8-januari-2017-trump-has-intel-meeting/kartun: Dok. Independent

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Wajah, arah, dan kecepatan pergerakan dunia membuat para pemangku kebijakan mengambil peran-peran strategis khususnya di bidang ekonomi global. Siapa kuat, dia pemenang. Akhirnya menjadi pengendali arah perekonomian global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, secara ugal-ugalan menyeruarakan proteksionisme melalui kebijakan-kebijakan kontrovesialnya, nampaknya dapat memberikan dampak terhadap negara-negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, Meksiko, dan Kanada yang tengan mengalami defisit perdagangan.

Situasi ini menurut  Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Mari Elka Pangestu, memungkinkan terjadinya perang dagang di tingkat global. Dengan catatan, jika negara-negara sasaran penerapan posisi kebijakan proteksionisme Amerika Serikat itu melakukan retaliasi atau pembalasan.

Simak:
Presiden Jokowi: Indonesia Butuh Internasionalisme
Indonesia Poros Maritim Dunia, Antara Harapan dan Kenyataan
Proteksionisme dalam Perekonomian Cina Dinilai Justru Lebih Tinggi
Perang Proteksionisme Di Tengah Pasar Bebas
Proteksionisme Ugal-Ugalan Ala Trump

“Kalau ada perang dagang, maka akan menyebabkan ketidakpastian yang akhirnya kemudian mengganggu pasar finansial di AS,” kata Mari Elka Pangestu kepada jurnalis Antara usai acara simposium internasional di InterContinental, Jakarta, Selasa (7/3/2017).

Sembari berharap, Mari Elka mengatakan bahwa, kemungkinan terjadinya perang dagang itu dapat diperlemah melalui dinamika dalam negeri AS sendiri, terutama melalui para pebisnisnya yang masih menginginkan impor secara murah.

“Walaupun Indonesia bukan merupakan sasaran kebijakan proteksionisme AS, ampaknya masih akan dirasakan secara tidak langsung karena rantai produksi perekonomian global saat ini telah membuat negara terbuhung satu sama lain,” kata Mari Elka. (clv/rsk)

Editor: Sulaiman

Komentar