Presiden Jowi dampingi Raja Ralman saat hujan mengguyur deras/Foto: Dok. Presidential Palace/Agus Suparto
Presiden Jowi dampingi Raja Ralman saat hujan mengguyur deras/Foto: Dok. Presidential Palace/Agus Suparto

Oleh: Salamuddin Daeng (AEPI)

NUSANTARANEWS.CO – Raja Arab adalah raja yang kaya raya. Memiliki perusahaan minyak super besar, namanya Saudi Aramco. Tahukah anda ukuran perusahaan ini?  asetnya bernilai 2 triliun dolar atau kurang lebih Rp27000 triliun. Ini ukurannya 55 kali ukuran Pertamina. Jadi, tolong jangan dibandingkan!

Tidak hanya itu, raja minyak punya perusahaan mahkota lainnya yakni. perusahaan Petrokimia Saudi Arabian Basic Industries Corp. (SABIC). Perusahaan masuk dalam Fortune 500 company memiliki nilai aset with US$204 miliar dengan revenue US$50 billion in 2014. Mungkin 100 nilai perusahaan Petrokimia Indonesia semuanya. Jadi, jangan dibandingkan!

Tapi semua itu adalah aset, tidak serta merta bisa diubah menjadi uang. Kalau mau diubah menjadi uang jangan cepat-cepat karena bisa ditawar murah oleh orang lain. Cara jualannya pun harus sedikit demi sedikit, Karena jarang yang punya uang kontan besar di tengah melemahnya likuiditas global.

Tidak hanya itu, konon raja Arab memiliki piutang di Amerika Serikat. Uang raja Arab tertanam dalam surat utang AS. Kabarnya uang raja Arab dalam surat utang AS senilai US$700 miliar atau sekitar 10000 ribu triliun. Uang ini adalah hasil dari kerjasama dalam skema Petro Dolar antara Arab Saudi dengan AS sejak tahun 1970-an. Nilai ini setara dengan 7 kali cadangan devisa Indonesia. Jadi, jangan dibandingkan!

Tapi itu sekali lagi piutang, tidak mudah memasukkannya secara serta merta menjadi uang untuk menutup kekurangan anggaran belanja negara. Apalagi AS sendiri mengalami masalah keuangan yang sangat besar. AS sekarang tampaknya tidak akan lagi mencetak dolar seperti yang dilakukan di era Barack Obama untuk membayar kewajiban-kewajiban mereka.

Ringkas cerita, sekarang raja Arab lagi butuh uang banyak. Tahun lalu, APBN Arab Saudi defisit mencapai 15 persen PDB. Sementara harga minyak, harga komoditas, harga hasil produk produk Petrokimia lagi jatuh. Akibatnya penerimaan negara jatuh. Negara kekurangan uang cukup besar untuk menjalankan pemerintahan. Kalau keadaan minyak dan produk industri ini terus melemah, maka raja Arab dan pangeran pangerannya akan lebih awal memasuki “bulan puasa”.

Itulah mengapa raja Arab melakukan lawatan keliling Asia. Membawa seluruh pangeran dalam urutan atas, dam 1500 orang berpengaruh kabinet dan pemerintahan. Kunjungan kendaraan ke Indonesia digabung dengan agenda liburan. Raja tidak meninggal orang orang pentingnya di arab Saudi. Mungkin raja tidak mau bernasib sama dengan Raja Faizal yang ditembak mati oleh ponakannya (1975) setelah berkunjung ke Indonesia.

Setidaknya ada tiga tujuan dari lawatan keliling Asia yakni :Pertama, mencari pembeli surat utang negara dalam rangka menutup kebutuhan anggaran dalam jumlah besar atau defisit. Kedua, mencari pembeli Saudi Aramco yang rencana akan melakukan IPO sebesar 5 persen dari nilai valuasinya atau sekitar Rp1300 triliun. Kalau dibatalkan  ini sama dengan menjual seluruh Pertamina, PLN, PGN, dan seluruh pabrik Petrokimia Indonesia. Jadi jangan dibandingkan. Ketiga, memperkuat Rantai suplai ekspor minyak mereka di Asia, setelah Amerika Serikat menerapkan pajak tinggi pada impor minyak Arab Saudi dengan cara mengakuisisi kilang kilang minyak yang ada di Asia, termasuk di Indonesia dan Malaysia.

Apa yang dilakukan raja Arab sudah tepat dalam menahan krisis keuangan yang mereka hadapi, yakni mencari utang tapi tidak lupa memperkuat Rantai pasokan yang terintegrasi dari produksi minyak dan Petrokimia nasional mereka. Raja Arab tidak mau melakukan kebijakan ousterity,  tidak mau menghapus subsidi, tidak mau menaikkan pajak, tidak menaikkan tarif, tidak memotong gaji.

Ini berbeda dengan apa yang dilakukan. Oligarki pemerintahan Jokowi. Menghadapi Krisis fiskal sekarang Jokowi menjalankan kebijakan neoliberalsecara penuh, mencabut subsidi, menaikkan tarif listrik, menaikkan harga BBM, menaikkan tarif tol, meningkatkan pajak, menaikkan suku bunga. Oligarki Jokowi menjadi tengkulak dan rentenir bagi rakyatnya sendiri.

Kebijakan raja Arab Saudi dalam hal minyak berbanding terbaik dengan kebijakan oligarki Jokowi yang justru memutus rantai suplai migas dengan melakukan disintegrasi pengelolaan migas. Oligarki Jokowi justru melepas kepemilikan terhadap kilang-kilang migas Pertamina untuk diserahkan kepada Saudi Aramco melalui skema joint venture (JV). Sama seperti sebelumnya melepas pembangkit pembangkit listrik untuk dikuasai oleh China. Aset paling strategis dari Pertamina yakni kilang malah menjadi bagian dari rantai suplai perusahaan asing. Oligarki Jokowi berharap ada uang Masuk Rp700 triliun untuk mengakuisisi aset aset strategis milik Pertamina.

Perbedaan paling mendasar dari raja Arab dengan oligarki Jokowi adalah strategi respon krisis. Jika raja Arab membuat strategi untuk menyelamatkan keuangan negara, menyelamatkan perusahaan negara dan meningkatkan pengaruh mereka secara internasional, namun pemerintah Jokowi melakukan sebaliknya menjual negara, melepas  perusahaan negara, demi mendapatkan uang semata. Jangan-jangan oligarki Jokowi hanya ingin menyelamatkan pribadi, keluarga, dan kelompoknya? Semoga dipikirkan kembali.

*Salamuddin Daeng, Pengamat ekonomi politik Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Komentar