Artikel

Reinforcement Crisis Management – Opini Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin

Danrem 161Wira Sakti Brigjen TNI Heri Wiranto Saat Memberikan Pembekalan Wawasan kebangsaan dan nasionalisme kepada pelajar di Flores Timur. Foto Dok. TNI AD
Danrem 161Wira Sakti Brigjen TNI Heri Wiranto Saat Memberikan Pembekalan Wawasan kebangsaan dan nasionalisme kepada pelajar di Flores Timur. Foto Dok. TNI AD

NUSANTARANEWS.CO – Saya ingin memberikan kontribusi pandangan sebagai siswa kursus Krisis Manajemen pada NATO School yang berasal dari negara bukan anggota NATO.

Dunia yang tanpa batas pada era keterbukaan di abad ke-21 dewasa ini, tentu memiliki perbedaan pada era perang dingin sebelumnya. Berbagai fenomena yang membuat dunia kaget dengan terjadinya berbagai peristiwa yang bahkan akibatnya fatal. Dunia dikagetkan dengan peristiwa 9-11-2001 di Amerika Serikat yang bisa menembus kecanggihan sistem pertahanan udara nasional Amerika Serikat. Setelah serangan itu, dunia membuka mata dan pikiran meyakinkan semua pihak bahwa dunia menghadapi ancaman yang tidak hanya datang dari State Actors, tetapi nyatanya ada ancaman dari Non State Actors. Tentunya  NATO sebagai Institusi Aliansi Negara Atlantik yang punya kredibilitas global tampil sebagai penjuru untuk melakukan Quick Respond mengantisipasi serangan semacam itu.

Kita tidak hanya berhenti pada peristiwa yang menakutkan yang menyerang Twin Towers, bahkan menyerang Pentagon pada waktu itu di Amerika Serikat, dan di belahan dunia lain terjadi beragam fenomena krisis pada skala nasional dan skala regional. Dimensi lain bisa disebutkan krisis ekonomi yang terjadi di Yunani baru-baru ini meminta perhatian EU (European Union) untuk membantu.

Fenomena ASIA

Dunia juga memperhatikan apa yang terjadi di Asia terkini, yang oleh pemerintah negara kejadian harus membangun suatu pusat pengendalian krisis, karena akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut menimbulkan akibat yang meluas terhadap kemanusiaan dan kelangsungan hidup bangsanya. Beberapa peristiwa yang terjadi di ASIA yang bisa dikategorikan krisis seperti terjadinya gempa bumi di Jepang tahun 2011, wabah penyakit MERS (Middle East Respiratory Syndrome) di Korea Selatan dan Saudi Arabia, Flu Burung di Singapura tahun 2013. Selain itu seperti yang kita semua mengikuti dinamika instabilitas keamanan di Afghanistan dan Irak serta fenomena terbentuknya ISIS (Islamic State Iraq and Syria) yang membuat dunia tidak boleh diam untuk mengatasinya.

Saya mencatat beberapa dimensi krisis sejak Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari penjajah tahun 1945, sejarah Indonesia mencatat peristiwa strategis yang mengakibatkan peristiwa kemanusiaan dan peristiwa negara yaitu peristiwa Kudeta Partai Komunis Indonesia 1965 yang membunuh Pimpinan Angkatan Darat. Peristiwa ini nyaris menimbulkan perang saudara di Indonesia. Pada tahun 1998 terjadi krisis ekonomi di Indonesia yang mengancam kelangsungan hidup 200-an juta rakyat Indonesia. Terjadi bencana alam yang mengundang bantuan internasional pada tahun 2004 di Aceh terjadi gempa bumi di atas 8 Skala Richter dan tsunami yang mengorbankan 100 ribu lebih jiwa dan kehancuran desa dan kota serta fasilitas militer dan saat ini di Indonesia sedang terjadi bencana kebakaran di Sumatra dan Kalimantan yang menimbulkan asap di atas 300 PSI (Pollutant Standard Index) yang mengganggu kesehatan warga setempat dan warga di negara tetangga Singapura dan Malaysia.

Fenomena Krisis

Saya ingin share bahwa penyebab krisis bisa terjadi oleh penyebab fenomena alam dan juga fenomena buatan yang mengakibatkan fatal bagi kehidupan manusia dan mengganggu stabilitas kelangsungan negara. Fenomena krisis tidak hanya berdimensi militer tetapi juga dari dimensi non militer.

Kecenderungan globalisasi dengan indikasi perang generasi ke-empat ditandai dengan perang asimetris, merupakan kecenderungan yang dapat menimbulkan fenomena krisis buatan lebih besar peluang dari pelaku Non State Actors, tetapi menghasilkan factor fatalitas yang sangat menakutkan. Spesifikasi Non State Actors Threat juga perlu memperhatikan kultur atau genetika dari kelompok yang memang memiliki “Habitat Teroris” dan “Ekspansionis” dengan Trend menggunakan label agama yang justru bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.

Reinforcement Crisis Management

Dunia mengenal dengan sebutan manajemen krisis, namun ada yang menafsirkan manajemen krisis sebagai mengelola krisis agar krisis tersebut terus terjadi. Tetapi kita sepakat manajemen krisis untuk mengatasi dan menanggulangi krisis agar situasi kembali normal dan stabil.

Berbagai pola dan manajemen penanganan krisis yang sudah dikembangkan pada semua tingkat dan dengan peralatan canggih juga saya ingin berkontribusi beberapa hal sebagai berikut :

Esensi Manajemen Krisis adalah Kepemimpinan dan Manajemen yang perlu dikembangkan secara terintegrasi dan terkendali. Kontijensi militer dalam merespons dinamika taktis dan strategis dapat menjadi kerangka dasar dalam membangun respons mengatasi krisis, tetapi perlu Combine Access and Combine Efforts untuk memperkuat Organisasi Manajemen Krisis. Faktor penting manajemen krisis pada tingkat nasional dan internasional melakukan tindakan cepat mengatasi krisis dengan menggunakan Resources and Capabilities dari Local First Responders. Untuk itu, seluruh Emergency Support diidentifikasi dan dipersiapkan untuk mobilisasi ke daerah krisis dalam waktu singkat.

Informasi merupakan fakta yang dominan dalam manajemen krisis untuk mengantisipasi, merencanakan dan mengendalikan krisis manajemen. Informasi mengenai infrastruktur (critical infrastructure) yang mempunyai nilai vital dan strategis harus menjadi bagian penting dalam manajemen mengantisipasi serangan teroris. Beberapa serangan terjadi disebabkan kegagalan melakukan identifikasi dan pengamanan wilayah sebagai pencegahan.

Ekstra Kesiapan (extra readiness). Di era teknologi modern saat ini sudah sangat canggih teknologi perlengkapan yang kita miliki, tetapi perlu usaha manual yaitu komunikasi dengan Traditional Resources yang di Indonesia dikenal dengan istilah Pembinaan Teritorial (Territorial Management) sangat penting untuk mendukung Crisis Teams Experts yang sudah dilengkapi berbagai peralatan canggih.

Media. Pengalaman menunjukkan Media Operasional Manaje­men Krisis harus transparan. Media perlu memperoleh sebanyak mungkin dan Timely informasi. Jangan lupa dunia media tidak lepas dari sensasi terutama tragedi kemanusiaan dan korban sipil dipastikan menjadi High Level Attention. Oleh karena itu, para pelaksana manajemen krisis harus Proper Execution. Fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit serta keperluan mendasar masyarakat akan jadi perhatian media, maka itu perlu menjadi target First Responders. Dengan kata lain, manajemen krisis tidak hanya selesaikan masalah krisis, tapi lebih penting They Care about People and Have a Heart. Saya berpendapat dalam manajemen krisis perlu dibentuk IBO (Image Building Operation) yang terus menerus hadir dalam memberikan informasi.

Cyber. Agar menjadi kewaspadaan kita semua ancaman cyber akan sangat mungkin ambil porsi signifikan dalam manajemen krisis. Ancaman cyber tidak mematikan tapi melumpuhkan sistem multi dimensi suatu negara. Mengingat cyber war ini tidak kenal batas dan waktu, maka organisasi internasional seperti NATO perlu ambil inisiatif untuk merancang Pertahanan Internasional cyber. Di Indonesia upaya melakukan interaksi dengan para hackers untuk merespons suatu pusat pertahanan cyber war. Ada keperluan untuk merancang strategi pertahanan cyber secara terintegrasi untuk mengamankan kepentingan nasional negara yang bebas dari target serangan cyber.

Untuk keperluan prevensi secara global, NATO perlu mengingatkan dunia perlunya kepedulian masyarakat memahami manajemen krisis. Itulah pandangan saya ini sebagai perkuatan atas pemikiran dalam pembahasan krisis manajemen seperti yang pernah saya lihat dan alami. (ed)

Baca artikel sebelumnya:

Globalisasi Dan Perang Asimetris: Dampaknya Terhadap Pembinaan Infanteri (Bagian I)

Globalisasi Dan Perang Asimetris: Dampaknya Terhadap Pembinaan Infanteri (Bagian II)

Komentar

To Top