Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, M. A.
Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, M. A.
Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, M. A.
Oleh: Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, M. A.*

NUSANTARANEWS.CO – 1 Juni 2017 kemarin telah diperingati sebagai hari lahir Pancasila. Ramailah diskusi, perdebatan, pemujaan dan kritik terhadap sakralisasi hari Pancasila. Tapi sekedar warning jangan Pancasila terus-terus dipelihara sekedar sebagai mantra, ritual, dan retorika belaka. Dalam kenyataan apakah Pancasila sudah hadir melalui semua kebijakan negara? Apakah sudah hadir di kantor-kantor polisi, di kejaksaan, pengadilan, kantor pemerintah lainnya dan di pasar-pasar? Kalau ada seseorang setengah gila bertanya di mana saya bisa lihat dan bertemu Pancasila, tersediakah rujukan hidup bangsa kita yang dapat diobservasi?

Yang paling saya cemaskan tentang kehidupan bangsa kita saat ini adalah semakin nyatanya perbedaan dan jurang antara kata dan perbuatan. Hilanganya daya genggam masyarakat terhadap setiap janji para pemimpin, sulitnya menemukan sebutir keadilan sosial di tengah lautan kehidupan yang luas dan carut marut.

Fenomena kemunafikan semakin mencengkeram daya persepsi kita dalam melihat masa depan. Kemunafikan cenderung menjadi gaya hidup. Kebohongan dan ingkar janji menjadi seni kepemimpinan sehingga banyak awam yang mengalami disorientasi, halusinasi, dan terjebak dalam ilusi seolah-olah tak ada masalah sama sekali.

Mereka bahkan terperangkap kemusyrikan halus ketika pemujaan pada pemimpin munafik menjadi kebanggaan warga negara.

Sekarang tiba-tiba para penjahat ekonomi terserang penyakit jiwa berat dengan slogan membela Bhinneka Tunggal Ika, NKRI Harga Mati, Rela Mati untuk Pancasila. Para patriot mendadak atau mendadak patriot ini lupa bagaimana kaum pribumi didiskriminasi dan dilecehkan di tempat-tempat kerja mereka, di lingkungan perusahaan para patriot mendadak itu.

Celakanya, jaringan pers milik mereka mendramatisir slogan-slogan kosong itu seraya menyudutkan dan mengecilkan teriakan mayoritas rakyat yang nyata-nyata mengalami akibat dari kepincangan sosial ekonomi produk negara ini.

Ketidakadilan sosial adalah produk dari sistem. Bukan hasil proses alamiah dan pasti bukan takdir. Itu adalah produk sistem negara.

Maka, secara moral negara tidak punya lagi basis moral untuk memaksa rakyat tunduk pada kebijakan yang terbukti sudah gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.

Masyarakat Adil dan Makmur semakin jauh menghilang dalam angan-angan masyarakat pada lapisan bawah. Dalam mimpi pun sudah tak pernah hadir. Diantara mereka ada yang menganggap ‘Masyarakat Adil Makmur’ itu adanya di akherat, di bawah pemerintahan langsung oleh Allah SWT. Bukan di sini. Dan tak akan pernah hadir di NKRI harga mati ini, setidaknya dalam masa yang tak bisa kita prediksikan. Wallahu alam.

*Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, M. A. penulis adalah Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi (2010–2014) dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Persatuan Nasional (2000-2001).

Komentar