Berita Utama

Putaran 2 Pilkada DKI Dinilai Akan Berlangsung Sengit

Anies-Sandi saat menyampaikan pemaran di debat pilkada 3/Foto: Detikcom / Rengga Sancaya
Anies-Sandi saat menyampaikan pemaran di debat pilkada 3/Foto: Detikcom / Rengga Sancaya

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Pusat Studi Sosial Politik (Puspol) Indonesia, Ubedilah Badrun, putaran kedua Pilkada DKI Jakarta yang menyisakan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno akan berlangsung sangat sengit.

Pasalnya, menurut Ubedilah, data KPU DKI versi real count dari data C1 menunjukan perolehan suara masing-masing pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni memperoleh suara sebanyak 936.609 (17,07%), Ahok-Djarot sebanyak 2.357.637 (42,96%), dan Anies-Sandi sebanyak 2.193.636 (39,97%).

“Sambil menunggu pengumuman dari perhitungan resmi KPUD secara manual dan dengan mencermati tipisnya perbedaan perolehan suara  antara pasangan calon nomor 2 dan nomor 3, kita bisa membaca kemungkinan besar kontestasi pada putaran dua akan berlangsung sengit,” ungkapnya kepada wartawan, Jakarta, Rabu (22/2/2017).

Ubedilah menjelaskan, setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan kontestasi tersebut akan berlangsung sengit. Pertama, faktor mesin politik. Baik Ahok-Jarot mapun paslon Anies-Sandi, keduanya sama-sama memiliki mesin politik terbaik, yakni Ahok-Jarot ada pada PDIP, sedangkan mesin politik terbik Anies-Sandi ada pada PKS.

“Karakteristik kedua mesin politik ini sama-sama militan yang secara ideologis dibangun oleh warna ideologi nasionalis sekuler versus nasionalis religius. Secara kultural nasionalis sekuler maupun nasionalis religius menemukan konstruksi, konteks dan kontestasinya di Jakarta,” ujarnya.

Kedua, lanjut Ubedilah, adalah faktor strategi pemenangan. Tim dari kedua paslon akan habis-habisan mengeluarkan strategi terbaiknya, baik strategi darat (door to door dengan pemilih) maupun strategi udara (cyber army) mereka. Kejutan-kejutan strategi akan terjadi dan saling berhadapan.

“Ini akan terjadi secara sengit karena mereka saling merahasiakan strategi. Petahana diuntungkan dengan akses data primer, sementara kubu non petahana diuntungkan dengan melimpahnya data sekunder,” katanya.

Sedangkan yang Ketiga, menurut Ubedilah, adalah faktor massa pendukung. Dengan tipisnya perolehan suara, massa pendukung kedua paslon akan menemukan ruang militansinya untuk saling memenangkan calonnya.

“Massa pendukung Ahok-Jarot militan karena ada kekhawatiran kalah, sementara masa pendukung Anies-Sandi militan karena dengan perolehan suara yang beda tipis mendorong mereka memiliki keyakinan dapat melampauinya. Hasrat untuk menang dari masing-masing masa pendukung sangat tinggi,” ungkapnya.

Sementara yang Keempat, Ubedilah menuturkan, adalah faktor kekuatan finansial atau keuangan. Meski data laporan keuangan sementara dari masing-masing tim pasangan pada putaran pertama menghabiskan anggaran kurang dari Rp100 miliar, namun jika melihat fakta di lapangan termasuk data belanja iklan dan interaksi dengan masyarakat angkanya melebihi Rp100 miliar.

“Nampaknya modal finansial yang dimiliki paslon Ahok-Jarot jauh lebih besar dibanding paslon Anies-Sandi. Pada momentum putaran kedua menuju 19 April mendatang adalah episode berbahaya kemungkinan terjadinya politik uang secara luar biasa dari tim kedua paslon. Publik patut memantau secara serius kemungkinan ini,” katanya.

Analis Politik dari Universitas Negeri Jakarta itu menambahkan, keempat faktor pendorong sengitnya kontestasi di atas secara sistemik efeknya patut diantisipasi oleh seluruh penyelenggara pemilukada putaran dua nanti.

“Profesionalitas penyelenggara dan rasionalitas warga Jakarta adalah kunci utama untuk menghadirkan pilkada putaran dua yang berkualitas,” ujarnya menyudahi.

Reporter: Rudi Niwarta

Komentar

To Top