Berita Utama

Proteksionisme Disejumlah Kawasan Jadi Perhatian Serius IORA

Menteri luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi/Foto; Dok. Menlu
Menteri luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi/Foto; Dok. Menlu

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Dalam gelaran Asosiasi Negara Lingkar Samudra Hindia atau Indian Ocean Rim Association (IORA) Tahun 2017 yang berlangsung di Jakarta Convention Center Senin (6/3/2017), Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menjelaskan bahwa momentum IORA  kali ini tidak hanya untuk memperbincangkan tentang situasi ekonomi politik global saja. Melainkan lanjut juga untuk mencari titik temu tentang meningkatnya proteksionisme disejumlah kawasan.

“Berbagai tantangan seperti konflik, terorisme, ketidakpastian ekonomi dan politik global, meningkatnya populisme dan proteksionisme di sejumlah kawasan memaksa kita untuk memperkuat dialog dan kerja sama,” kata Retno.

Untuk itu, penting kiranya dilakukan upaya dialog dan kerjasa dalam menyikapi situasi yang berkembang saat ini. Sebagaimana diketahui gelombang globalisasi telah melahirkan era baru yang disebut era borderless. Suatu keadaan dimana batas-batas antar bangsa tak ada lagi sekat.

“Saya percaya, negara anggota IORA tidak ingin diam. Dengan kehadiran kita semua di sini, seluruh negara mau melakukan sesuatu, memperkuat kepercayaan dan kerja sama untuk mencegah ketidakpastian itu mempengaruhi kerja sama di kawasan ini,” sambung dia.

Ibarat keping sisi mata uang, situasi borderless yang hari ini nampak, merupakan konsekeunsi logis dari laju globalisasi yang berkembang pesat. Dengan kata lain, situasi tanpa batas menjadi sinyal bahwa gelombang baru ini sulit untuk dibendung.  Sebuah keadaan yang mampu mengubah semua aspek kehidupan. Mulai dari pranata sosial, politik dan juga ekonomi.

Selama satu dasawarsa terakhir, trend pasar bebas menjadi kekuatan baru bagi negara-negara adikuasa guna melakukan dominasi di sektor ekonomi antar bangsa-bangsa.  Namun, layaknya pisau bermata dua, pasar bebas yang melahirkan situasi tanpa batas justru menjadi ancaman serius terhadap ‘privacy’ dan kedaulatan sebuah bangsa.

Penulis: Romandhon

Komentar

To Top