NUSANTARANEWS.CO – Kementerian ESDM sedang melakukan pembahasan mengenai revisi harga batu bara untuk PLTU mulut tambang. Patokan harga selama ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 9/2016, harga batu bara untuk PLTU mulut tambang ditambahkan margin sebesar 15%-25% dari biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan tambang. PLN menilai margin sebesar 15%% terlalu besar di tengah penurunan harga batu bara saat ini, sehingga membuat PLN tidak efisien dalam melakukan produksi listrik.

Sehubungan dengan itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menurunkan batas bawah margin harga jual batubara untuk pembangkit listrik mulut tambang. Tujuannya, agar PT PLN (Persero) bisa membeli sekaligus listrik dengan harga lebih murah bagi masyarakat.

DirJen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono berharap, pengelola pembangkit listrik mulut tambang dan produsen batubara bisa menurunkan harga batubara lebih rendah sehingga bisa menekan biaya produksi listrik. Dengan demikian PLN bisa menyediakan listrik yang lebih murah kepada masyarakat.

Menanggapi rencana tersebut, Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengungkapkan bahwa revisi margin harga batubara ini merupakan kabar menggembirakan bagi pengembangan proyek ketenagalistrikan. Perkaranya, banyak pengembang listrik menganggap margin yang berlaku saat ini terlalu tinggi, sehingga harga listrik yang dibeli PLN menjadi mahal.

Bila nanti revisi peraturan tuntas, sudah ada tujuh perusahaan siap menandatangani perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan kapasitas 7 ribu Megawatt (MW), jelas Sofyan.(banyu)

Komentar