PX Ikuti Migrasi Antene TV dari Analog ke Digital. Foto Istimewa
PX Ikuti Migrasi Antene TV dari Analog ke Digital. Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kebijakan pemerintah Indonesia disinyalir secara perlahan ingin mengganti teknologi siaran televisi (TV) dari mode analog ke digital, brand antene digital asal Taiwan yakni PX, sedang gencar memasarkan produknya di Indonesia.

Direktur PT. Best Fortune Indonesia, Richard Liu selaku distributor resmi PX antena digital mengungkapkan bahwa untuk saat ini saja antena PX model HDA-5000 merupakan produk yang paling laris di pasaran Indonesia. “PX antena digital HDA-5000 merupakan peraih Top Brand Taiwan Excellence Awards  2016. Produk ini merupakan antena outdoor/indoor yang dilengkapi dengan booster dan power inserter,” ujar Richard di Jakarta, Selasa (11/4/2017).

Richard menjelaskan, bahwa antena PX memiliki beberapa model, seperti DA-5700 yang juga dapat digunakan outdoor/indoor. Serta ada pula model DA-1201NP, DA-1203P, IA-200N, dan DA-3520A yang hanya bisa digunakan indoor.

Namun, kata Richard, yang paling laris adalah PX antena digital HDA-5000, karena selain memiliki desain yang simpel, dimana metal di kedua sisi sangat mempengaruhi penangkapan sinyal dari dua arah, sehingga sinyal digital akan ditangkap lebih mudah.

“Antena digital ini juga anti air dan anti UV, aksesorisnya lengkap, terdapat wall mounting, pole mounting, power inserter, dan kabel coaxial, sehingga memudahkan pemasangan pada dinding atau jika ingin diletakkan di samping TV,” kata dia.

Sementara itu Sales Assistant Manager PT. Best Fortune Indonesia, Al Afgani menyebutkan bahwa pesaing terberat antena PX ini di pasaran Indonesia adalah sebuah produk lokal. Sebab, produk lokal tersebut dijual di toko-toko tradisional pinggir jalan.

“Pesaingnya sih rata-rata di Indonesia itu produk import juga, tapi ada satu yang produk lokal, pabriknya di Bandung. Mereka lebih dominan di penjualan di toko tradisional pinggir jalan begitu. Tapi kalau di toko-toko modern boleh dibilang mereka tidak ada,” ungkap dia.

Meski demikian, Afgani mengaku tidak terlalu merisaukan hal tersebut, sebab 90 persen dari para pesaing itu memiliki teknologi antena lebih ke analog. Selain itu, produk-produk mereka hanya spesifik ke penggunaan di indoor atau outdoor saja.

“Mereka punya antena outdoor ya hanya untuk outdoor, dan indoor ya indoor. Outdoor-nya pun besar ukuran produknya. Kalau PX selain lebih kecil juga bisa indoor dan outdoor sekaligus. Jadi kalau males taruh diluar, bisa coba di dalam dulu,” papar dia.

Lebih lanjut Afgani menyampaikan bahwa PX antena digital HDA-5000 tersebut dapat dengan mudah didapatkan oleh masyarakat di sejumlah supermarket modern, antara lain seperti Lottemart, Carefour, Hypermart, serta Electronic City, Electronic Solution, dan Best Denki.

“Kemudian di toko online itu sudah banyak sekali, hampir semuanya ada. Masyarakat mungkin bisa searching di Google, ‘antena terbaik Indonesia’, itu pasti keluar antena PX ini. Itu bukan kita yang bikin ya, karena itu kan hasil review orang-orang,” kata dia.

Berbicara mengenai kelemahan, Afgani mengakui bahwa ada satu hal yang menjadi kelemahan produk antena digital PX, yakni dari segi harga. Namun PX katanya memberi jaminan bahwa produknya akan tahan lama, sehingga konsumen tidak akan merasa rugi.

“Karena harga kita memang lebih tinggi daripada yang lain. Ini Rp299 ribu harga retailnya. Tinggi memang, tapi dijamin akan bisa dipakai hingga 10 tahun, tak akan rusak atau hancur, dibanding produk lain yang Rp150 ribuan, tapi dalam 2-3 tahun harus ganti lagi,” ujar dia.

Selain itu, antena digital PX tersebut katanya merupakan produk antena di Indonesia yang memiliki garansi. Selama ini, kata dia produk antena lain yang beredar di pasaran Indonesia tidak memiliki garansi.

“Kita satu-satunya produk antena yang memiliki garansi, 1 tahun. Dan kalau me-like page kita di Facebook, garansinya bertambah jadi 18 bulan. Jadi saat klaim, lampirkan saja alamat Facebook-nya, nanti akan tahu apakah sudah terdaftar di Facebook-nya kita,” tuturnya. (**)

Pewarta: Richard Andika
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar

SHARE