Show Me The Way To Go Home by Cain Marko. Foto: Dok. cainmarko.bandcamp.com
Show Me The Way To Go Home by Cain Marko. Foto: Dok. cainmarko.bandcamp.com

Perjalanan Pulang

 

Pada garis dan lekukan tubuhmu

Runcing mata gelapmu tertancap

Bercak merah kecupan pun meriap

Dalam helai biru daun rambutmu

 

Di lembaran cokelat janur madah

Langsat lengan bulan pun rebah

Bergantung pada lengkung pelepah

Ranting dan daun runduk ke tanah

 

Kuderas dengkuran bukit kelabu

Di atas asahan malam jejak saudara serabu

Berlapis lempengan kapur ranggas berdebu

Berlapis lembaran riwayat sedarah seibu

 

Kusesap bekas merah kecupan

ujung rotan, garis peta kelana

di punggung kenyalmu, juga nasibmu

Serbuk kebahagiaan ditaburkan

Seperti dongeng, tak selesai dikisahkan

 

Aduhai, wangi rambutmu berjumbai

Dalam belaian ajaib tembakau

Sebelum sangsai kecupan kemarau

Hari-harimu penuh gelak tawa, juga lagu sendu

 

Basahi ranjang perambah dari belahan sejarah

Bergegas seusai peras payudaramu hingga madu,

Maduramu, tandas habis direguk:

Nira pun tandas dalam balutan renik

sentir lelaki seberang.

 

Manis wajahmu tinggal seujung cangkul,

molek dan lekukan tubuhmu setambun bakul

Di ambang senja peniti pematang

Bercocok syahadat, menanam Iman

Di bentangan tegalan sisa perahan

 

“Siapa dia?”

Angin menderai ke batas sangsai

Mengiring lunglai keheningan

 

Akulah pendatang dari dunia ketiga

Mencarimu dari gemerincing kuping lotreng

Bayang mata celuritmu membias

Di atas punggung dan langsing sapi betinamu,

Oleh serungking penderas madah

 

“Mereka mengajakku ke panggung tak berpancang?”

Surau beku, rimbun beringin berserek

 

Akulah pendatang dari seberang, mengenalmu

saat berselempang jaring di pelabuhan Parindu

Abaikan pahatan ukiran Karduluk dalam pilumu

 

Kusepah jantung dan serpihan kelor

Tanahmu merepih abaikan sulur

Diabai badai hamburan kapur

Nanap pandangan jauh mengabur

 

“Engkaukah pengetuk kesunyianku?”

Kepingan cahaya fajar pecah menderai

Ke tangga tanah Pendalungan

anak-anakmu memanjat surai

 

Aku datang dengan dengan selembar daun pisang

Dari Karamian, gerbang anakmu menyeberangkan malang

Kini kujelang dengan pisang berbalur tebu

Dengan bundelan sarung merah kusam kelabu

 

“Oh, Merah Darah?”

 

Merah darah, hijau ilalang

Dalam lingkaran tanahmu digenggam

Sepah amarah, tinjau kepalang

Dalam barisan titahmu bersemayam

 

Kubakar kuning biji kepunyaanku cuma

Bersanding di atas hamparan batu api

Kubiarkan gending dari Pacinan dan Talangsiring menggema

Menghiburku: Paraban tak bertuan

Napasku semanis tebu di Pelabuhan Tua

Dengan ombak, dengan buih putih tulang

 

Sepur memanjang seperti ular

Berderak parau dari stasiun gusar

Ditegur sayang hati mekar

Seumur kerontang hari bersinar

 

Namaku Paraban, bermata api

Wajahku ayu berlulur celatong sapi

Lahir dalam lingkaran mata sepi

 

Ayahku Magma Larva diraja

 

Di nampan nasib aji bejana

Punggungku punggung

limbung pengunjung

Apiku api mata Alam Raya

Siap riapi gelap Madura

 

Bila tiba dalam dekapan malam

Kerinduan kulayarkan

Ke samudera cerita layar jukong

 

Kuacuh seluruh dekapan gelap

Kutimang sayang malang kujelang

Di bentangan fajar untung kudekap

 

Mata api, api mataku

Nyalang pandangi sumur kalbu

Kelam melintang, riuh kuselami

di mata air keheningan kuresapi

 

Tapi apa kiranya, Kekasih, menggigil

Dalam dekapan barisan aksara mungil

Sebaiknya singkap kelambu putihmu

Biarlah sejarah tak bias dipangku

 

Ibuku Mekasan berselimut kerinduan:

Berkonde Lancor, berterompah Iman

Bila kau sudi singgah sejenak, wahai Kekasihku rupawan

Selipkan celurit dalam lipatan manis Kesaksian

 

Di Gerbang Salam bintang kupetik

Bersama galah, madah dan madu

Biarpun perih mendesis di punggung waktu

Kurengkuh tubuhmu, aduhai, nasibmu parau beserpih

 

Ke udara hangat bahtera perjumpaan

Di lembaran jerami kadang sapi berkelindan

 

Dan, helai-helai layar perahu sobek berderai

Ke pangkalan tua hampir sekarat

Disesap asin harpan terlaknat

 

Tanjung dijunjung, Camplong dijelang

Teduh dikudung doamu Sampang

Terasa meresap jauh ke palung

Tegari batin rantau terkurung

 

Pada malam ketika aku memintal kegelisahan

Kususuri jenjang lehermu

Kini hambar di bibir. Bias di pandangan

Kurebahkan kerling mataku di tebing Payudan

Bersama dongeng cengeng rerumputan

Tentang keajaiban persilangan

sepasang kekasih buaian Sumenep Kraton

 

Kutebar garam-garam cintaku ke lautmu,

Meski kutahu burung kutilang tak tertangkap pandang

Tapi payang kerinduanku kepadamu, Madura, sayang

Kutebar, dan terus kudedah hingga petang

 

Maka dengan baju kusut dan belepotan

Kucari manis senyummu dengan hati luruh

Dingin napasmu yang tak hampir kupercaya :

Saat wangi tubuhmu menyeruak dari sabut sesaji

Menjalar ke sulur-sulur pohon rinduku.

 

Tangerang, Bandung, 2016

Mahwi Air Tawar
Mahwi Air Tawar

Mahwi Air Tawar, lahir di pesisir Sumenep, Madura, 28 Oktober 1983. Sejumlah cerpen dan puisinya dipublikasikan di Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Bali Post, Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Sajak, dan lain-lain. Cerpen dan puisinya juga termuat di sejumlah antologi bersama, di antaranya 3 Penyair Timur (2006, puisi), Herbarium (2006, puisi), Medan Puisi, Sampena the 1  International Poetry (2006, puisi), IBUMI: Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi (2008, puisi), Sepasang Bekicot Muda (2006, cerpen), dan Robingah, Cintailah Aku (2007, cerpen). Salah satu cerpennya yang berjudul Pulung terpilih sebagai cerpen terbaik dalam lomba yang digelar oleh STAIN Purwokerto dan terkumpul dalam buku  Rendezvouz di Tepi Serayu (2008-2009), Jalan Menikung ke Bukit Timah (TSI II, cerpen), Ujung Laut Pulau Marwah (TSI III, cerpen), Tuah Tara No Ate (TSI III, cerpen), Perayaan Kematian (2011, cerpen). Kumpulan cerpen pertamanya, Mata Blater (2010), mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta, 2011. Ia aktif mengelola komunitas sastra Poetika dan Kalèlès, Kelompok Kajian Seni Budaya Madura, di Yogyakarta. Buku cerpennya yang terbaru adalah Karapan Laut (2014), dan buku puisinya yang sudah terbit; “Taneyan”, “Lima Guru Kelana ke Lubuk Jiwa” dan “Tanah Air Puisi Air Tanah Puisi”. Sehari-hari ia bekerja sebagai editor Komodo Books.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar