Seminar Nasional dengan tema
Seminar Nasional dengan tema "Konsolidasi Demokrasi Indonesia Yang Berkeadaban Dalam Perspektif Pemuda Islam" oleh MPII/Foto: Dok. MPII

NUSANTARANEWS.CO – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan bahwa selama ini yang absen dalam perjalanan politik Indonesia adalah keadaban public para pemimpin. Hal ini disampaikannya pada Seminar Nasional bertajuk “Konsolidasi Demokrasi Indonesia Yang Berkeadaban Dalam Perspektif Pemuda Islam” yang diselenggarakan Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII).

“Perihal keadaban public dalam demokrasi, Daron Acemoglu dan James Robinson dalam Why Nations Fail menyebutkan ada satu daerah dimana satu bagian dikelola oleh Amerika dan sebagian lainnya dikelola oleh meksiko. Pembagian digariskan secara geografis dan sosiologis. Namun kondisi yang ada sangat berbeda sekali. Yang dikelola Meksiko sangat buruk, sementara yang dikelola Amerika sangat baik,” papar Dahnil di Aula MUI lantai 4, Jl. Proklamasi No. 51 Jakarta Pusat, Kamis (27/10/2016).

Kesimpulan yang diambil daren dan robinson, lanjut Dahnil, sesungguhnya itu tidak ada daerah atau negara yang miskin dan tidak ada negara yang kaya.  Adanya hanya ada daerah (negara) yang terurus dan tak terurus.

Disamping itu, Dahnil mengambil inspirasi dari buku, “Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan” karya Koentjaraningrat. Di dalam buku ini disebutkan bahwa, orang Indonesia itu munafik, tidak disiplin, tidak pekerja keras. Berdeda dengan orang Jepang yang memegang prinsip “working hard dan playing hard”. Ini masalah keadaban.

“Lantas, keadaban Indonesia itu seperti apa? Apakah mereka yang setiap tahun naik haji namun korupsi jalan terus? Apakah yang shalatnya luar biasa? Apakah itu keadaban public ketika kita memilih pemimpin,” tanya¬† Dahnil pada audiens.

Menurt Dahnil, demokrasi pancasila itu menghadirkan nilai-nilai pancasila. Komitmen terhadap nilainya. “Jangan sampai nilai ketuhanan itu diperhinakan,” imbuhnya.

Demokrasi yang compatible, bagi dia, adalah demokrasi yang komitmen terhadap janji dan nilai-nilai. Esensi demokrasi adalah kontrak sosial; ada kontrak ketuhanan dan kemanusiaan.

“Fakta demokfrasi kita tidak mengusung nilai itu. Sekarang tidak ada pertarungan ideologi. Susah membedakan antara partai Islam dan lainnya,” kata Dahnil lagi.

Lebih lanjut, Dahnil merefleksikan lahirnya Sumpah pemuda. Bagi dia, Sumpah Pemuda meruapakan starting point bangsa Indonesia. Karena di dalam Sumpah Pemuda terdapat kesadaran kolektif dan ada nalar ilmiah.

“Yang menjadikan kita bangsa adalah bukan warna kulit. Akan tetapi yang menyatukan kita adalah visi kita, meski beragam. Islam tentu merawat keberagamaan itu. Kita bergembira dengan keberagamaan itu. Jangan sampai menegasikan adanya keberagamaan lain. Karena ada nalar ilmiah,” cetusnya.

Untuk merawat nalar ilmiah, menurut Dahnil ialah dengan pendidikan yang memuat nilai-nilai integritas dan kompetensi. Keadaban demokrasi akan hadir jika integritas ada.

“Yang mengalahkan kita semua bukanlah ideologi komunisme atau kapitalisme. Tetapi yang mengalahkan kita adalah ideologi uangisme. Demokrasi kita roboh karena uangisme. Integritas pemuda Islam itu penting, integritas ulama dan pemimpin lebih penting lagi. Sekarang banyak aktivis namun minim kompetensi. Kompetensi itu penting. Karena kalau tidak ada kompetensi, para aktivis tersebut akan menjelma menjadi calo nantinya,” katanya menandaskan. (Ucok/Maman)

Komentar