Convergence, Jackson Pollock (1952)/Foto: Dok. youngrubbish.com
Convergence, Jackson Pollock (1952)/Foto: Dok. youngrubbish.com

Napak Tilas Alejandra Pizarnik (4)

tidak Alejandra, ini hanya bisikan penyair dungu
terjebak napak tilas atas nama luka tunggalmu
tentu ini bukan suara arogan para demonstran
di sepanjang jalan memar tubuh perjuangan

biarkanlah kusebut namamu sang pecinta
tanpa jumpa, tanpa zairah, tanpa suaka
sebab jika tidak demikian, gairah kegetiran
dalam diri eksistensiku akan menjadi-jadi

dengan napak tilasku ini, kuamini perasangkamu
kutegaskan segala kemungkinan insiden malamku
sebagaimana kau mengisyafi kuasa hidup ini:
malam adalah kehidupan dan siang adalah maut.

tidak Alejandra, kau mesti yakinkan dirimu
sekali lagi untuk percaya pada kebenaran niat
demi sebuah perjumpaan penciptaan berulang
di masa yang entah dalam puisi
pastinya dengan napak tilasku yang lain
di malam yang telah kau-aku kenali

tentu Alejandra, kita akan menggelar pesta
di luar kehampaan para penyair: kau dan aku
kelak yang tepat waktu tanpa janji
meski aku tak menjamin kesunyianmu
dan kesunyianmu bakal bersayap

2016

Napak Tilas Alejandra Pizarnik (5)

terimalah takdir luka tunggalmu
sebagai sang pecinta, Alejandra!

aku datang padamu segabai penyair dungu
dengan sapi kerapan perkasa Madura
tapi aku bukan binatang dungu negerimu
bukan pula binatang jalang negeriku

sebab aku telah jatuh takjub
di urat-urat darahmu – mungkin juga – berharap
menyelamatkan diri sebagai penyair

selebihnya Alejandra, aku mengingini kebebasan
:kemerdekaan sejati bangsa berkehidupan
dan bila kau bertanya tentang pengasingan
Raul Gustavo Aguirre baiknya kusebutkan
Pengusiran pangeran Aryawiraraja

bukankah kita sama yakin dan percaya
kekuatan kosmik mempertemukan siapa saja
dan menjadikan sesuatu menjadi apa saja di dunia
setidaknya sebagai bayang-bayang dirindukan
meski mencintai bayang-bayang, katamu:
adalah igauan ngeri tak terperikan

kini kau mesti bangkit menyambutku
sebagai penyair dungu yang berlimpah
igauan kengerian dengan perayaan
musim panen rakyat Argentina
atau panen raya di Madura

28 Maret 2016

Selendang Sulaiman, penikmat kopi dan puisi. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa seperti; Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Indopos, Suara karya, Minggu Pagi, Riau Pos, Merapi, Padang Ekspres, Lampung Post, Radar Surabaya, Majalah Sagang, Majalah Sarbi, Jurnal Sastra Santarang dll. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), dlsb.

Komentar