Connect
To Top

Pilkada Jakarta, Rizal Ramli: Demokrasi hanya Bermanfaat Jika Tak Ada Kecurangan

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim), Rizal Ramli, mengungkapkan bahwa sebuah demokrasi yang disalurkan melalui Pilkada haruslah berjalan jujur dan adil, tanpa kecurangan. Terlebih lagi Pilkada DKI Jakarta.

Hal tersebut Rizal Ramli sampaikan saat menyalurkan hak pilihnya dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta di TPS 043, Jalan Bangka VIII D, Jakarta.

“Pilkada Jakarta harus jujur, adil dan tidak ada kecurangan. Demokrasi hanya bermanfaat jika tanpa kecurangan,” ungkapnya kepada wartawan.

Rizal menegaskan, Jika kecurangan mewarnai Pilkada Jakarta, maka sejarah akan mencatatnya buruk. Tapi sebaliknya, jika berjalan dengan baik tanpa kecurangan, maka sejarah pun akan mencatatnya baik.

“Baik buruknya Pilkada Jakarta ini akan dicatat oleh sejarah dan akan menjadi kenangan buat warga Jakarta,” ujarnya.

Tokoh pergerakan pada zaman Organisasi Baru (Orba) ini juga berharap bahwa setelah Pilkada, warga Jakarta bisa kembali bersatu melaksanakan kehidupan sosial tanpa ada pertikaian maupun pertengkaran.

Sebagai wujud kecintaannya kepada Jakarta, lanjut Rizal, jauh-jauh hari sebelum pencoblosan hari ini, dirinya turun ke lapangan untuk meredam suasana politik yang begitu panas.

“Saya ikut berjamaah di Mesjid Lautze dan berdialog dengan warga disana agar tak terbawa suasana politik yang begitu panas,” katanya.

Tak hanya itu, Rizal menuturkan, pada detik-detik jelang pencoblosan, dirinya mengaku melakukan silaturahmi dengan Ketua Umum PP Muhamadiyah. Di mata Rizal, pemilihan gubernur DKI Jakarta berpotensi menciptakan instabilitas sosial dan mengganggu kerukunan antar umat beragama karena dilaksanakan bersamaan dengan proses persidangan kasus penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pada pertemuan tersebut, Rizal pun mengingatkan, jangan sampai bangsa ini diadu domba dan saling dibenturkan seperti yang sekarang ini dirasakan, yaitu antara kelompok santri yang dibenturkan dengan kelompok abangan, serta minoritas yang dibenturkan dengan kelompok mayoritas, juga antara kelompok suku tertentu dan umat agama tertentu.

Reporter: Rudi Niwarta

Komentar