NUSANTARANEWS.CO – Kepala Bidang Layanan Koleksi Umum Pusat Jasa dan Informasi Perpustakaan Nasional Agus Sutoyo membantah masyarakat Indonesia minat bacanya rendah. Menurutnya, tidak ada ukuran yang tepat untuk menyimpulkan pernyataan tersebut.

Menurutnya, wajar bila banyak perpustakaan yang kosong. Sebab, perpustakaan bukan mal atau toko buku yang biasa dikunjungi orang setiap hari. Karenanya, Agus, mendorong agar kedepannya perpustakaan bisa menjadi tempat rekreasi umum.

“Jadi jangan dijadikan kaku, coba ciptakan meeting point di perpus sebagai lokasi janjian yang intelek, kata Agus kepada nusantaranews.co, Selasa (6/9).

Dilihat dari indeks kunjungan, setiap hari perpusnas melayani 200 pengunjung. Mereka minimal berpendidikan SMA kelas 12. “Karena buku-buku kita untuk riset,” katanya.

Terkait dengan hari aksara, Perpusnas sangat mendukung keberaksaraan masyarakat Indonesia. Bahkan, dukungan itu sudah sejak sebelum Belanda datang. Namun, berapa jumlah yang buta huruf, Agus tidak mengetahui secara pasti.

“Karena itu tugas Kemendikbud,” katanya.

Bentuk dukungan nyata perpusnas untuk memberantas buta huruf adalah penyediaan pusteli (perpustakaan elektronik keliling). Kemudian, e-book dan intekoneksi antar perpustakaan di Indonesia, sehingga memudahkan seseorang mencari buku yang dicari.

“Misalnya, dia mencari bukunya dari Jakarta, tapi buku itu ada di Semarang, itu bisa dilacak dari sistem tersebut,” pungkasnya.(Rafif)

 

 

Komentar