Lukman Hakim Syaifuddin/Foto Hatim/Nusantaranews
Lukman Hakim Syaifuddin/Foto Hatim/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Perkembangan era virtual yang begitu pesat adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Era virtual merupakan era yang memiliki sisi positif dan negatif dalam mendorong kerukunan dan menerapkan nilai-nilai kehidupan beragama.

Sisi negatif misalnya, digitalisasi mampu memicu pergeseran dalam memahami makna suatu agama. Oleh karena itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan agar digitalisasi digunakan dan diorientasikan pada upaya-upaya edukasi. Termasuk mendukung masyarakat memahami makna sebenarnya ajaran agama.

Dalam siaran resminya yang diterima redaksi (12/7) Lukman Hakim mengaku bahwa tantangan besar yang dihadapi oleh pimpinan agama dan penyelenggara negara sekarang ini, yaitu upaya mengembalikan esensi agama yang memuliakan manusia.

“Banyak manusia sekarang ini berupaya memenangkan kompetisi maupun konflik dengan menggunakan agama. Bahkan kemudian, agama menjadi pembenar untuk memenangkan konflik atau kompetisi tersebut,” ujarnya saat isi acara bertajuk The 1st Indonesia-Singapore Interfaith and Intercultural Dialogue (ISID) di Singapura (11/7).

Sementara itu Duta Besar RI untuk Singapura, I Gede Ngurah Swajaya, dalam sambutannya mengatakan bahwa ISID diselenggarakan dalam rangka meningkatkan hubungan dan kerjasama antar masyarakat Indonesia dan Singapura dalam hal mengatasi tantangan global saat ini, khususnya di bidang ekstrimisme dan radikalisme.

(ed) Romandhon

Komentar