polusi udara di kota stuttgart/Foto dok. alliance/Nusantaranews
polusi udara di kota stuttgart/Foto dok. alliance/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Menurut studi York University, pengurangan emisi karbon sangat substantif untuk keberlangsungan kehidupan manusia di masa depan. Studi ini menemukan fakta lain bahwa pengurangan emisi sangat signifikan mempengaruhi keberlanjutan sebuah hubungan antar manusia.

Manfaat besar dari pengurangan emisi juga pernah ditegaskan dalam hasil penelitian Harvard University dan Yale University. Dikatakan, energi terbarukan lebih menjanjikan keuntungan dan berkelanjutan dibandingkan energi minyak bumi yang dianggap tak ramah lingkungan. Energi terbarukan bahkan lebih efisien dan bersih.

Sebagai penegas, paparan nitrogen dioksida dan gas yang sebagian besar diproduksi asap diesel memberikan efek pada kesejahteraan. Tak sedikit orang kehilangan pekerjaan, pasangan mengakhiri hubungan dan kematian akibat terpapar polusi.

Sarah J Knight dan Peter Howley dari York University melakukan studi mendalam terkait kepuasan hidup dalam dunia yang sesak dengan polusi. Dengan membandingkan sejumlah data yang berlawanan antara pengguna bahan bakar minyak dan yang menggunakan energi panel, pilihan pertama justru dapat berpotensi merusak hubungan antar sesama. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa pengurangan emisi akan sangat subtantif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Menurut mereka, seperti dikutip Guardian, polusi hasil dari nitrogen oksida bertanggungjawab atas kematian puluhan ribu orang di seluruh Eropa. Inggris dikatakan negara yang paling menderita. Sebab, banyak polusi yang dihasilkan oleh mobil diesel.

European Environment Agency mengatakan kasus kematian di Inggris Sebanyak 11.940 pada tahun 2013 akibat terpapar nitrogen dioksida. Namun, jumlah itu memang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 14.100, tetapi tetap saja masih tercatat sebagai yang terburuk kedua di Eropa setelah Italia.

Mobil diesel modern menghasilkan polusi udara lebih beracun 10 kali pada kendaraan berat macam truk dan bus, menurut data Eropa dirilis pada bulan Januari.

Sehingga, akhir tahun lalu Komisi Eropa sudah mulai mengambil langkah hukum untuk menekan Inggris dan enam negara anggota Uni Eropa lainnya karena dinilai gagal bertindak untuk mengurangi emisi.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar