Raja Arab Salman Bin Abdulaziz al Saud/Foto via mirror.co
Raja Arab Salman Bin Abdulaziz al Saud/Foto via mirror.co

Oleh: Ni Nyoman Ayu Suciartini*

NUSANTARANEWS.CO – Entah Indonesia ini sungguh beruntung atau malang. Beberapa bulan diterpa isu intoleransi yang menyeret kesucian agama di dalamnya. Agama dijadikan pembenaran, alat politik, alat propaganda, juga hasrat dalam seks. Ibarat ibu mengandung, 9 bulan, janin harus dilepaskan. Entah dengan cara alami atau cara yang dikehendaki.

Seperti melahirkan, Indonesia harus mengeluarkan janin intoleransi ini. Jika selama ini secara alami tidak bertahan, maka pilihan lain adalah cara yang dikehendaki. Salah satunya bisa dimaknai dengan adanya lawatan Raja Salman. Raja ini begitu dielukan. Sebab kemewahan yang bergelayut di tubuhnya tak banyak dimiliki pemimpin di dunia.

Selain isu kemewahan, Raja ini membawa pesan kebaikan untuk penyakit intoleransi yang telah menjalar di negeri ini. Raja Arab Saudi, dengan simbol agama Islam yang kuat, simbol syariah yang berbinar, tetap merasa bukan apa-apa di mata Tuhan juga semesta. Raja ini tidak lantas merasa besar dengan segala pengetahuan agamanya. Ia simbol yang benar-benar menjadi obat untuk luka intoleransi yang terlanjur terjadi di negeri ini.

Tak ada terdengar ia memilih yang menjemputnya harus beragama sama. Ia tak juga nyinyir tentang simbol-simbol yang harus mengedepankan agamanya. Malah, ia memilih pergi melawat ke daerah yang jauh dari simbol-simbol yang menurutnya terlalu bau amis di Indonesia. Ia memilih Jakarta, Bogor, dan Bali. Bali? Ya…Bali. Sebuah tempat yang tidak tertutup, cenderung terbuka bahkan vulgar.

Tempat yang tidak mungkin halal, sebab babi masih berdampingan hidup bahkan menghiasi santapan di meja makan orang Bali. Bali yang justru liar menerima siapa pun yang datang, entah dengan maksud baik atau buruk. Bali yang paling percaya hukum karma, hingga kadang hukum dunia tak terlalu mengkhawatirkan.

Bali Yang Apa Adanya

Meski uang bukan halangan bagi Salman, ia tidak lantas meminta Bali menjadi kawasan wisata halal dalam sekejap. Kunjungannya bukan untuk membuat Bali menjadi apa yang dimaunya, melainkan melihat Bali yang tumbuh dengan segala adat tradisi yang meneduhkan hati. Meski dekat sekali, Raja Salman tak singgah ke Lombok yang dinobatkan sebagai wisata halal favorit 2016. Mungkin baginya, halal atau tidak itu soal sudut pandang. Sangat tidak elok ketika menyebut apa yang dimakan manusia Bali ini adalah makanan tidak halal. Bukankah halal atau tidak, Tuhanlah yang punya kuasa penuh atas itu?

Raja Salman memilih berkunjung ke Bali, entah apa yang ada dalam benaknya, merupakan cerita segar untuk Bali. Beliau akan melihat bagaimana toleransi dirawat baik di pulau seribu pura ini. Jika berkenan, mungkin ada investasi yang akan dibawanya. Jika itu tidak dilakukan, setidaknya Bali masih menarik untuk dikunjungi, Bali masih begitu menggoda Raja Arab Saudi ini. Wisata syariah yang tidak dapat dipenuhi Bali bukan jadi penghalang mereka yang “syariah” untuk menikmati Bali dengan apa adanya.

Semua sibuk menyiapkan kedatangan Raja Salman, termasuk pemimpin Bali. Kemewahan yang ditawarkan raja ini konon menguntungkan bagi Indonesia. Kemewahannya akan mendatangkan pundi-pundi rupiah yang dibangun atas dasar toleransi.

Tentang pilihan Salman terhadap Bali, kaum nyinyir akan mengeluarkan banyak persilatan lidah. Bali akan dijelekkan dengan segala ketidak halalannya. Mereka akan menganggap Salman datang untuk membantu Indonesia menggolongkan penista agama berdasarkan kasta-kasta tertentu. Di Bali sudah meninggalkan sistem kasta, kok sekarang kaum lain menghidupkannya? Jangan bergerak mundur.

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud, berencana mengunjungi Indonesia selama sembilan hari, mulai 1 hingga 9 Maret 2017. Ini adalah kunjungan kepala negara dari Arab paling bersejarah bagi Indonesia karena kunjungan sebelumnya dilakukan oleh Raja Faisal pada 46 tahun lalu. Tidak tanggung-tanggung rombongan Raja akan membawa 1.500 anggota delegasi, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.

Kunjungan ini begitu berarti bagi Arab Saudi di tengah bangsa-bangsa lain sedang membicarakan Indonesia yang konon diramalkan akan memiliki kekuatan ekonomi raksasa di dunia. Tentu, Salman tak ambil pusing soal kisruh agama yang lebih intim bila dibincangkan dalam hati saja. Salman ingin merangkul dan dirangkul Indonesia agar nantinya Arab Saudi tidak jadi penonton liar saat ramalan tentang Indonesia ini jadi kenyataan.

Setelah gencar “memaksa” AS dalam belenggu Freeportnya untuk tunduk pada Undang-Undang, bangsa ini telah menunjukkan bahwa Indonesia tidak takut dengan bayang kekuatan besar. Mengejar pajak google juga sedang diupayakan agar tak ada yang “main-main” lagi di tanah Nusantara. Indonesia tengah menghimpun kekuatan untuk kembali bangkit seperti julukannya dulu, macan Asia.

*Ni Nyoman Ayu Suciartini, penulis tinggal di Bali.

Komentar