Energi terbarukan dengan memanfaatkan sinar matahari dan angin (udara). foto via climates
Energi terbarukan dengan memanfaatkan sinar matahari dan angin (udara). foto via climates

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Energi Baru Terbarukan atau disebut EBT terus digalakkan di berbagai negara. Kabar terbaru datang dari negara pengekspor minyak terbesar di dunia yakni Arab Saudi.

Kantor berita AFP mengabarkan bahwa Arab Saudi mengambil langkah pertama untuk menghasilkan 9,5 gigawatt energi dari surya, angin dan sumber energi terbarukan lainnya, Senin (20/2/2017) waktu setempat. Bahkan, Arab Saudi juga mengundang perusahaan lokal dan internasional untuk mengikuti penawaran lelang dua proyek energi terbarukan.

Kementerian Energi Arab Saudi memberi keterangan, salah satunya proyek pembangkit 300 megawatt energi surya yang akan dibangun di Provinsi Al-Jouf di bagian utara kerajaan. Proyek keduanya adalah pembangunan pembangkit energi angin 400 megawatt di Tabuk, Saudi barat laut.

Dalam keterangannya juga disebutkan jika, hingga Maret perusahaan-perusahaan mesti menyampaikan dokumen penawaran pra-kualifikasi dan mereka yang lolos akan diumumkan pada 10 April. Sementara proposal resmi bisa dipresentasikan sampai Juli.

Namun demikian, Pemerintah memperkirakan puncak permintaan energi Arab Saudi akan melebihi 120 gigawatt pada 2032.

Pada hakekatnya, semua listrik di kerajaan tersebut berasal dari minyak mentah, minyak murni atau gas alam. Namun, sebagai bagian dari rencana reformasi ekonomi Visi 2030 untuk menyapih Arab Saudi dari minyak, mereka menargetkan menghasilkan 9,5 gigawatt energi terbarukan pada 2023.

“Ini menandai titik awal dari program pengerahan energi terbarukan jangka panjang dan berkelanjutan di Arab Saudi,” kata Khaled al-Falih, Menteri Energi, Industri dan Sumber Daya Mineral, dalam satu pernyataan.

Dia mengatakan ini tidak hanya akan meragamkan bauran energi kerajaan namun juga akan menjadi katalisator pembangunan ekonomi. Dan untuk mencapai target 9,5 gigawatt saja akan membutuhkan biaya antara 30 miliar dolar AS dan 50 miliar dolar AS, kata Falih bulan lalu. (muara/rsk)

Editor: Sulaiman

Komentar