Energi Thorium. Foto Ilustrasi via kompasiana
Energi Thorium. Foto Ilustrasi via kompasiana

NUSANTARANEWS.CO – Era teknologi saat ini, listrik telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Listrik seolah menjadi bahan kehidupan manusia kedua setelah makanan. Hampir semua peralatan kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari energi bernama listrik. Mulai handphone, notebook, radio hingga vacum cleaner semua membutuhkan energy listrik.

Industri pembangkit listrik telah mengalami perubahan signifikan. Dari yang sebelumnya menggunakan arus aliran air (sungai, air terjun, dll) kini telah berubah ke pembangkit listrik dengan tenaga nuklir. Tenaga nuklir digunakan karena dianggap lebih efisien dan dapat memberikan hasil energi yang lebih besar.  Sebagian besar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dunia menggunakan zat uranium (UO2) dengan pengayaan 2-5% (Erlan Dewita, 2012: 45).

Selain itu, energi nuklir juga dapat menjadi senjata pemusnah massal yang mengerikan. Kita semua tahu bahwa manhatttan project yang dilakukan sekutu pada perang dunia 2 mampu meluluh-lantakan Hiroshima dan Nagasaki dalam sekejap. Itu artinya, tenaga nuklir bisa menjadi momok serius bagi masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia.

Alternatif Baru

Saat ini muncul sebuah terobosan baru dalam dunia teknologi dimana uranium yang selama ini menjadi idola utama sebagai reaktor nuklir telah muncul zat baru yang lebih efekti dan efisien bernama Thorium. Thorium merupakan zat yang saat ini menjadi banyak perbincangan di kalangan para akademisi khususnya di dunia saintis. Dimana thorium memiliki banyak kelebihan dibanding uranium. Apa itu thorium?

Thorium (Th) atau biasa disebut nuklir hijau adalah salah satu unsur atom dengan no atom 90 yang memiliki sifat radioaktif sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar raktor nuklir. Thorium menjadi idola baru karena jumla thorium yang lebih banyak dibanding uranium (sekitar 3-4 kali lebih banyak).  Karena thorium bukan inti fisile maka untuk menggunakan thorium ini memang menggunakan uranium namun hanya sebagai pemicu reaksi karena setelah itu thorium dapat membelah dan menghasilkan uranium 233 atau dengan dilakukan penembakan neutron sehingga thorium dapat membelah (IAEA; Throrium Fuel Cycle – potentiel and chalanges).

Saat ini penghasil thorium tersebar di dunia berada di India dengan perkiraan mencapai 846.000 ton (Erlan Dewita, 2012: 45). Di indonesia sendiri thorium tersebar dari Bangka Belitung hingga Sulawesi Barat dengan perkiraan sekitar 140.000 ton. Potensi terbesar berada di wilayah Bangka Belitung.  Potensi ini diperkirakan dapat menghidupi listrik Indonesia selama kurang lebih 1000 tahun.

Mengapa indonesia harus menggunakan thorium? Ada beberapa alasan meengapa indonesia harus menggunakan thorium dibanding dengan uranium diantaranya sebagai berikut:

  • Jumlah thorium lebih banyak 3-4 kali lipat lebih banyak dari zat atom uranium. Hal ini tentu menjadi keuntungan yang sangat besar.
  • Thorium lebih ramah lingkungan dibanding uranium. Limbah yang dihasilkan oleh uranium akan terurai lebih kurang selama 10.000 tahun sedangkan lembah yang dihasilkan thorium dapat terurai hanya dengan waktu 500 tahun.
  • Dalam proses pengoperasiannya, jika terjadi masalah dengan thorium dapat dimatikan segera dan reaktor akan mendingin dengan sendirinya sedangkan uranium memerlukan intervensi konstan yang aktif untuk mencegah pelelehan.
  • Dengan sifat-sifat nuklir U-233 juga lebih unggul dibanding U-235 dan Pu-239 dalam reaktor termal, Penggunaan bahan bakar nuklir basis thorium diharapkan bermanfaat untuk menjaga keberlanjutan energi nuklir dan keamanan dari senjata nuklir.

Bangsa ini seharusnya sudah mulai melirik untuk menggunakan energi ini. Penemuan-penemuan baru ini seharusnya direspon cepat oleh Pemerintah guna mendongkrak produksi energi dalam negeri. Negara ini harus sudah melirik ke arah energi terbarukan guna memperkuat ketahanan energi hingga masa depan.

Ahmad Syafii, Kader PMII Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Komentar