Connect
To Top

Persaingan Kucuran Dana Untuk Promosi Wahabisme dan Komunisme

NUSANTARANEWS.CO – Wahabisme dan komunisme merupakan dua kelompok ideologi yang saat ini tengah banyak menjadi sorotan publik dunia. Ini menyusul gerakan dua paham tersebut yang secara massif melakukan ‘eksodus’ besar-besaran ke berbagai belahan dunia.

Dalam konteksi ini, negara Arab yang menjadi rumah ideologi wahabisme tinggal dan beranak pinak telah mengucurkan dana hingga 100 milyar Dollar AS. Dalam laporan salah satu media ternama Jerman Deutsche Welle menjelaskan, dengan sokongan dana melimpah dari pemerintah Saudi Arabia, wahabisme mempromosikan ideologinya ke seluruh dunia.

Kucuran dana besar untuk promosi ini sukses merangkul banyak umat muslim secara ‘senyap’ di berbagai negara termasuk Indonesia. Bahkan di Eropa seperti Francis dan Jerman sendiri, ideologi ini cukup tumbuh subur.

Sehingga tidak berlebihan, sejak tahun 2013 silam parlemen Eropa mewanti-wanti terhadap paham ini. Pasalnya paham wahabisme kerap melahirkan pandangan radikal dan berujung pada tindakan terorisme. Ini tak lepas dengan prinsip mereka yang selalu mengkampanyekan tentang pemurnian Islam. Bentuknya cenderung eksklusif dan intoleran terhadap ajaran lain.

Sementara itu, ideologi komunisme yang telah dianggap bangkrut seiring runtuhnya Tembok Berlin, bubarnya Uni Sovyet serta Pakta Warsawa berhasil bangkit dengan model gaya barunya. Diklaim sebagai ideologi gagal, pasca kehancuran Uni Soviet (Rusia), paham komunisme perlahan ditinggalkan banyak orang. Namun seiring perjalanan waktu Komunisme terus membangun kekuatan baru dan melakukan kampanye senyap untuk mendulang massa di seluruh dunia. Daratan Afrika saat ini adalah menjadi salah satu target incaran paham ini dengan modus penguasaan ekonomi (baca: eksodus Cina ke Afrika).

Dalam keterangan Deutsche Welle, membongkar temuan besar terkait kucuran dana yang telah digelontorkan pemerintah Rusia (Uni Sovyet) untuk mengkampanyekan kembali paham komunisme gaya baru ke belahan dunia. Uniknya paham ini tak begitu menggebu-gebu layaknya wahabisme di Timur Tengah. Komunisme cenderung lebih tertutup namun massif.

Sedangkan kucuran dana untuk propaganda Komunisme, pemerintah Rusia telah menghabiskan dana sebesar 7 milyar Dollar AS selama 70 tahun. Itu artinya, sekalipun kampanye komunisme tetap dilakukan dibelahan dunia, namun negara-negara tempat paham ini tumbuh seperti di Rusia dan China lebih mementingkan penguasaan sektor ekonomi global. Tidak terfokus pada propaganda paham semata.

Ideologi berlambang palu arit ini secara massif membangun poros kekuatan baru dalam menghadapi arus menuju globalisasi gelombang ketiga. Mereka mulai lihai berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.

Satu persatu sektor ekonomi ia sisir dan tentunya dengan tetap membisikkan pahamnya ke seluruh belahan dunia. Sebuah kenyataan, bahwa usai runtuhnya Tembok Berlin, komunisme lebih memilih tak lantang mendengungkan ideologinya, karena dalam praksisnya mereka sadar bahwa capaian yang diperoleh pada kenyataannya tak berbanding lurus dengan cita-cita dari paham tersebut.

Untuk itu, kecenderungan negara-negara komunis saat ini lebih memfokuskan diri pada penguasaan disektor ekonomi global. Dengan kata lain, mereka realistis ketika rapuh di sektor penguasaan ekonomi, ideologi pun tak bergeming. Wajar jika kemudian Vladimir Putin lebih menekankan ekpsor migas, penjualan senjata dan berebut hegemoni kekuatan global.

Begitu juga dengan embahnya komunisme di Asia, yakni Cina menyadari bahwa ekonomi lebih penting, sekalipun ideologi komunisme tetap menjadi misi utama. Petinggi Partai Komunis di Beijing lebih panik saat ekspor anjlok dan konjungktur turun, ketimbang saat Kongres Rakyat macet. Karena komunisme gaya baru telah mengerti betul bahwa siapa yang mampu mengusai ekonomi global saat ini, maka ia akan digdaya. Secara otomatis mudah baginya kelak untuk mempromosikan paham mereka ke seluruh penjuru dunia.

Penulis: Romandhon

Komentar