Royal indian lady sitting painting/Foto by pinterest.com

NUSANTARANEWS.CO – Bibirnya semakin dekat ke telinga. Elisa merupakan tipe cewek yang mudah akrab dengan siapa saja, terutama dengan beberapa klien yang ditemuinya selama ini. Di banyak kesempatan, aku dan Elisa banyak ngobrol bahkan saling bercanda, selain memang tempat kami satu apartement bersama Jumailah juga. Aku dan Elisa sudah sepakat melupakan kejadian peristiwa yang dulu pernah terjadi waktu awal-awal aku sampai di Jakarta. Namun kini, aku dan dia harus satu kamar, lagi-lagi tanpa seorang Jumailah seperti awal aku sampai Jakarta.

Elisa itu perempuan asal Manado dari pasangan orang tua Jawa-Manado. Dia bertubuh tinggi. Tubuhnya sintal dan dadanya membusung. Kulitnya putih dan hidungnya mancung. Rambutnya hitam tebal. Wajahnya kelihatan bukan wajah Manado, tapi mirip wajah ke-arab-araban. Selama ini aku selalu menjaga jarak yang berlebihan yang dapat menimbulkan persoalan asmara di antara kami, sebab selain satu atap apartement, aku sudah punya Jumailah.

Elisa bangun ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi. Elisa kembali rebahkan badannya yang sudah tanpa baju, hanya memakai bra berwarna hitam. Dia semakin meremas bahuku dan aku sendiri tangan mulai mengarah ke dadanya. Aku sedikit menggerinjal. Kupegangi dagunya dengan tangan kiriku, kudekatkan wajahnya ke wajahku. Perlahan kucium bibirnya, dia semakin menggilai aroma. Bibirnya mulai menyapu telinga dan leherku, aku pun demikian membalasnya.

Lukisan "Nude, Green Leaves and Bust", (1932), Lukisan Termahal karya Pablo Picasso/Foto Istimewa (pablopicasso.org)
Lukisan “Nude, Green Leaves and Bust”, (1932), Lukisan Termahal karya Pablo Picasso/Foto Istimewa (pablopicasso.org)

Tubuh Elisa terus melengkung ke belakang menahan kenikmatan. Ia merapatkan kedua pahanya sambil melepas seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Gerakannya semakin liar, tidak seperti waktu pertama bercumbu denganku.

# # #

Suprai sudah terlepas tergulung di samping ranjang, bantal-bantal berjatuhan ke lantai. Ranjang tempat aku dan Elisa bermalam pun terasa seperti kapal yang pecah dihempas ombak dan badai. Kami berlabuh di dermaga kenikmatan dan suara-suara kami berderak-derak patah. Aku terus menahan gerak tubuh Elisa yang mengejang. Sisa-sisa denyut masih mengerayangi tubuh kami menarik nafas panjang berubah menjadi teratur.

Iya, aku terus mengikuti alur cerita itu dalam mimpi, seperti tak ada habisnya, sampai sinar matahari memasuki kamarku dari arah jendela, menelanjangi tubuhku. Terasa panas dan gerah tubuh. Aku terbangun dari bunyi pintu ditutup kencang. Oh, istriku mengamuk karena aku tak sadar-sadar dari tidur mabuk sepulang dari mengikuti pesta pemenangan Pemilu, dan kulihat celanaku menempel di lantai sudah basah kuyup.

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 10: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

Yan Zavin Aundjand
Yan Zavin Aundjand

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa(Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email:[email protected] atau [email protected]

Komentar