Connect
To Top

Perang di Laut China Selatan Pecah, Indonesia Akan Alami Dua Dimensi Perang

nine-dash line/Foto: Dok. EnerGeoPolitics

nine-dash line/Foto: Dok. EnerGeoPolitics

NUSANTARANEWS.CO – Dosen Damai dan Resolusi Konflik (DRK) Universitas Pertahanan (Unhan) M. Dahrin La Ode mengingatkan bahwa jika lantaran nine-dash line (sembilan garis putus-putus) terjadi perang di Laut China Selatan. Indonesia secara bersamaan akan mengamalami dua dimensi perang.

“Kalau gara-gara nine-dash line terjadi perang di laut Cina Selatan. Maka itu akan ada dua dimensi perang di Indonesia. Di satu sisi melawan China sebagai negara, di sisi yang lain masyarakatnya melawan China-China di Indonesia ini. Jadi dua dimensi perang kita nanti itu,” ungkap Dahrin antisipatif kepada nusantaranews.co beberapa waktu lalu.

Baca : Dosen UNHAN Sebut Kedaulatan Berlaku Diskriminatif Terhadap Negara Lain

Dahrin menyampaikan, situasi Indonesia jika dilihat dari fenomena sosisal-politik yang terjadi deweasa ini dilainnya sedang tidak aman.

“Jadi kalau dilihat dari fenomena sosial politik dewasa ini, sebenarnya Indonesia sedang tidak aman. Hanya karena fisik kita tidak terganggu, yang terganggu hanya perasaan kita, seolah-olah tidak ada apa-apa. Dan mereka (China) menghindari benturan fisik. China tidak mau berbenturan secara fisik dengan Indonesia,” jelasnya.

Baca juga : Soal Erwinia chrysanthem, Dosen UNHAN: Serangan Bioterorisme Cina ke Indonesia

Menurut Dahrin hal tersbeut merupakan bagian dari grand desain Komunis China di Indonesia. Seperti yang termaktud dalam hasil penelitian terakhirnya, tentang “Peta Kekuatan Politik Etnisitas di Asia Timur” dengan studi kasus Jepang, Korsel (Korea Selatan), dan China, satu diantara temuan yang sangat menarik, bahwa China ternyata ingin merubah sistem dunia dengan sistem China.

“Selama ini sistem dunia ini dikelola dengan sistem Barat. Sekarang China ingin membangun sistem sendiri. Makanya China memulainya dengan nine-dash line itu di Laut China Selatan sebagai awal imperiumnya,” ungkap Dahrin lagi.

Lihat : 4800 Tentara China Masuk Indonesia, Dahrin La Ode: Terlalu Menyederhanakan Masalah

Untuk itu, kata dia, Indonesia diajak untuk bersama-sama berjuang membuat imperium awal China di Laut China Selatan. Namun pada akhirnya, Indonesia dijadikan di bawah kekuasaan China. Awalnya bersama-sama, kemudian menjadi imperium dunia.

“Itulah satu fenomema sosial politik Internasional di Indonesia yang sangat tidak menguntungkan kita (pribumi Indonesia). Dan Presiden Jokowi tidak segera melakukan sesuatu,” kata Dahrin. (Sulaiman)

Komentar