Connect
To Top

Raja Minyak, Jokowi dan Pertamina (1)

Oleh: Salamuddin Daeng*

NUSANTARANEWS.CO – “No Saudi oil,” kata Donald Trump. Janji Trump akan memukul kartel minyak yang dipandang sebagai musuh AS, akan segera menjadi kenyataan. Caranya dengan membangun independensi AS dari impor minyak ke OPEC termasuk Arab Saudi. “Ini adalah era complete American energy independence,” sambung Trump.

Sementara Arab Saudi adalah kawan Amerika Serikat selama berpuluh-puluh tahun. Mereka membentuk Petro Dolar sejak tahun 1970-an. Minyak menjadi standar dalam pembentukan nilai mata uang dolar AS. Arab Saudi, menikmati keuntungan besar dari perdagangan minyak. Sementara Amerika Serikat, menikmati keuntungan yang jauh lebih besar yakni bisa mencetak dolar sesuka hati tanpa perlu colleteral. Amerika Serikat mengkhianati Bretton Woods dan menendang emas menjadi perhiasan semata.

Tapi itulah politik, tidak ada kawan abadi, yang ada kepentingan abadi. Sekarang AS malah hendak memberlakukan tarif yang tinggi bagi impor minyak Arab Saudi. Sama yang dilakukan dengan memberlakukan tarif yang super tinggi kepada impor barang dan impor infrastruktur China. Minyak telah ditendang menjadi bahan bakar semata, dan dolar AS telah mengambil posisi independen dalam pasar uang.

Akibatnya Arab Saudi termasuk OPEC kehilangan pasar terbesar mereka yakni AS. Tidak hanya itu, harga minyak jatuh pada level paling rendah dalam sejarah. Meskipun berkali-kali OPEC memotong produksi, namun dilawan oleh AS dengan menikatkan produksi shale Oil dan shale gas mereka. Harga minyak terus berada pada harga yang tidak menguntungkan Arab Saudi. Penerimaan negara dari minyak anjlok, anggaran negara minus hingga 15 persen mencapai US98 miliar dolar tahun lalu dan tahun ini diperkirakan US87 miliar dolar atau mencapai Rp1200 trilun. Arab Saudi memang masih kaya, tapi itu aset dan mereka tidak bisa mengurangi kesenangannya walau sedikit.

Arab Saudi harus berpisah dengan AS dan mencari sekutu baru. Lawatan keliling Asia yakni ke Indonesia, Malaysia dan Jepang merupakan upaya untuk mencari pelampung penyelamat dalam rangka menahan Arab Saudi dari turbulensi, mencari pembeli tetap dari minyak mereka dalam jangka panjang. Tidak lupa, raja minyak membawa seluruh pangeran yang berpotensi melakukan kudeta. Raja Salman tidak mau bernasib sama dengan Raja Faizal.

Sementara Oligarki pemerintahan Jokowi begitu riang gembira menyambut kedatangan raja minyak, 30 pangeran dan 1500 anggota rombongan yang datang berkunjung ke Jakarta. Ini adalah kunjungan pemimpin negara terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Ditambah lagi ini adalah kunjungan seorang yang dianggap raja paling kaya dan paling senang menghabur hamburkan uang.

“Ini rejeki nomplok, durian runtuh, proyek besar” kira kira itu yang terlintas dalam pikiran oligarki pemerintahan Jokowi. Setelah bertahun-tahun mengemis pada China, hasilnya monorel yang gagal, kereta cepat yang gagal, reklamasi yang gagal, mega proyek listrik China 35 ribu megawatt yang berantakan.

Sebanyak 11 Memorandum on Understanding (MoU) ditandatangani. Air liur oligarki Indonesia menetes saat mendengar janji uang ratusan triliun yang siap diinvestasikan raja minyak di Indonesia. Lupakan China, lupakan Amerika Serikat, mari mulai berbisnis dengan Arab Saudi.

Tidak tanggung tanggung Pertamina sebuah perusahaan minyak nasional siap dipersembahkan kepada raja minyak. Tidak main main rantai produksi paling vital milik Pertamina yakni kilang kilang pengolahan minyak siap di serahkan kepada Saudi Aramco melalui skema joint venture (JV). Hingga direktur mega proyek dalam tubuh Pertmaina merancang proyek hingga Rp700 triliun sebagai kado bagi raja minyak. Uang tersebut akan digunakan untuk membangun kilang baru, mengupgrade kilang lama, dan membangun infrastruktur minyak skala raksasa dengan sebagian kepemilikan kilang di tangan Saudi Aramco dan perusahaan asing lainnya.

Pertanyaannya uangnya berasal mana? Bukankah Arab Saudi sendiri sedang kesulitan uang? Ternyata uang yang diharapkan bersumber dari hasil menjual aset aset Pertamina termasuk kilang bersama dengan Raja minyak Arab Saudi ke pasar keuangan internasional. Arab Saudi diuntungkan karena mengklaim telah mengakuisisi kilang Pertamina. Lebih dari itu, Arab Saudi mendapatkan keuntungan rantai pasokan Crude Oil mereka atas pasar migas Indonesia yang besar. Sementara Indonesia harus kehilangan kontrol atas kilang kilang pengolahan minyak tersebut. Pertamina nanti terpaksa harus membeli migas pada harga pasar dari kilangnya sendiri.

Tapi bagi oligarki pemerintahan Jokowi, nasib ketahanan migas tampaknya bukan menjadi prioritas. Menjual kilang kepada perusahaan asing adalah bancakan yang besar. Itulah mengapa siapa saja yang mencoba menghambat akan disapu bersih sebagai mana nasib yang dialami dirut dan wakil dirut Pertamina beberapa waktu lalu. Jadi, jangan coba coba melawan oligarki Pemerintahan Jokowi dan sekutu barunya Raja Minyak.

*Salamuddin Daeng, Pengamat ekonomi politik Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Komentar