Khazanah

Raja Salman dan 50 Penari Pendet

Raja Salman di Sambut Trian Pendet/Foto Istimewa/Nusantaranews
Raja Salman di Sambut Trian Pendet/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Pembicaraan Raja Salman bagi warga Bali memang sedang menjadi trending topic. Apa-apa dikaitkan dengan kedatangan pemimpin super mewah. Tapi, riuhnya sambutan hanya dalam batas pembicaraan. Tak ada warga Bali yang berasal dari luar kawasan Nusa Dua dan sekitarnya yang sengaja datang untuk bertemu Raja Salman. Bagi kebanyakan orang, cukup memantau lewat pasar media sosial saja.

Tentang Raja Salman yang katanya sangat menyukai pantai. Tidak ada pantai umum yang ditutup khusus untuk Raja Salman karena wilayah Nusa Dua dan Sawangan tempat Raja Salman dan rombongan menginap sudah memiliki pantai private yang khusus digunakan untuk tamu hotel. Jadi yang berharap akan menemukan sosok Raja Salman berjemur di Pantai Sanur atau Pantai Kuta sekali pun mungkin bisa mencari alternatif lain. Namun, ketika Raja Salman tidak mengunjungi pantai-pantai umum di Bali, mungkin akan melewatkan tradisi dan budaya unik yang biasanya digelar di pantai.

Pantai bagi umat Hindu Bali adalah tempat sakral, tempat pesucian. Laut bagi umat Hindu berfungsi sebagai pelebur atau pembersih segala kekotoran jasmani dan rohani. Di sinilah ber-stana Dewa Baruna, sebagai manifestasi Tuhan yang bertugas untuk menganugerahkan air suci (tirta) untuk membersihkan segala kekotoran jasmani dan rohani. Ini yang kami yakini. Prosesinya yang bisa dinikmati sebagai sebuah keindahan. Jika saja Raja Salman tak terburu-buru, bisa menepi di Bali hingga nyepi tiba.

Meski nyepi dilakukan warga Hindu Bali, warga beragama lain yang tinggal di Bali secara alamiah menghormati hari suci ini dengan ikut melakukan catur brata penyepian. Di antaranya tidak keluar rumah, tidak berapi-api, tidak melakukan pekerjaan, dan tidak berfoya-foya atau mengadakan hiburan.

Menari Untuk Dewata

Masih belum bisa move on dari Raja Salman adalah putri-putri cilik kebanggaan Bali yang tergabung dalam Sanggar Tari Sawitri.  Sekitar 50 penari yang masih duduk di kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar ini masih merasakan gemetar di dadanya ketika nama Raja Salman didengungkan. Ada kebanggaan yang tak bisa digambarkan. Kebanggaan itu seketika mengubah rasa gugup, rasa tidak percaya diri, dan rasa mual berlebih. Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh seolah menari untuk dilihat dewata.

Mereka membawakan tari pendet dengan penuh kebanggaan. Menunjukkan bahwa tari ini memang milik Indonesia. Buktinya, begitu dijiwai oleh anak-anak yang menarikannya. Jika bukan  anak-anak asli Bali yang menarikannya, mungkin rasanya akan lain. Bagaimana pun caranya meniru, caranya berlatih, caranya berhias, cara berlenggok, pandangan yang tampak sama sekali berbeda. Pendet rasa Bali dan pendet rasa yang lain akan dengan mudah kentara. Sebab, sang penari Bali ini memiliki Taksu. Taksu inilah yang tak pernah bisa dijual meski Bali telah bebas diperjual belikan. Taksu. Inilah yang melekat di setiap kening orang Bali. Tak ada yang bisa meniru taksu ini.

Tarian 50 anak Bali ini membuat Raja Salman tak berhenti memandang. Anak-anak yang menarikan tari pendet ini juga bisa menatap Raja Salman lebih lama, lebih dekat, juga lekat. Di hati anak-anak ini akan abadi tertanam bahwa mereka pernah menari untuk pemimpin dari negara yang berbeda, budaya yang berbeda, juga agama yang berbeda.

Anak-anak ini akan lekat dengan pemahaman bahwa agama lain sangat menghormati budaya Bali dari tatapan hangat yang diberikan Raja Salman. Mereka akan ingat bahwa mereka diterima apa adanya tanpa harus mengubah busana tari yang dikenakan. Tari pendet yang memang alami seperti ditarikan sejak zaman prasejarah hingga kini. Raja Salman menawarkan arti kebhinekaan yang lain yang mungkin selama ini hanya disajikan secara teoretis di bangku sekolahan.

Senyum Bali yang Khas

Senyum merekah hadir dari sosok pelatih tari Ni Ketut Suwitri. Tidak mudah baginya untuk menenangkan 50 anak sebelum pentas dimulai. Namun, bukan Suwitri namanya jika ia tak memiliki jurus jitu. 50 tahun kiprahnya di dunia seni telah membuat anak-anak ini siap menarikan tari pendet dengan begitu indahnya. Ia tak lupa mengingatkan anak-anak untuk tersenyum sebaik mungkin. Sebab senyum orang Bali yang katanya khas, bisa jadi magnet yang tentunya menarik segala hal yang baik, segala hal yang positif.

Pada prinsipnya, Tari Pendet yang ditampilkan pun tidak ada perubahan, tetap Tari Pendet seperti biasanya, dari segi busana dan sebagainya. Tarian tersebut jika dilihat asal usul penciptaannya memang dibuat untuk penyambutan tamu agung. Tarian itu untuk menyambut kedatangan seorang raja, yang sekaligus menjadi momentum bagi Bali untuk mempromosikan adat dan budaya setempat.

Jika ada yang masih nyinyir tentang busana tari Bali yang katanya agak terbuka, tidak menutup aurat, bisa belajar banyak Raja Salman. Caranya menanggapi perbedaan tidak melulu soal memaki, menghina, membenci, merasa paling benar, atau nyinyir yang tak berkesudahan.

Raja Salman dalam hatinya seperti mendapat surga yang lengkap. Ia ikut menari. Dalam pandangannya yang teduh, Raja Salman mungkin terheran bagaimana ia bisa jatuh cinta begitu hebatnya karena anak-anak kecil ini? Akhirnya ia sadar, bukan sebab anak-anak kecil ini, melainkan hatinya yang memang luas untuk menerima perbedaan dan menjadikannya indah di setiap sudut pandang.

*Ni Nyoman Ayu Suciartini, penulis tinggal di Bali

Komentar

To Top