Ekonomi

Potensi Geothermal Indonesia Berada di Ring of Fire Dunia

Energyi Geothermal/Ilustrasi/Nusantaranews
Energyi Geothermal/Ilustrasi/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Lokasi Indonesia diketahui berada di ring of fire dunia dalam urusan energi panas bumi (geothermal) karena di nusantara ini sedikitnya terdapat 127 gunung berapi. Dikatakan Kementerian ESDM, potensi energi panas bumi yang dimiliki Indonesia mencapai 28.994 MW (megawatt listrik) dengan potensi sumber daya 13440 MW dan reserves 14.473 MW tersebar di 265 lokasi. Jumlah energi tersebut, jika menggunakan BBM setara lebih dari 200 miliar barrel minyak.

Sementara itu, menurut PT Pertamina Geothermal Energy, Indonesia memiliki 40% dari seluruh potensi panas bumi di dunia dari sumber-sumber di seluruh wilayah Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, hingga ujung barat Papua.

Sejauh ini, potensi besar energi panas bumi di Indonesia baru 4 persen atau 1.189 MW saja yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik.

Sementara pembangkit listrik tenaga panas bumi yang telah beroperasi di Indonesia antara lain PLTP Sibayak di Sumatera Utara, PLTP Salak (Jawa Barat), PLTP Dieng (Jawa Tengah), dan PLTP Lahendong (Sulawesi Utara).

Selain itu, Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya panas bumi terbesar di dunia. Atau, 40 persen cadangan dunia. Besarnya potensi geothermal di Indonesia memang sudah sejak lama menarik perhatian investor dunia. Bahkan, pada konferensi geothermal dunia (world geothermal conference) yang diselenggarakan 2010 lalu, berhasil menghadirkan sedikitnya 1.000 pelaku bisnis industri panas bumi dunia.

Lebih lanjut, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) selama ini baru mampu memproduksi energi panas bumi sebesar 450 MW dari potensi nasional yang mencapai 28.994 MW seperti diakui Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto.

Sejauh ini, Pemerintah Indonesia sudah menjalin kerjasama dengan Selandia Baru untuk meningkatkan pengembangan energi Terbarukan (EBT), khususnya energi panas bumi (geothermal). Kerjasama ini diketahui tertuang dalam dalam Nota Kesepahaman Bersama (NKB) di bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) yang ditandatangani pada Senin (18/7) bulan lalu oleh Menteri ESDM waktu itu, Sudirman Said dan Menteri Perdagangan Selandia Baru Todd Mcclay. (eriec/dioleh d ari berbagai sumber)

Komentar

To Top