Brigitte Trogneux dan Emmanuel Macron. (Getty Images)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Baru-baru ini, masyarakat dihebohkan dengan pernikahan beda usia antara Selamet Riyadi (16) dan Rohaya (71) di Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Seperti diwartakan, pernikahan Selamet dan Rohaya digelar pada Minggu 2 Juli 2017. Disaksikan masyarakat sekitar, keduanya mengucap janji sehidup semati.

Video yang merekam pernikahan Selamet dan Rohaya segera menyebar dengan cepat lewat media sosial. Motif pernikahan beda usia yang terpaut sangat jauh ini adalah karena mereka merasa mendapatkan kebahagiaan, kenyamanan dan kasih sayang.

Ini artinya kebahagiaan dan kasih sayang menempati urutan teratas seseorang membuat sebuah keputusan dan pilihan dalam hidup. Motif yang sama juga terjadi pada diri Presiden Perancis Emmanuel Macron. Menginjak usia 29 tahun, Macron pun menikahi Brigitte Trogneux yang sudah berusia 53 tahun. Hingga kini, keduanya telah 10 tahun membina rumah tangga.

Macron (39) tak menyangkal, kesuksesannya terpilih menjadi Presiden Perancis tidak dapat dilepaskan dari sosok Trogneux (64) yang intelek. Dalam masa kampanye, Trogneux tak hanya bertindak sebagai seorang istri tetapi juga sebagai mentor, penasihat dan pembimbing Macron. Eks menteri ekonomi Presiden Francois Hollande itu adalah sumber kepercayaan dirinya. Kebahagiaan bagi Macron berada di atas segala kesuksesannya, termasuk dalam memimpin negara ia merasa lebih baik apabila dirinya bahagia. Ia tegas menyebutkan bahwa Trogneux lah sumber kebahagiannya.

Psikolog hubungan romantis dan kebahagiaan, Pingkan CB. Rumondor mengatakan bahwa interaksi dengan pasangan yang membuat diri merasa nyaman merupakan motif yang sering kali dijadikan alasan orang membuat sebuah keputusan. Dalam kasus Macron, Pingkan menganggapnya sebagai fenomena yang wajar-wajar saja.

“Menurut saya, ya bisa aja Macron tertarik dengan sifat-sifat istrinya. Interaksi dengan si istri membuat nyaman dan akhirnya ia memutuskan menikahi meski beda usia. Artinya pernikahan itu antara dua orang dewasa (18 tahun ke atas), jadi dari sisi psikologi hubungan romantis, hal ini menjadi wajar-wajar saja,” kata Pingkan saat berbincang dengan nusantaranews, Jakarta, Sabtu (15/7/2017).

Kendati jarak usia pasangan terpaut sangat jauh, Pingkan menyebutnya tak jadi soal.

“Saya rasa, beberapa orang melihat hal ini tidak umum karena kurang sesuai norma/kebiasaan. Kalau dari sudut pandang psikologi evolusi, memang biasanya perempuan mencari laki-laki yang lebih stabil, agar bisa merawat ia dan keturunannya. Tapi dalam kasus Macron, sepertinya stabilitas dan kemapanan tidak jadi masalah buat (calon) istrinya. Dari beberapa artikel, dikatakan istrinya tertarik karena kecerdasan Macron,” terang dia.

Baca: Dituding Miliki ‘Kelainan’ Seks, Ini Reaksi Presiden Baru Prancis

Macron dan Trogneux yang terpaut 25 tahun ini sempat menjadi buah bibir lini media massa, terutama di luar negeri. Bahkan Macron sempat dituding mengidap kelainan seks. Usia Trogneux yang jauh lebih tua dijadikan bahan pemberitaan yang dinilai Macron sengaja hendak berspekulasi tentang seksualitasnya. Macron pun akhirnya angkat suara terkait pemberitaan yang cenderung menyudutkan dirinya itu. Menurutnya, telah ada kesalahan dan ketidakobjektifan media dalam memberikan kabar soal diri dan istrinya. Ada masalah besar dengan pretensi masyarakat dan bagaimana mereka melihat posisi seorang perempuan.

Eks bankir itu menuturkan, pandangan miring terkait dirinya dan sang istri disebabkan kecenderungan orang yang bersikap diskriminatif terhadap perempuan (misogyny). Orang yang berpandangan tradisional dan homogen tentang masyarakat masih saja terus berkembang. Bagi Macron, orang-orang yang memandang miring terkait jarak usianya dengan sang istri terpaut 24 tahun adalah mereka yang telah kehilangan realitas akal sehatnya. Dan memiliki masalah besar dengan homoseksualitas.

“Mereka juga menunggu beberapa tahun (sekitar 24 tahun) sebelum akhirnya meresmikan hubungan romantis. Ya, tidak umum memang kalau dilihat dari segi frekuensi. Tapi masih wajar, dalam arti, bukan merupakan gangguan psikologis,” pungkas Pingkan.

Pewarta: Eriec Dieda

Komentar