Connect
To Top

Putra Daerah Sorong Berhasil Budidayakan Ikan Pelangi Papua

NUSANTARANEWS.CO,  Jakarta – Politeknik Kelautan dan Perikanan (Politeknik KP) Sorong, salah satu satuan pendidikan tinggi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), berhasil membudidayakan rainbow fishes (ikan pelangi) asal danau Kurumoi-Bintuni Melanotaenia parva di luar habitat aslinya. Prestasi superlative yang membanggakan ini mendapatkan penghargaan dan tercatat sebagai rekor dunia dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Demikian disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDMP KP), KKP, Rifky Effendi Hardijanto, di Jakarta dalam rilisnya yang diterima redaksi, Rabu (8/2/2017).

Rifky menyatakan apresiasinya terhadap prestasi yang telah diraih Politeknik KP Sorong tersebut. Terlebih lagi, disampaikan Rifky, selain penghargaan MURI, penelitian ikan pelangi Papua yang dilakukan Politeknik KP Sorong telah meraih berbagai penghargaan lain, baik dalam maupun luar negeri.

Pada tahun 2011, lanjut Rifky, Dosen Politeknik KP Sorong, Kadarusman mendapat Mahar Schutzenberger Award dari AFIDES Institute di Perancis. Ia juga menghasilkan dua film dokumenter saintifik dan telah ditayangkan di beberapa televisi internasional. Film ini meraih penghargaan pada dua festival internasional di Eropa, peringkat keempat tahun keempat pada 2011 dan peringkat kedua tahun 2012.

“Tahun 2015 lalu, Kadarusman, sebagai pimpinan tim program riset internasionalNew Guinean Rainbowfishes, meraih penghargaan Satya Lancana Wirakarya dari Presiden RI Joko Widodo. Di tahun yang sama, ia bersama Taruni Politeknik KP Sorong,  Talita Asagi, menerima penghargaan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Atas prestasinya dalam penelitian ikan pelangi tersebut, Talita mendapat penghargaan sebagai finalisKartini Next Generation Award 2015, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Kementerian Pemuda dan Olahraga,” paparnya.

Program Rainbow Papua juga telah menemukan 14 spesies baru untuk ilmu pengetahuan, meluluskan 12 mahasiswa (sarjana dan pascasarjana), serta menghasilkan puluhan publikasi internasional.

Direktur Politeknik KP Sorong Silvester Simau di Sorong, Papua Barat, mengatakan, penelitian ikan pelangi endemik Papua telah berlangsung lebih dari satu dekade, hasil kerja sama berbagai pihak, antara lain dengan Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Budidaya Ikan Hias (BALITBANGDIAS Depok), unit kerja Badan Litbang Kelautan dan Perikanan KKP, serta Institut de Recherche pour le de Development (IRD) Perancis. “Saat ini, tim memiliki koleksi lebih dari 40 populasi alam, salah satu koleksi ikan pelangi terbesar di tanah air. Spesimen didapatkan dari 5 kali ekspedisi internasional di Papua dan Papua Barat. Total koleksi adalah 6.223 spesimen yang disampling dari 3.020 sistem drainase air tawar,”tambah Silvester.

Rainbow Kurumoi Melanotaenia Parvae

Mnurut Kadarusman, rainbow Kurumoi adalah ikan pelangi yang sangat aktraktif, mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan terkontrol. Ukuran tubuhnya relatif kecil sekitar 12 cm, tubuhnya dibalut dengan sisik berwarna merah. Ia melanjutkan, sekitar 60 spesies rainbow fish (Melanotaeniidae) tergolong ke dalam ikan hias air tawar endemik, sangat digemari di kalangan penikmat ikan akuarium, baik di Indonesia maupun manca negara.

Melanotaenia Parva disampling di Danau Kurumoi, salah satu danau kecil di daratan tinggi Kabupaten Bintuni, Papua Barat, yang dapat dicapai selama dua sampai tiga hari perjalanan dengan menggunakan longboat, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama dua hari. Populasinya terancam punah akibat fluktuasi air danau, yang sering mengalami kekeringan pada musim kemarau panjang. Populasinya hanya ditemukan di drainase kecil yang mengitari danau tersebut, kenang Kadarusman.

Rainbow Kurumoi adalah spesies target program domestikasi yang dilaksanakan oleh Politeknik KP Sorong, Balitbangdias Depok, dan IRD Perancis. Tim mulai menaturalisasi populasinya sejak 2007 dan mulai diperkenalkan ke masyarakat sejak 2014 dan puncak diseminasinya secara luas pada 2016.

Rifky mengatakan, kesuksesan upaya domestikasi ikan hias endemik Papua tidak lepas dari kerja keras antar tim eksplorator dan unit domestikasi. Mulai tahun ini 2017, tim kembali menargetkan satu spesies dari plato karst di Papua Barat untuk didomestikasi dan di-release spesiesnya ke masyarakat akuakultur pada akhir tahun ini.

Pewarta: E. Aswandi

Komentar