dan wangi melati.

Saat bening embun meleleh di kelopak dua mata, ada mata air cahaya yang memancar di langit rindu, juga sebutir debu yang bersujud di bumi kelu.

Pahlawan tak lahir di ujung jari, dari sakit hati atau purbasangka dan revolusi tak akan terjadi di sayap merpati.

Pahlawan tak perlu puji dan sembah, atau kata-kata penuh puja agar tampak jumawa.

Revolusi bisa bermula dari secangkir kopi, setelah kompor dan korek api berbisik di ruang sunyi.

 

Gus Nas

Gus Nas

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

Komentar