Foto Ilustrasi/Katalida/nusantaranews
Foto Ilustrasi/Katalida/nusantaranews
Foto Ilustrasi/Katalida/nusantaranews
Foto Ilustrasi/Katalida/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Seorang penulis buku berjudul Antropologi Sastra: Peranan Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif, Nyoman Kutha Ratna (2011) mempertanyakan tentang posisi sastra dalam dunia antropologi yang memiliki kemiripan dengan etnografi. Dirinya agak sedikit sangsi, benarkah karya Cliford Geertz Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa merupakan karya antropologi atau sebaliknya sebuah novel?

Tentu ingat bagaimana karya-karya sastra berupa novel sekelas Para Priyayi (Umar Kayam), Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), dan karya-karya terakhir Alisjahbana yang mengurai secara detail tentang sejarah. Hampir tak bisa kita bedakan mana etnografi dan mana novel. Perbedaan yang paling mendasar mungkin pada model pengelompokan fiksi dan non fiksi.

Namun, akankah menjamin jika etnografi tidak lepas dari unsur subjektivitas atau ‘campur tangan’ sang penulis? Lantas, bagaimana dengan novel-novel sejarah karya Pramoedya Ananta Toer yang disusun berdasarkan riset dan penelitian panjang dalam proses penyusunannya?

Disparitas semacam inilah yang kerap kali sulit diterima antara karya etnografi dengan novel. Meski novel sejarah tetap ditempatkan pada kategori fiksi, namun aspek-aspek ilmiah dengan menggunakan referensi/literatur tak bisa diabaikan begitu saja. Pasalnya, etnografi sendiripun juga disusun berdasarkan fakta-fakta yang berserakan, kemudian dibingkai secara naratif.

Dalam istilah Jawanya gothak gathik gathuk (diotak-atik hingga menemukan kecocokan). Dimensi-dimensi yang demikian inilah yang oleh Nyoman Kutha Ratna terus ditelisik secara mendalam. Perdebatan dua hal ini lahir karena merebaknya corak kajian monodisiplin keilmuan era kekinian yang semakin rigit.

Dalam konteks ini, sastra hanya dikaji melalui mindset imaji, menuju narasi kebudayaan berskala besar. Titik tekannya terletak pada peranan unsur-unsur kebudayaan dalam membidani lahirnya proses kreatif manusia. Abad modern telah menemukan dua periodenya dengan penemuan atas eksistensi manusia. Pertama, periode renaissance (abad 15-17) dan kedua, masa pencerahan (abad 18-19).

Sedangkan hari ini, yang disebut-sebut dengan zaman globalisasi gelombang ketiga, seolah perkembangan ilmu pengetahuan sudah benar-benar mencapai titik puncak. Sehingga manusia merasa berada pada akhir tujuan hidup.

Pada fase inilah, menurut Nyoman Kutha Ratna eksistensi sastra sebagai wujud kebudayaan menggeliat ke ruang publik. Diskursus karya sastra menjadi perbincangan yang tak ada habisnya. Namun, berbicara tentang sastra tak akan lepas dari model struktur sastra itu sendiri, yakni struktur intrinsik dan ekstrinsik.

Bagi sebagian orang, termasuk Nyoman Kutha menganggap sastra sebagai entitas dengan struktur otonom, mandiri, bahkan memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri (self-regulation). Dengan tegas dirinya ingin membeberkan kenyataan bahwa sastra mempunyai dimensi monodisiplin keilmuan tersendiri. Tak hanya itu, ia juga berusaha menyakinkan bahwa sastra adalah kebudayaan yang tidak sebatas imaji milik personal individu. Lebih spesifiknya, sastra merupakan ‘ujud’ dari keadaan manusia itu sendiri.

Penulis: Romandhon

Komentar